WeCreativez WhatsApp Support
Tim kami akan membantu anda. Silahkan tanyakan kepada kami.
Hi, ada yang bisa kami bantu ?
Month: February 2018

Month: February 2018

Kisah Inspiratif: Ummu Mahjan Sang Marbot Yang Dicintai Rasulullah

Harapanamalmulia.org-Banyak orang yang memandang sebelah mata terhadap pekerjaan seorang Marbot. Seseorang yang bekerja sebagai penanggung jawab kebersihan masjid ternyata memiliki keistimewaan di sisi Allah dan Rasul-Nya. Ketika Zaman Rasulullah, ada seorang wanita tua yang gemar membersihkan masjid Rasulullah atau yang sering disebut dengan Masjid Nabawi.

Wanita tua itu tidak pernah diceritakan dalam sejarah, bahkan dia bukan seseorang yang berjihad di medan perang atau seseorang yang kaya dan memberikan harta untuk Islam. Dia hanya seorang wanita tua renta, tidak memiliki anak dan keturunan, namun Rasul sangat menyayanginya. Dia bernama Ummu Mahjan.

Setiap hari yang dilakukan Ummu Mahjan adalah memastikan bahwa Masjid Nabawi ada dalam keadaan bersih. Setiap hari dia memungut daun-daun yang berjatuhan di halaman masjid dan menyapunya. Rupanya perbuatannya itu membuat Rasulullah memberikan perhatian kepada Ummu Mahjan.

Dia hanyalah seorang wanita tua yang berkulit legam, bahkan namanya tidak dikenal di kalangan sahabat, dia juga bukan seorang penghafal ribuan hadist, tapi perbuatannya justru membuatnya begitu Istimewa, dan perbuatan kecil itu bernilai besar di mata Rasulullah. Bahkan ketika Ummu Mahjan meninggal secara khusus Rasul mendoakan Ummu Mahjan.

Marbot Masjid

Ilustrasi diambil dari Republika.co.id

Ketika Ummu Mahjan meninggal, Rasulullah pernah menegur para sahabat karena tidak memberitahu perihal meninggalnya Ummu Mahjan. Begitu Istimewanya Ummu Mahjan, sehingga membuat Rasul menegur para sahabatnya.

Teguran Nabi tersebut dikisahkan dalam sebuah hadist yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah. Bahwasannya ada seorang wanita berkulit hitam yang biasa membersihkan masjid, suatu ketika Rasul tidak melihat wanita tersebut dan dia bertanya kepada para sahabat, yang kemudian para sahabat menjawab, “Ia telah wafat Ya Rasulullah”
Rasulullah kemudian bersabda “Tunjukkan kepadaku dimana kuburannya” lalu para sahabat bergegas menunjukkan kuburannya kepada Rasulullah, setelah sampai di makam lalu Rasul mendoakan Ummu Mahjan.

Begitulah Ummu Mahjan, meski sudah memasuki usia yang tidak lagi muda, beliau tetap menyadari bahwa dirinya masih memiliki kewajiban terhadap akidahnya dan masyarakat Islam, karena sadar dengan keadaan dan kondisinya yang tidak bisa ikut dalam berperang atau menghafal hadist, beliau pun melakukan apa yang bisa beliau lakukan, meski hanya membersihkan masjid. (Ranny Fitriani/Amal mulia)

Amal Mulia Berkomitmen Bantu Pusat Hafalan Quran

Harapanamalmulia.org-Alquran merupakan sumber ilmu dan petunjuk bagi manusia, maka siapa pun yang mempelajari dan menghafalkannya akan mendapatkan berkah yang luar biasa di dunia dan di akhirat. Terlebih jika seseorang mampu menghafal seluruh isi dalam Alqurabn, di akhirat kelak Allah akan mengangkat derajatnya dan memberikan jubah kemuliaan kepada orangtuanya. Masya Allah.

Selain itu, berkahnya seseorang yang fokus belajar dan menghafal Alquran, maka Alquran akan datang kepadanya di hari akhirat sebagai syafaat kepadanya.

“Bacalah Alquran karena dia akan datang sebagai syafaat pada hari kiamat bagi Shahibul Quran “ ( HR. Muslim 804 )

Bahkan Nabi Muhammad SAW menyebutkan dalam haditsnya bahwa sebaik-baiknya manusia adalah yang mempelajari dan mengamalkan Alquran.

“Sebaik-baik kalian adalah yang mempelajari Alquran dan mengajarkannya” ( HR. Bukhori ).

