WeCreativez WhatsApp Support
Tim kami akan membantu anda. Silahkan tanyakan kepada kami.
Hi, ada yang bisa kami bantu ?
Month: July 2018

Month: July 2018

Gempa Lombok: Jauhnya Jarak Pusat Kesehatan, Korban Gempa di  Kec.Sambelia Terpaksa Dirawat Di Pinggir Jalan

Lombok–Duka kembali menyelimuti negeri. Belum tuntas isu kelaparan yang menewaskan tiga warga masyarakat adat Maluku Tengah, ibu pertiwi kembali dilanda pilu dengan terjadinya gempa di Nusa Tenggara Barat, yang berpusat di Lombok pada Ahad (29/07) sekitar pukul 06:47 WITA atau pukul 05.47 WIB.

Baca JugaMasyarakat Adat Maluku Tengah Mati Kelaparan Meski Hidup di “Tanah Surga”

Setidaknya empat belas orang meninggal dunia dalam bencana alam ini dan lima di antaranya merupakan  anak-anak. 162 orang terluka dan lebih dari seribu rumah warga rusak oleh gempa yang berkekuatan 6,4 SR tersebut. Menurut data BNPB Provinsi Nusa Tenggara Barat, tercatat 166 gempa susulan terjadi sampai dengan 29 Juli pukul 15:00 WITA.

Empat diantaranya merupakan gempa susulan dengan kategori magnitudo yang besar. Gempa susulan dengan guncangan kuat pertama terjadi dengan magnitudo 5.5 pada pukul 06.06. Hanya selang waktu sekitar 10 menit kemudian, gempa susulan berkekuatan 5.0 SR kembali terjadi. Gempa susulan selanjutnya terjadi pada pukul 08.50, gempa susulan yang tercatat sebagai guncangan terkuat yaitu 5.7 SR.Tenda darurat dan pusat bantuan pun disediakan pihak Kemensos di beberapa titik sebagai upaya penanggulangan korban gempa.

Dilansir dari Tribun News, kondisi paling parah terjadi di desa Obel Obel, hingga Desa Sembalun Lawang, Kecamatan Sambelia, Lombok Timur. Akibat gempa tersebut, banyak korban luka hingga patah tulang akibat tertipa reruntuhan bangunan.

Baca Juga500 Korban Gempa NTB Masih Terjebak di Anak Rinjani, 300 di Antaranya Warga Asing

Sampai saat ini, menurut sumber yang diperoleh Grid.ID, masih banyak korban yang menunggu pertolongan medis. Akibat jauhnya jarak pusat kesehatan yang memadai, banyak korban yang terpaksa menunggu pertolongan di pinggir jalan, dengan perawatan seadanya.

(Dok. keluarga Lalu Hendri Bagus/Grid.ID)


(Dok. keluarga Lalu Hendri Bagus/Grid.ID)


(Dok. keluarga Lalu Hendri Bagus/Grid.ID)


(Dok. keluarga Lalu Hendri Bagus/Grid.ID)

Tak hanya pemukiman warga yang rusak, beberapa fasilitas umum seperti puskesmas juga mengalami kerusakan. Contohnya di Kecamatan Sembalun, Lombok Timur, kondisi dinding Puskesmas Sembalun  yang hancur membuatnya tidak bisa menampung korban gempa. Pasien diungsikan sementara ke tempat yang lebih aman. (history/amalmulia)

Sumber: Tribun News, BBCNews, Grid.Id.

Baca Juga:

Lihat juga video ratusan pendaki yang terjebak di gunung Rinjani disini

500 Korban Gempa NTB Masih Terjebak di Anak Rinjani, 300 di Antaranya Warga Asing

Amal Mulia–Evakuasi terkait korban gempa Lombok  yang terperangkap di Segara Anak Rinjani terus digencarkan.

Menurut Data  yang di dapatkan dari ABADI (Amal Bakti Dunia Islam),  pendaki yang tercatat dalam Buku Registrasi Pengunjung Gunung Rinjani sebanyak 524 orang yang terdiri dari 358 orang  WNA dan 166 orang  WNI, termasuk di antaranya seorang mahasiswa asal Makasar bernama Muhamad Ainul Taksim A,(26 tahun).

