WeCreativez WhatsApp Support
Tim kami akan membantu anda. Silahkan tanyakan kepada kami.
Hi, ada yang bisa kami bantu ?
Month: May 2018

Month: May 2018

9 Tips Maksimalkan Sedekah Dipenghujung Ramadan

Amal Mulia-Sedekah itu sebenarnya sangat mudah dan sederhana sayangnya kita sering menunda-nunda, dan bisa jadi kita tidak terbiasa bersedekah maka terasa sulit.

Dalam buku The habbit karangan Ust. Felix Siauw, untuk dapat membuat suatu aktifitas menjadi suatu kebiasaan, dibutuhan waktu selama tiga puluh hari untuk mengulang-ulangi aktifitas tersebut. Dan untuk membuatnya permanen, dibutuhkan waktu sembilan puluh hari dengan mengulangi aktifitas yang sama. Sebagaimana pepatah mengatakan, “Seribu dimulai dari satu”. Mulailah bersedekah walaupun dengan cara yang sederhana.

Ada beberapa cara sederhana agar kita bisa memaksimalkan kesempatan sedekah di bulan Ramadan:

1. Niatkan dengan sepenuh hati untuk bersedekah.

Niat biasanya akan bertambah apabila kita mengetahui apa saja manfaat dari apa yang kita niatkan tersebut.

2. Sediakan kotak amal dan simpan di tempat yang mudah dijangkau.

Kotak amal yang dimaksud tidak harus selalu berwujud sebuah kotak, bisa menggunakan kaleng biskuit, celengan, atau dompet khusus. Lalu simpan di tempat yang mudah dijangkau, contoh kamar, ruang makan, dapur (bisa bersedekah dari sisa membeli garam), atau ruang tamu.

3. Targertkan besaran rupiah yang akan di sedekahkan.

Misalkan target sedekah Rp.1000,- perhari, lalu simpan di tempat khusus. Jika hari ini lupa tidak bersedekah, maka besok wajib bersedekah minimal Rp.2000,-. Nanti setiap seminggu atau sebulan sekali di akhir Ramadhan, keluarkan sedekah tersebut dan berikan pada yang membutuhkan.

4. Hindari beli takjil yang berlebihan.

Ketika kita  puasa, seharusnya pengeluaran jadi lebih sedikit karena terbatasnya jam makan, tapi tidak jarang yang pengeluarannya justru semakin besar. Salah satu penyebabnya bisa jadi karena terlalu banyak membeli makanan untuk berbuka terutama takjil. Padahal sebenarnya, ketika sudah datang waktu berbuka, kita sudah dibuat kenyang oleh satu atau dua menu takjil. Jadi, belilah takjil secukupnya dan alokasikan “dana takjil” yang berlebih itu untuk di sedekahkan.

5. Sedekah Receh.

Saat setiap membeli bensin atau parkir, bila ada kembalian uang receh tidak ada salahnya kalau kita tidak mengambil kembalian itu.

6. Perbanyaklah mengucapkan istigfar dan kalimah thoyyibah.

“Bahwasanya diciptakan dari setiap anak cucu Adam 360 persendian. Maka barang siapa yang bertakbir, bertahmid, bertasbih, menyingkirkan batu, duri atau tulang dari jalan, amar ma’ruf nahi munkar, maka akan dihitung sejumlah 360 persendian. Dan ia akan berjalan pada hari itu, sedangkan ia dibebaskan dari api neraka” (H.R Muslim)

7. Bersedekah dengan memberi makanan berbuka pada orang yang berpuasa.

Dalam hadits  disebutkan bahwa siapa yang memberi makan orang yang berpuasa, maka baginya pahala seperti orang yang berpuasa (HR. Tirmidzi). Sisihkanlah sebagian  makanan yang kita buat atau beli untuk berbuka supaya bisa diberikan kepada tetangga atau teman yang membutuhkan.

8. Pastikan sedekah materi yang diberikan, tepat sasaran.

Sedekah bisa langsung diberikan, atau juga dititipkan kepada lembaga yang terpercaya.

