Month: August 2018

Month: August 2018

Siswa Korban Gempa Lombok Harus Bertahan dengan Sekolah Tendanya

Siswa SDN 02 Ragam belajar dalam tenda (Sumber: liputan6.com)

Lombok–Rangkaian gempa yang terjadi di Lombok sejak  Juli lalu tentu menyisakan trauma mendalam pada masyarakat Lombok, terutama anak-anaknya. Peristiwa yang pastinya tak mereka inginkan itu telah mengguncangkan nyamannya masa kecil mereka. Meski begitu, semangat dan cita-cita anak-anak Lombok untuk menuntut ilmu tak pernah redup.

Senin (27/08), menjadi hari pertama anak-anak korban gempa Lombok memulai sekolah di tempat barunya. Tempat yang jauh dari kata layak karena hanya beratapkan tenda yang sebenarnya tak cukup melindunginya dari terik.

Seperti yang terjadi pada anak-anak SDN 02 Rakam, Lombok Timur. Setelah melewati liburan sekolah yang cukup berat, siswa sekolah tersebut harus belajar di tenda-tenda yang  dibuat di halaman sekolah. Rangkaian gempa yang ikut mengguncangkan sekolahnya, mengakibatkan lima dari sembilan ruang kelas hancur, tak bisa lagi digunakan.

“Delapan rombel (rombongan belajar) belajar di tenda,” tutur Kepala Sekolah SDN 02 Rakam, Karmiati, Rabu (29/8/2018) dalam Liputan6.com. Meski begitu, tawa, riang, canda masih menghiasi aktivitas  belajar mereka di tenda.

Belajar dalam tenda tidak hanya dialami murid SDN 02 Rakam. Banyak murid di Lombok yang mengalami nasib serupa karena bangunan sekolah  mereka rusak akibat gempa. Misalnya, di SDN 2 Obel-Obel, Kabupaten Lombok Timur. Di sana terdapat dua tenda yang dimanfaatkan enam kelas siswa. Satu tenda milik kepolisian diisi kelas V dan VI. Sementara itu, siswa kelas I-IV memenuhi tenda hasil sumbangan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud), seperti yang dilansir Jawa Pos.

Sekolah Lombok

HARI PERTAMA SEKOLAH: Sulihi, mengajar muridnya di sekolah darurat buatan warga di lapangan pengungsian Desa Duman, Kecamatan Lingsar, Lombok Barat, Senin (27/8). Hari pertama sekolah pascagempa masih dilaksanakan di luar gedung. (Sumber Foto: Jawa Pos)

Anak-anak tersebut terbilang cukup beruntung karena bisa kembali bersekolah. Kadikbud Kabupaten Lombok Timur mengungkapkan banyak sekolah yang belum bisa kembali memulai aktivitas belajarnya. Selain minimnya jumlah tenda, sejumlah sekolah juga masih ditempati tenda-tenda pengungsian milik masyarakat.

Menurut Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, sebanyak 556 unit sekolah rusak akibat gempa Lombok. Dari jumlah tersebut 235 sekolah rusak parah dan tak bisa lagi digunakan.

Tenda mungkin kini menjadi sesuatu yang sangat akrab bagi anak-anak Lombok. Tak hanya sekolahnya, tenda-tenda pengungsian pun kini menjadi satu-satunya tempat yang bisa mereka tinggali. Kira-kira apa yang mereka tuliskan di buku Bahasa Indonesia tentang cerita libur panjangnya? (history/amalmulia)

Baca Juga:
Siswa dan Guru SMP di Babel Kumpulkan Bantuan untuk Lombok

Raih Medali Emas Asian Games, Abdul Malik Rencanakan Bangun Tiga Masjid Sekaligus di Tanah Kelahirannya  

 Pesilat Indonesia Abdul Malik mengangkat bendera Merah Putih usai menaklukkan Muhammad Faizul M Nasir asal Malaysia di final Kelas B Putra Asian Games 2018 di Jakarta, Senin (27/8). Abdul menang dan mendapatkan medali emas. (Merdeka.com)

Jakarta–Rasa bangga semakin tercurah untuk salah satu putra terbaik bangsa, Abdul Malik, atlet pencak silat Indonesia. Setelah berhasil menghadiahkan emas  ke-dua puluh untuk Indonesia, dalam perhelatan akbar Asian Games, Malik membuat kita terharu dengan niat mulianya membangun tiga masjid di tanah kelahirannya, Sulawesi Utara.

Bonus sebesar Rp. 1,5 Milyar dari pemerintah, telah siap dikantongi para atlet peraih medali emas Asian Games. Berbeda dengan atlet lainnya, ketika ditanya akan ditujukan untuk apa bonus tersebut, Malik mengungkapkan bahwa ia ingin membangun tiga masjid di daerahnya. “Di daerah aku, di tiga daerah. Tiga masjid di Sulawesi Utara, Bitung, Tondano, sama Manembo,”

Emas Pencak Silat Kelas B Putra Indonesia

Malik mendapat medali emas setelah berhasil mengalahkan pesilat Malaysia, Muhammad Faizul M Nasir di kelas B (50kg-55kg).