Allah Meninggikan Derajat Para Penghafal Al Qur’an

Sudah bukan rahasia lagi Palestina telah melahirkan banyak penghafal Alquran, tentu hal itu tidak akan terjadi tanpa sebuah tradisi dan kebiasaan masyarakatnya, bahkan candaan anak-anak Palestina adalah seputar berapa banyak teman-teman hafalan Qurannya. contoh candaan mereka kepada temannya yang hafalannya di bawah mereka “nanti pas di surga, surga aku lebih besar dan bagus ya dari kamu dan nanti aku dadah-dadah deh sama kamu haha”. Bukan itu saja, di Palestina anak yang tidak menghafal Alquran biasanya tidak mendapatkan teman. Wah, Masya Allah…

Jika seperti itu tradisinya, tentu saja itu akan memacu seseorang untuk semakin cinta terhadap Alquran dan semakin semangat untuk menghafal Alquran. Di Palestina derajat seorang penghafal lebih tinggi dari pada orang yang tidak hafal Alquran. Bukan hanya di Palestina saja, seperti di Indonesia juga orang-orang yang mempelajari Alquran dan menghafal Alquran selalu memiliki tempat istimewa. Bahkan saking diistimewakannya beberapa perguruan tinggi di Indonesia memberikan undangan khusus masuk perguruan tinggi tanpa tes bagi para penghafal Alquran. Begitu istimewanya orang-orang yang hafal Alquran seperti dalam hadits Nabi

“Sesungguhnya Allah mengangkat derajat beberapa kaum dengan Alquran dan menghinakan yang lain dengannya” (HR. Muslim).

Komitmen Amal Mulia

Amal mulia memiliki harapan untuk bisa mencetak generasi Qurani. Generasi orang-orang yang cinta dengan Alquran, sehingga generasi itu bisa mengangkat kaumnya. Melalui program pendidikan untuk para penghafal Alquran, bekerja sama dengan Yayasan lembaga kemanusiaan Hayat Yolu Turki dan Darul Qur’an Was Sunnah ( DQWS ) berkomitmen untuk memberikan paket Alquran bagi para pelajar yang ada di 50 lembaga Quran yang ada di Gaza, saat ini terdapat 5.000 siswa dengan 250 Hafidz Quran yang tengah membutuhkan Paket Al-Quran. Melalui program ini Amal Mulia berkomitmen untuk terus membantu pendidikan dan memfasilitasi berupa paket Alquran untuk para penghafal Alquran. (Ranny Fitriani/Amal Mulia)

Amnesti Internasional: HAM Kian Memburuk di Seluruh Dunia

Harapanamalmulia.org-Dewasa ini dunia kian ambruk. Hak asasi manusia (HAM) seolah semakin menipis di dunia. Kekerasan terus terjadi di berbagai negara. Amnesti internasional melaporkan sebanyak 159 negara mengklaim bahwa banyak pemimpin dunia yang seolah menutup mata terhadap pelanggaran HAM yang terjadi di negaranya.

Pelanggaran HAM semakin meningkat. Kekerasan dalam sebuah negara bukan satu-satunya stimulus terjadinya pelanggran HAM. Di negara-negara yang sedang berkembang, misalnya potensi pelanggaran HAM pun bisa terjadi, hal itu bisa dipicu oleh pekerjaan yang meningkat atau tingkat pengangguran yang terus meningkat, sehingga menyebabkan terjadinya tindakan kriminal dan kekerasan.

Di negara-negara berkembang, hak asasi pekerja terus dipertimbangkan, masyarakat perdesaan mengalami perampasan tanah dan penjualan tanah secara paksa. kondisi kerja yang buruk, termasuk lemahnya penerapan standar kesehatan dan keselamatan membahayakan hidup jutaan pekerja, kurangnya kesadaran para pekerja yang tidak professional dan tidak terampil, lemahnya pemerintahan dan tingginya angka korupsi dapat menyebabkan pelanggaran HAM. Seperti kasus yang terjadi di Bangladesh ketika runtuhnya pabrik Rana Plaza yang menyebankan kematian lebih dari 1.100 pekerja garmen.

Di seluruh Eropa, adanya penolakan dan benteng terhadap terhadap pengungsi, imigran dan kaum minoritas agama dan membatasi hak atas nama keamanan, yang sebetulnya itu tidak profesional. Tapi, pusat tragedi kemanusiaan adalah di Myanmar di Asia Tenggara. Sebuah negara didorong untuk membenci dan takut minoritas, yang berpuncak pada pembersihan etnis Muslim Rohingya.