Daftar Warga Negara Asing tersebut  di antaranya:

  1. Pengunjung asal Negara Malaysia 21 orang
  2. Pengunjung asal Negara Prancis 35 orang
  3. Pengunjung asal Negara Belanda 23 orang
  4. Pengunjung asal Negara Thailand 174 orang
  5. Pengunjung asal Negara India 5 orang
  6. Pengunjung asal Negara Singapura 5 orang
  7. Pengunjung asal Negara Italia 3 orang
  8. Pengunjung asal Negara U.K 6 orang
  9. Pengunjung asal Negara USA 5 orang
  10. Pengunjung asal Negara Spain 5 orang
  11. Pengunjung asal Negara Belgia 7 orang
  12. Pengunjung asal Negara Swiss 13 orang
  13. Pengunjung asal Negara China 7 orang
  14. Pengunjung asal Negara Canada 8 orang
  15. Pengunjung asal Negara Denmark 4 orang
  16. Pengunjung asal Negara Swedia 2 orang
  17. Pengunjung asal Negara Australia 2 orang
  18. Pengunjung asal Negara Kroasia 1 orang
  19. Pengunjung asal Negara Myanmar 1 orang
  20. Pengunjung asal Negara Jerman 13 orang
  21. Pengunjung asal Negara Austria 5 orang
  22. Pengunjung asal Negara Jepang 2 orang Poladia 2 orang
  23. Pengunjung asal Negara Bahrain 1 orang
  24. Pengunjung asal Negara Pakistan 1 orang

Sementara itu Warga Negara Indonesia yang masih terperangkap di Gunung Rinjani adalah:

  1. Pengunjung asal Jakarta 15 orang
  2. Pengunjung asal Malang 2 orang
  3. Pengunjung asal Probolinggo 4 orang
  4. Pengunjung asal Banyuwangi 1 orang
  5. Pengunjung asal Cirebon 1 orang
  6. Pengunjung asal Tangerang 2 orang
  7. Pengunjung asal Jombang 1 orang
  8. Pengunjung asal Cilegon 1 orang
  9. Pengunjung asal Gresik 2 orang
  10. Pengunjung asal Solo 4 orang
  11. Pengunjung asal Aik Beriq 1 orang
  12. Pengunjung asal Mataram 2 orang
  13. Pengunjung asal Loteng 1 orang
  14. Pengunjung asal Lingsar 1 orang
  15. Pengunjung asal Janapria 1 orang
  16. Pengunjung asal KLU 4 orang
  17. Pengunjung asal Lotim 5 orang
  18. Pengunjung asal Lombok 12 orang
  19. Pengunjung yang tidak mengisi Register sembilan (9) orang

Dari keterangan salah satu Pendaki yang sudah turun, para pendaki yang  masih terperangkap di atas tersebut tidak bisa turun dikarenkan terjadi longsor yang menutupi akses jalan untuk turun ke bawah. Evakuasi terhadap lima ratus korban lebih tersebut terus diupayakan oleh TNI, Polri dan dibantu para relawan sampai hari ini (Senin 30/07). Tim medis juga telah bersiap di beberapa posko penyelamatan. (history/amalmulia)

Masyarakat Adat Maluku Tengah Mati Kelaparan Meski Hidup di “Tanah Surga”

Amal Mulia–Kelaparan yang dialami oleh sekitar 170 warga komunitas adat terpencil (KAT) di Maluku itu dilaporkan terjadi sejak awal Juli lalu, tetapi baru diketahui oleh pemerintah setempat kira-kira dua minggu kemudian.

Setidaknya tiga orang meninggal dunia dan satu orang dewasa  anggota komunitas Mause Ane di wilayah Maluku tengah meninggal dunia. Gagal panen mengakibatkan mereka kekurangan bahan makanan.

Sebagian warga bahkan harus jauh-jauh pergi dan berdiam di hutan pegunungan demi mendapatkan makanan. Bukan makanan yang layak, dedaunan hutan mereka gunakan untuk meredam rasa lapar.

“Mereka bertahan hidup dengan makan daun, rotan dan pohon nibong,” kata pimpinan Gereja Protestan Maluku (GPM) di Maneo, Kabupaten Maluku Tengah kepada seorang wartawan BBC.

Hama babi dan tikus menjadi salah satu dalang kegagalan pertanian yang mereka garap. Tak ada bambu yang bisa mereka jadikan pagar untuk menahan hama-hama itu masuk ke lahan. Kebun-kebun bambu habis dilalap api pada peristiwa kebakabaran pada sejumlah wilayah di Pulau Seram Maluku sekitar tiga tahun silam.