Dilansir dari situs resmi Kemenpora pada (28/8), Malik juga menuturkan ingin mengubah nasib keluarga. “Saya mendedikasikan kemenangan ini buat keluarga dan buat adik-adik saya. Saya ingin mengubah nasib keluarga saya,” tambahnya.

Sebenarnya Malik sendiri belum mengetahui berapa anggaran pasti yang diperlukan untuk membuat ketiga masjid tersebut. “Bapak asli Makassar, Sulawesi Selatan. Dana berapa yang dibutuhkan belum dihitung, nanti ada bapak itu bisa ngatur juga,” pungkas Malik.

Niat mulia Malik, tiada lain merupakan bentuk syukur atas salah satu nikmat Allah dalam prestasi yang berhasil ditorehkannya. Jangankan Indonesia, umat islam di dunia mungkin akan ikut terharu dan bangga padanya. Semoga semakin banyak Abdul Malik- Abdul Malik lain yang lahir dan tumbuh dengan jiwa perjuangan nasionalis dan islamisnya.

Pesilat Indonesia Abdul Malik (kanan) bertanding melawan pesilat Vietnam Dinh Tuan Nguyen (kiri) dalam babak 16 besar Kelas B Putra Asian Games 2018 di Padepokan Pencak Silat Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta, Kamis (23/8)/2018.

Amal mulia selalu membuka donasi untuk memuliakan masjid. Salurkan donasi anda untuk masjid melalui: 7173 13 7178 a.n Yayasan Harapan Amal Mulia

Baca Juga:
Mulia dengan Beberes Masjid Amal Mulia

Roadshow Ulama Palestina: Jihad dengan Membersamai Para Penjaga Al-Aqsha

Amal Mulia–Suatu fakta yang telah diketahui dunia, bahwa Palestina selama ini didera konflik dengan Israel yang melahirkan berbagai krisis berkepanjangan. “Roadshow Ulama Palestina- AlAqsha Dalam Bahaya” Amal Mulia, menjadi salah satu usaha penghimpunan dukungan untuk Al-Aqsha dan Palestina. Alhamdulillahirobil’alamin sampai saat ini, roadshow dengan narasumber Syekh Muraweh Moussa ini telah hadir di lebih dari sepuluh provinsi di penjuru negeri.

Syekh yang didampingi asatidz, selalu berhasil membuat hati peserta bergemuruh dengan pemaparannya mengenai Al-Aqsha dan Palestina yang begitu mengkhawatirkan. Berbagai kezhaliman Israel sungguh di luar akal apalagi nurani manusia. Terlebih saudara seiman kita yang menjadi korbannya. Maka tak heran, banyak peserta kajian merasa terenyuh, tergerak hatinya, bahkan tak sedikit yang sampai meneteskan air mata.

Dukungan terus mengalir sementara rangkaian roadshow terus bergulir. Berbagai bentuk dukungan tak ragu diberikan rakyat Indonesia dengan berbagai kisah menariknya. Untuk Al-Aqsha dan Palestina, jangankan doa, harta pun tak ragu diberikan atas nama jihad di jalan Allah. Tak sedikit dari mereka merelakan harta benda yang susah payah dikumpulkan untuk berbagai kebutuhan dan cita-citanya. Nyatanya kemudian Allah mengaruniakan dalam hatinya ketaatan dan kesadaran tentang membela kiblat pertama umat islam itu.

Hampir sebulan berlalu, rangkaian roadshow yang dimulai pada awal Agustus 2018 itu akan segera berakhir. Meski demikian, antusiasme masih terus ditunjukan masyarakat Indonesia, termasuk pada roadshow baru-baru ini di Tebing Tinggi, Sumatera Utara. Dua kajian sekaligus diadakan di hari yang sama, 24 Agustus 2018.Tempat yang akhirnya kami pilih sebagai upaya menghadirkan spirit perjuangan Al-Aqsha di tengah masyarakat Indonesia. Tempat yang pada akhirnya menghimpun banyak dukungan dan donasi yang sebenarnya tak lebih besar dari tekadnya membersamai Al-Aqsha dan Palestina.

Roadshow yang bekerja sama dengan International Aqsha Institute ini akan berakhir pada 1 September 2018. Namun begitu, dukungan masyarakat Indonesia takkan dibatasi  penanggalan waktu tertentu.

Semoga setiap kucuran darah, harta, dan air mata yang dicurahkan atas nama Al-Aqsha dan Palestina, menjadi salah satu wasilah meraih Surga-Nya.