Rohingya melarikan diri dari negaranya sendiri dan kabur ke Bangladesh perkiraan jumlah orang yang mengungsi lebih dari 800.000 orang. Namun, banyak pengungsi hidup dalam keadaan kumuh, gizi buruk meningkat dan perlindungan yang tidak memadai bagi kaum perempuan untuk terhindar dari kekerasan seksual dan perdagangan.

Sedangkan apa yang terjadi di Sudan, Suriah, dan Palestina yang tidak pernah surut terhadap konflik politik, amnesti mengecam kurangnya kepemimpinan mengenai HAM.

Perlunya mengangkat isu kemanusiaan sebagai fenomena global, merupakan langkah untuk menemukan pengaruh gerakan sosial dan tentunya perlu adanya gerakan protes yang terus meningkat secara global, merupakan upaya menghilangkan kekerasan dan pelanggaran HAM yang kian terjadi di dunia. (Ranny Fitriani/Amal Mulia)

Sulitnya Mendapatkan Pendidikan Di Gaza

Harapanamalmulia.org-Masyarakat Indonesia harus bersyukur, karena begitu mudahnya untuk mendapatkan pendidikan dengan nyaman dan tenang. Bahkan, jika ingin memilih sekolah pun mudah, tanpa harus berpikir mengenai kebebasan mendapatkan pendidikan.

Berbeda dengan masyarakat Gaza, yang kian sulit untuk memperoleh pendidikan. Padahal, pendidikan adalah hal yang sangat penting untuk dimiliki, karena tanpa ilmu manusia tidak akan tahu banyak hal. Rasulullah saja bersabda:“Barang siapa yang menghendaki kehidupan dunia, maka wajib baginya memiliki ilmu dan barang siapa yang menghendaki kehidupan akhirat maka wajib baginya memiliki ilmu, dan barang siapa yang menghendaki keduanya maka wajib baginya memiliki ilmu” ( HR. Tirmidzi ).

Karena pentingnya menuntut ilmu, bahkan cukup banyak sabda Rasul yang menganjurkan bahkan mewajibkan umat Islam untuk menuntut ilmu, dalam hadis lainnya Rasul bersabda:“Barang siapa yang keluar untuk mencari ilmu maka dia berada di jalan Allah hingga Ia pulang” (HR. Tirmidzi).

Menuntut ilmu sangat penting, bahkan pahalanya sama dengan berjihad di jalan Allah. Menurut hadis di atas, jika seseorang pergi untuk mencari Ilmu dan kemudian dia meninggal di tengah jalan ketika dia hendak menuju tempat untuk mencari ilmu tersebut, maka dia mati dalam keadaan syahid.

Namun, untuk warga Gaza mencari ilmu dengan nyaman dan tenang merupakan sesuatu yang sulit untuk didapatkan. Israel telah banyak mengahancurkan bangunan-bangunan sekolah dan universitas, sehingga rakyat Palestina akan kesulitan untuk mencari ilmu. Satu-satunya cara supaya bisa sekolah dengan nyaman adalah dengan keluar dari Palestina dan sekolah di luar negri, tapi itu pun tidak mudah, mengingat Palestina saat ini sedang berada dalam kondisi diblokade.

Tidak ada universitas yang dibangun di Gaza, Israel menghancurkan satu-persatu universitas di Gaza dan benar-benar ingin membuat rakyat Palestina bodoh. Seiring berjalannya waktu, dengan kebaikan hati para donator dibangunlah sebuah universitas swasta bagi rakyat Palestina, yaitu Islamic University of Gaza. Dan itu adalah satu-satunya universitas yang ada di Gaza. Ini merupakan universitas swasta, bukan pemerintah, namun masih banyak kendala di bidang pendidikan pendidikan terutama soal biaya.

Melihat keadaan yang sangat memprihatinkan bagi masyarakat Gaza untuk bisa mendapatkan pendidikan, maka Amal Mulia memiliki program pendidikan yang bertujuan untuk membantu rakyat Palestina untuk mendapatkan pendidikan yang layak dan baik. Amal Mulia menyiapkan beasiswa bagi mahasiswa yang kurang mampu. Bukan hanya itu saja, demi pedulinya kepada Alquran dan supaya Alquran semakin dicintai, Amal Mulia pun memiliki program untuk meningkatkan generasi cinta Alquran dengan cara bagi-bagi Quran gratis bagi para penghafal dan yang sedang menghafal Alquran.