Bantuan pun mulai digalakan dan berdatangan dari seluruh penjuru negeri. Bagaimana bisa, negeri yang kaya ini, yang bahkan dijuluki tanah surga karena berlimpahan sumber daya, penghuninya mati kelaparan. Tidakkah tetangga se-negerinya itu “meratakan” kelimpahan harta yang mereka punya ? (history/amalmulia)

Sumber: BBC News

Selama 30 Tahun, Tak Pernah Ada yang Berqurban

Amal Mulia–Wajahnya sudah sangat berkeriput. Dengan mengenakan baju batik terbaik miliknya, Rohana (85) menemui tim Yayasan Harapan Amal Mulia yang berkunjung ke rumahnya di Kampung Lembur Luhur Rt 03/06 Desa Cilolohan, Kecamatan Tanjung Jaya, Kabupaten Tasikmalaya.

‘’Tos 30 tahun jadi ketua RT, teu aya warga anu qurban (sudah 30 tahun menjadi ketua RT, tidak pernah ada warga yang melakukan qurban,red),’’jelas Rohana, belum lama ini.

Menurut Rohana, kondisi ekonomi warga Kampung Lembur Luhur rata-rata berada di bawah garis kemiskinan. Sebagian besar rumah di kampungnya, kata dia, masih berupa rumah semi permanen dengan dinding bilik, lantai kayu, ataupun lantai yang disemen biasa.

Pekerjaan warganya, kata pria yang berkopiah ini, sebagian besar merupakan buruh tani. Warganya, menggarap lahan sawah dan lading milik orang lain.

‘’Panennya kenging maro (hasil panen dapat dari pembagian (pemilik,red),’’jelas Rohana.

Akan menjadi kebahagiaan tersendiri, kata Rohana, jika kampungnya memperoleh bantuan hewan qurban pada Idul Adha 1439 H nanti. Pasalnya, kata dia, warganya, termasuk dirinya tidak pernah memotong hewan qurban dan merecah dagingnya untuk dibagikan.

Masih banyak saudara-saudara kita yang tidak pernah memperoleh kebahagiaan saat Idul Adha. Mari kita ulurkan tangan dan menyalurkan sebagian rezeki kita dalam program Qurban Mulia untuk Bahagiakan Mereka. (rifa/amal mulia)

 

Baca Juga:
Kandang Domba pun Telah Beralih Berfungsi

Para Ibu Tangguh yang Merelakan Anaknya Syahid di Jalan Allah

Amal Mulia–Menjadi seorang ibu adalah sebuah kebahagiaan yang tak terkira bagi seorang wanita. Sejak mengandung, kemudian melahirkan, menyusui dan merawatnya, merupakan sebuah masa yang akan menguras semua milik seorang wanita, baik waktu, fisik, batin dan hampir semua hidupnya demi putra putrinya tersebut. Itulah mengapa, seorang ibu memiliki kedudukan yang amat tinggi bagi seorang anak, di mana Rasulullah pernah menyatakan bahwa kita wajib berbakti kepada ibu, ibu, ibu dan barulah ayah.

Seorang ibu tentunya amat mencintai putra dan putrinya. Ia bahkan sudah amat mencintai anaknya bahkan sebelum ia lahir ke dunia. Namun bagaimana jika suatu hari para ibu harus dihadapkan pada kondisi anak-anaknya yang telah dewasa, kemudian meminta izin kepadanya untuk pergi berperang membela Islam dengan konsekuensi mereka akan mati dalam keadaan syahid? Ternyata, ada ibu-ibu tangguh yang justru mendukung putra-putra tercintanya untuk pergi berperang membela Agama dan Negara, walau mereka akan mati syahid karenanya. Ibu-ibu tersebut mengetahui, bahwa pahala Allah SWT juga akan mengalir padanya dan putranya yang syahid tersebut, jika mereka ikhlas dan merelakan melakukan hal tersebut.

Berikut ini adalah beberapa kisah ibu-ibu tangguh yang merelakan bahkan mendukung anaknya untuk Jihad di jalan Allah.

Asma’ binti Abu Bakar

Dari pernikahannya dengan Zubair bin Awwam, Asma’ binti Abu Bakar ra. melahirkan seorang putra bernama Abdullah bin Zubair ra. Pemuda yang sangat berbakti kepada ibunya dan sangat mencintai Allah serta Rasul-Nya. Abdullah bin Zubair lahir saat para musuh Islam menyebarkan teluh yang membuat banyak muslimah kala itu mandul dan tak mampu melahirkan anak-anak. Namun memang kuasa Allah melebihi segalanya, Abdullah bin Zubair lahir ke dunia dan menjadi kegembiraan tersendiri bagi kaum Anshar maupun Muhajirin.