9. Sedekah itu mudah

Banyak aktifiktas yang biasa kita lakukan tetapi bernilai sedekah di mata Allah SWT. Contoh: tersenyum, memberi makan binatang, sedekah ilmu contohnya dengan memberi tahu adik cara menyimpul tari sepatu, atau sekedar membagikan tips ini di sosial mediamu.

500 Anak Yatim Bukber dengan Amal Mulia-Rapiya

BANDUNG-Untuk yang kesekian kalinya Yayasan Harapan Amal Mulia (biasa disebut Amal Mulia) menggandeng Relawan Pencinta Anak Yatim dan Dhuafa (Rapiya) kembali menggelar acara memuliakan anak yatim di bulan suci ini.

Menurut Chief Marketing Officer Amal Mulia Khadirun Agus Susanto, buka bersama dengan tema “Sehari Bersama Anak Yatim dan Dhuafa” ini akan digelar di Masjid Al-Hasan, Kompleks Bumi Panyawangan Cileunyi, Senin (4/6/2018) nanti.

“Sedikitnya ada 500 anak yatim yang kami undang untuk bukber. Mereka semua berasal dari Kabupaten Bandung,” ungkap Agus.

Menurut Agus, acara ini akan dihadiri oleh para donatur juga oleh Wakil Bupati Bandung Gun Gun Gunawan. Memberikan santunan kepada anak yatim memang  menjadi program rutin Amal Mulia dengan Rapiya. “Tujuannya memuliakan anak yatim. Semoga melalui program ini bisa menambah banyak anak-anak yatim yang kita muliakan dan angkat derajatnya,” ucap Agus.

Sementara itu, Presiden Rapiya Andika Hadi Yudha mengatakan, kerja sama dengan Amal Mulia ini sudah dilakukan beberapa kali. Salah satu program kedua lembaga ini adalah Kado Anak Yatim. Pihaknya berharap program ini berjalan lancar dan semakin banyak lembaga atau pihak lain yang ikut bergabung untuk memuliakan anak yatim.

“Seperti bunyi salah satu hadis Rasulullah SAW yang menyebutkan bahwa Rasululllah bersama orang-orang yang mencintai anak yatim kedudukannya seperti jari tengah dan jari telunjuk karena saking dekatnya. Bagi kami hadis itu selalu menjadi inspirasi kami dari Rapiya dan menjadi moto untuk selalu memuliakan anak yatim,” tutur Andika. (slamet parsono/amalmulia)

Tersayat Saksikan Penderitaan Rakyat Palestina, Nenek 64 Tahun Donasi Semua Celengannya

LAMPUNG-Pagi masih gelap. Matahari belum pula tampak. Di sudut Masjid Nurul Iman Kalianda, Lampung Selatan, seorang nenek berderai air mata saat menyaksikan video penderitaan rakyat Palestina. Hati Nur Janah tercabik melihat anak-anak dan perempuan yang tak berdosa harus meregang nyawa akibat bom dan senapan tentara Israel.

Sesekali tangan nenek 64 tahun ini mengusap air mata yang terus mengalir di pipi. Lalu mendekatlah Nur Janah ke depan mimbar masjid. Disaksikan jamaah lain, nenek pun memberikan semua celengan hasil menabungnya selama bertahun-tahun untuk disumbangkan kepada rakyat Palestina.

“Saya insya Allah ikhlas memberikan semua isi celengan ini untuk saudara-saudara kita di sana. Mereka adalah para syuhada Allah. Dan saya ingin menjadi syuhada Allah dengan cara apa saja yang bisa saya lakukan,” ungkap Nur Janah usai memberikan celengannya kepada syekh usai salat subuh dalam kajian roadshow ulama Palestina yang diisi oleh Syekh Ahmad Yasin (salah satu imam masjid di Gaza), Kamis (31/5/2018).