Penyaluran Donasi Amal Mulia untuk Pendidikan Palestina

Salah satu Mitra dalam program donasi Amal Mulia Quran adalah Darul Quran Was Sunnah (DQWS)[Tahfiz Qur’an bersanad]. 9 Halaqah Darul Quran Was Sunnah di Gaza yang telah menerima kebaikan para donatur Amal Mulia antara lain:

  • Abed El Khaleq
  • Alaa Shafiq Al Farra
  • Asem El Shiekh Khaleel
  • Mumen A Zreen
  • Saqer El Harazeen
  • Seham Alnuqla
  • Shadi F El Ashram
  • Wissam Jawad Al dreemli
  • Zainab Mahmoud Eid Al Hashash

Tidak hanya bekerja sama dengan Darul Quran Was Sunnah, Amal Mulia juga menjalin kerja sama dengan lembaga kemanusiaan Hayat Yolu Turki untuk memberikan pelayanan terbaik bagi para penghafal Alquran di Palestina.

Komitmen Amal Mulia membantu Pusat Hafalan di Gaza (Bantuan Pendidikan Qur’an Amal Mulia) bertujuan untuk menciptakan para penghafal Quran di Gaza. Saat ini ada 5.000 siswa dan 250 hafiz Quran di 50 lembaga Quran di Gaza yang membutuhkan bantuan Paket Qur’an. (Ranny Fitriani/Amal Mulia)

4 Hari Hitung Koin untuk Palestina, Donasi Sekolah Rabbani Terus Meningkat

Harapanamalmulia.org – Butuh waktu empat hari bagi Widyastuti dan sejumlah guru lainnya menghitung ribuan keping koin. Belum lagi uang lembaran yang jumlahnya mencapai puluhan juta rupiah. Dana tersebut dihasilkan dari uang jajan siswa Sekolah Rabbani setiap harinya yang dimasukkan ke dalam kencleng. Uniknya kencleng itu hanya boleh dibuka setelah genap satu tahun untuk kemudian didonasikan.

Donasi Rabbani

Ketua Pelaksana Palestine Day 2018 Sekolah Rabbani, Widyastuti, secara simbolis menyerahkan uang donasi kepada staf Kasih Palestina (mitra Amal Mulia), Senin (26/2/2018). Foto: Soni Indrawan

“Empat hari saya dan teman-teman menghitung uang. Jumlahnya juga terus bertambah setelah diumumkan di acara Palestine Day 2018 dua hari kemarin. Saat acara itu terkumpul Rp 36 juta, nah sekarang hingga serah-terima dana ini bertambah jadi Rp 41 juta lebih,” kata Widyastuti, Ketua Pelaksana Palestine Day 2018 Sekolah Rabbani, kepada Harapanamalmulia.org, Senin (26/2).

Selain uang jajan, lanjut Widyastuti, donasi ini juga dihasilkan dari penjualan produk atau makanan kreativitas anak-anak siswa Sekolah Rabbani. Jumlahnya pun meningkat lebih dari dua kali lipat dibandingkan tahun sebelumnya yang hanya Rp18 juta. Hal ini juga seiring meningkatnya kesadaran orangtua siswa tentang pentingnya menolong korban perang di Palestina.

Donasi Rabbani

“Dana ini kami donorkan untuk membantu saudara-saudara kita di Palestina. Kami titipkan dana ini ke lembaga kemanusiaan Kasih Palestina (mitra Amal Mulia). Semoga berkah dan bisa menginspirasi yang lainnya untuk saling menolong sesama,” tuturnya.

Menurut Widyastuti, selain di Bandung kegiatan serupa juga digelar di Sekolah Rabbani Purwakarta yang dikemas dalam event bertajuk Palestine Day 2018. Diharapkan sekolah-sekolah yang lain pun mengikuti jejak yang sudah ada.

Sekadar laporan, total dana yang didonasikan Sekolah Rabbani mencapai Rp 41,4 juta dengan rincian nominal Rp 100.000 sebanyak 200 lembar, Rp 50.000 = 24 lembar, Rp 20.000 = 72 lembar, Rp 10.000 = 207 lembar, Rp 5.000 = 411 lembar, Rp 2.000 = 782 lembar, dan Rp 1.000 = 57 lembar. Selain itu ditambah 1 riyal dan 10 bath. (SP/harapanamalmulia.org)