Abdullah bin Zubair kemudian menjadi khalifah setelah masa khulafaur rasyidin. Kala itu keadaan umat muslim terpecah karena adanya musuh-musuh Islam dari golongan para pengkhianat di dalam tubuh umat Islam sendiri. Kemudian, sampailah di mana Abdullah bin Zubair harus pergi berperang melawan para musuh Islam tersebut. Sebelum berangkat ke medan perang, Abdullah bin Zubair menemui Asma’ binti Abu Bakar, ibunya, yang kala itu telah berusia 97 tahun dan telah mengalami kebutaan. Abdullah meminta izin pada ibu tercintanya tersebut.

Asma’ binti Abu Bakar kemudian mengatakan kepada putranya itu, “Jika kau menganggap apa yang kau lakukan adalah sebuah kebenaran demi mengharap ridho Allah, maka jangan pernah berhenti! Berangkatlah bersama pasukanmu. Namun, jika yang kau inginkan hanyalah dunia semata, maka sungguh kau hanya akan mengalami kerugian”. Mendengar perkataan ibunya tersebut, semakin semangatlah hati Abdullah bin Zubair untuk menjemput syahidnya. Kemudian dia berpelukan dengan ibunya dan pergi berperang, di dalam perang dia meninggal. Abdullah bin Zubair mati Syahid atas restu Ibunya.

Al-Khansa

Nama Al-Khansa atau yang biasa disapa Khansa, menjadi begitu harum karena kisah luar biasanya bersama keempat putranya yang mati syahid di medan perang. Khansa adalah seorang sahabat Nabi, perempuan yang telah lanjut usia namun begitu mencintai Allah dan Rasul-Nya. Hingga suatu hari saat Rasulullah SAW mengumumkan akan pergi berperang, Khansa tak menyia-nyiakan kesempatan untuk mengirimkan keempat putranya pergi berperang bersama Rasulullah SAW.

Keempat putranya tersebut kemudian meminta izin dan restu dari Khansa sebelum mereka pergi berperang, Khansa terharu melepas keempat putra tercintanya tersebut. Setelah perang berakhir, Khansa mendapat kabar yang seharusnya membuatnya sedih dan menangis, namun justru hal tersebut membahagiakannya, keempat putranya syahid di medan perang. Khansa begitu bahagia dan menangis terharu, karena dia yakin keempat putranya akan menjemputnya kelak di Surga dan mereka akan bisa bersama lagi di sana selama-lamanya.

Ummu Nidhal (Wanita Palestina)

Nama Ummu Nidhal menjadi sangat terkena beberapa tahun lalu. Ia mampu membuat banyak orang di seluruh dunia berdecak kagum bahkan terharu akan kisahnya. Ummu Nidhal adalah seorang wanita paruh baya asal Palestina yang merelakan putra keduanya Muhammad Fathi Farhat, pergi berperang bersama pasukan HAMAS melawan tentara Zionis Israel dan pulang dalam keadaan tak bernyawa.

 

Ummu Nidhal (kiri)

Keterangan Foto: Ummu Nidhal (kiri)

 

Ummu Nidhal telah mendidik Fathi Farhat sejak kecil dengan jiwa militansi yang tinggi. Sejak umur 5 tahun Fathi Farhat juga telah berhasil menghafal 30 juz Al-Qur’an dan menjadi seorang hafidz. Semangat juang Fathi Farhat dalam membela agama dan negaranya juga tak lepas dari dukungan sang ibu. Di usia 17 tahun tersebut Fathi Farhat harus berpulang ke Rahmatullaah dalam keadaan syahid, maka yang dirasakan Ummu Nidhal adalah kebanggaan tak terkira pada putranya tersebut.

Itulah 3 ibu tangguh yang luar biasa dengan ketegaran yang luar biasa pula, mengikhlaskan putra-putranya berperang di jalan Allah demi membela agama dan negaranya. Bagi kaum wanita khususnya, semoga ketiga wanita tangguh di atas bisa menjadi inspirasi tersendiri buat Anda. (history/amalmulia)

Sumber: Boombastis

 

Baca Juga:
Data Kekejaman Israel Terhadap Anak Palestina