Apa yang dilakukan Nur Janah ternyata juga diikuti jamaah lainnya. Mereka ikut memberikan sumbangan untuk rakyat Palestina meski tidak harus menyerahkan semua tabungannya. Bahkan tidak sedikit di antara jamaah yang berkomitmen dan ditulis di secarik kertas akan memberikan donasi.

“Alhamdulillah banyak jamaah antusias dalam kegiatan roadshow ulama di masjid ini (Nurul Iman Kalianda). Semoga di masjid-masjid lain di Lampung roadshow ini juga bisa lebih akbar,” ungkap Cucu dari Al-Quds Volunter International (AVI) Lampung.

Menurut Cucu, tim rombongan roadshow ulama Palestina mendapatkan jadwal untuk mengisi kegiatan di Masjid Nurul Iman dimulai dari isya, tarawih berjamaah yg diimami langsung oleh Syekh Ahmad Yasin yang juga seorang hafid bersanad. Syekh Ahmad Yasin juga memiliki suara yang indah dalam melantunkan ayat-ayat suci Alquran.

Tapi qodarullah dari sore hari kota ini ada pemadaman listrik sehingga gelap gulita. Tim roadshow ulama Palestina sudah hadir di masjid ini sebelum isya dalam keadaan masjid yang gelap. Namun di tengah-tengah Syekh Ahmad Yasin mengimami tarawih, qodarullah lampu kembali menyala dan kegiatan pun berlanjut.

Namun ketika mutarjim akan mengawali agitasi sambil memutar video lagi-lagi lampu mati kembali. Tapi hal itu tidak menyurutkan mutarjim (penerjemah) melanjutkan agitasinya. Bahkan karena saking antusiasnya, para jamaah meminta untuk distop dan dilanjutkan besok subuh. (slamet parsono)

Ramadan di Gaza, Pasokan Makanan Makin Terbatas

AmalMulia-Kekurangan dan keputusasaan adalah sedikit gambaran dari banyak kesulitan yang dialami masyarakat yang hidup di Jalur  Gaza. Banyak warga tidak mempunyai akses air bersih karena tercemarnya sistem penyedia air bersih oleh limbah.

“Keputusasaan bahkan bukan kata yang lagi tepat untuk menggambarkan apa yang terjadi di sini karena keadaan menjadi semakin buruk” tutur Omar Ghraieb (31) salah satu jurnalis yang tinggal di Gaza. “Setiap hari Kami bangun ke Dunia Perjuangan” (LA Times: 8/2/18).

Selama lebih dari satu dasawarsa, warga Palestina yang tinggal di Gaza telah mengalami eskalasi besar kekerasan dan blokade darat, udara dan laut, yang dipaksakan oleh Israel, yang telah menghancurkan infrastruktur, menghambat pertumbuhan Ekonomi dan membuat kondisi kehidupan yang begitu suram.

“Ramadan di Gaza berbeda tahun ini. Setiap tahun kemiskinan meningkat tetapi pada Ramadan tahun ini ratusan keluarga harus pula mengatasi  kesedihan akibat kehilangan begitu banyak orang yang mereka cintai dalam konflik terakhir. Ketika mereka duduk di meja untuk berbuka puasa, pikiran mereka bersama mereka yang tidak bergabung dengan tahun ini. Ibu yang kehilangan putra dan putri mereka, anak-anak yang kehilangan ayah mereka.” Tutur Omar.

Hal serupa juga diungkapkan oleh seorang Ibu yang tinggal di Jalur Gaza Om Hamdan Thabet. Beliau mengaku kesulitan menjalani Ramadan tahun ini. Ia tidak dapat menemukan bahan makanan apapun di kulkas untuk dijadikan hidangan sahur bagi anak-anak dan suaminya.

Thabet hanya menemukan sedikit rempah daun timi untuk disajikan dengan secangkir teh kepada tujuh anggota keluarganya. Ia berharap thyme dapat membuat keluarganya kuat berpuasa selama 14 jam. Untuk hidangan berbuka, Thabet mengaku akan berusaha mencari kacang-kacangan jenis lentil.

Berbicara kepada kantor berita Asharq al-Awsat, Minggu 20 Mei 2018, Thabet mengaku harus berjuang keras karena suaminya sudah tidak dapat bekerja lagi. Suaminya kini hanya bisa duduk di kursi roda, sementara dua anaknya juga mengalami disabilitas.
Selama ini, keluarga Thabet bisa bertahan hidup dari bantuan sejumlah asosiasi dan kepedulian warga sekitar.

Ribuan keluarga di Jalur Gaza hidup dalam kondisi yang lebih kurang sama seperti Thabet. Penderitaan mereka semakin menjadi setelah otoritas setempat berhenti memberikan bantuan kepada keluarga miskin. Aliran listrik ke rumah-rumah warga juga hanya dibatasi empat jam per hari. (history/amalmulia)

Terenyuh, Pemilik Universitas Bonafit di Padang Itu Donasi Rp100 Juta untuk Palestina

PADANG – Kedua bola mata Herman Nawas berkaca-kaca. Lantunan ayat suci Alquran dari seorang syekh asal Palestina menyentuh hatinya. Air mata pun tak terbendung saat arti dari Surat Al-Isra Ayat 1 itu dibacakan, yaitu tentang kebesaran Allah dalam memperjalankan Nabi Muhammad SAW dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha di Palestina.

“Mari kita cintai Palestina dan bela Palestina. Insya Allah saya dan keluarga akan berinfak sebesar Rp100 juta untuk pembebasan Masjid Al-Aqsha dan Muslim Palestina,” ungkap Herman Nawas sambil terisak.

Herman Nawas adalah pemilik Yayasan YPTK Sumatera Barat (Sumbar). Yayasan ini mengelola Universitas Putra Indonesia (UPI), sebuah perguruan tinggi swasta bonafit di Sumbar. Herman Nawas juga pengusaha sukses dan saleh.

Begitu mendengar kajian tujuh keajaiban negeri Palestina di hadapan 600 lebih jamaah Masjid Rahmatan Lil’alamin pada Ahad malam (27/5) itu, hati Herman Nawas terhenyuh. Terlebih lagi ketika diputarkan video tentang bagaimana penderitaan rakyat Palestina.

“Saya kembali mengajak jamaah masjid untuk mencintai Masjid Al-Aqsha dan menyalurkan infak untuk Muslim Palestina,” ucap Herman Nawas.

Sebelumnya di acara kajian zuhur di masjid yang sama, Herman Nawas langsung memimpin penggalangan infak dari jamaah yang kebanyakan dari masyarakat umum dan pegawai UPI Sumbar hingga terkumpul Rp5,6 juta.

Seusai kajian zuhur, Herman Nawas meminta kepada ustadz Ridwan (Koordinator International Aqsha Institute—Amal Mulia Sumbar) dan selaku penanggung jawab kegiatan safari dakwah Ramadan syekh Palestina, untuk mengundang syekh DR Mus’ab Abu Suhaib dalam jamuan buka puasa bersama serta meminta jadi imam salat isya. Pada malam itu juga usai kajian terkumpul uang infak sebesar Rp15 juta dari penggalangan dana yang langsung dipimpin oleh Herman Nawas.

Herman Nawas di mata masyarakat Sumbar memang dikenal seorang dermawan. Baru-baru ini ia mewakafkan tanahnya seluas sekitar 5.000 meter persegi untuk pembangunan Pusat Studi Quran Sumbar yang peletakan batu pertamanya diresmikan oleh Walikota Padang H Mahyeldi dan Syekh Hammudi, ulama dari Kerajaan Arab Saudi. Herman Nawas juga mewakafkan tanahnya seluas 1 hektare di kawasan bypass Padang untuk dibangun kantor Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sumbar. Ia juga aktif berdonasi untuk rumah-rumah tahfiz Quran di Kota Padang. (slamet parsono/amalmulia)