(history/amalmulia)

Sebulan Pasca Gempa, Trauma Masih Melanda Warga

Masjid Mujahidin Kecamatan Sembalun Lombok Timur

Lombok–Sudah hampir sebulan pasca gempa bumi yang mengguncang Lombok berlalu. Tapi, kondisi pengungsi masih tak kunjung membaik. Tak hanya itu, masih banyak cerita duka yang menggelayut Pulau Seribu Masjid tersebut. Salah satunya adalah cerita mengenai ambruknya kubah Masjid Mujahidin, yang terletak di Kecamatan Sembalun, Kabupaten Lombok Timur. Masjid ini adalah masjid Mujahidin, masjid tertua di Sembalun.

Pak Amrullah (53), warga setempat mengisahkan bagaimana mencekamnya subuh pagi disaat rumahnya bergetar. “Usai Sholat Subuh, tiduran sebentar tiba-tiba terasa seperti ditengah laut terombang ambing,” kata Amrullah saat ditanya soal kisah tragedi gempa saat itu.

Menurutnya, gempa terakhir yang terjadi di Sembalun juga terasa kuat getarannya, 6,9 SR. Dia dan keluarga spontan berhamburan keluar rumah disaat gempa terjadi.

“Yang paling parah memang di Lombok utara, tapi disini juga guncangan (gempa susulannya) besar, banyak rumah rusak termasuk masjid ini,” kata dia menunjukan kondisi masjid yang kini tak bisa lagi digunakan masyarakat setempat untuk sembahyang.

Menurutnya, sampai hari ini, masih banyak warga trauma akan adanya gempa susulan. Sebagian dari mereka bahkan mendirikan tenda-tenda darurat dihalaman rumah dan ditengah sawah atau di lapangan bola. “Warga Sembalun juga ada yang meninggal, nasibnya sama, tertimpa bangunan. Korban tulangnya patah, bagian dahinya sobek berdarah,” katanya.

Sejak itu, mayoritas warga masih khawatir dan belum berani tinggal didalam rumah, makanya banyak tenda tenda darurat.

Lombok yang dikenal dengan seribu mesjid ini sebagian warganya masih berduka dan trauma, penduduk setempat yang tertimpa musibah juga masih perlu uluran tangan dan doa dari kita semua. Semoga Lombok kembali pulih dan tak ada lagi gempa susulan.

Untuk meringankan duka masyarakat Lombok, Yayasan Harapan Amal Mulia berencana melakukan pembangunan masjid yang rusak sehingga bisa digunakan kembali untuk beribadah. Mari bantu warga Lombok untuk kembali bisa bersujud di masjid. Salurkan donasi terbaik anda melalui rekening donasi bencana Bank Syariah Mandiri (451) 2017 00 4037 atas nama Yayasan Harapan Mulia Bencana

Amal Mulia anda bantu mereka.

Bingkisan Kemerdekaan yang Membuat Gara Kembali Ceria

Lombok–Rumah dan sekolahnya rusak akibat gempa bumi berulangkali yang melanda Pulau Lombok, beberapa waktu lalu. Akibatnya, Gara Sulthani, siswa kelas II SDIT Labuhan, Lombok dan ribuan siswa lainnya terpaksa mengungsi dan tidak bisa sekolah.

Meski demikian, saat tim dari Yayasan Harapan Amal Mulia mengunjungi lokasi pengungsiannya, Gara pun mulai bisa tersenyum.

Pasalnya, selain diajak bermain, Gara pun memperoleh baju baru.

”Bajunya bagus. Terimakasih Amal Mulia,”ungkap Gara kepada Chief Marketing Officer Yayasan Harapan Amal Mulia, Khadirun Agus Susanto, belum lama ini.

Bagi Gara, baju baru ini sangat berarti. Maklum, sebagai pengungsi, Gara tak membawa baju yang banyak. Orang tuanya hanya membawa baju yang bisa dibawa ditengah reruntuhan rumahnya.

Sementara itu, Chief Marketing Officer Yayasan Harapan Amal Mulia, Khadirun Agus Susanto mengatakan bahwa bingkisan baju baru ini merupakan bagian dari penyaluran donasi bertajuk ‘Bingkisan Kemerdekaan untuk Lombok’.

Baju baru ini, kata Agus, merupakan donasi dari perusahaan distro yang memiliki merk ‘Warning Clothing’. Distro ini berada di Cihampelas, Kota Bandung.

Tak hanya baju baru, tambah Agus, Amal Mulia, demikian Yayasan Harapan Amal Mulia biasa disebut, juga menyalurkan bingkisan kemerdekaan untuk Lombok berupa sembako.

”Kami berharap, bingkisan kemerdekaan ini bisa sedikit meringankan duka mereka pasca bencana gempa. Terimakasih pada para donatur yang telah menyisihkan sebagian rezeki mereka untuk membahagiakan masyarakat Lombok yang terkena musibah gempa,” pungkas Agus.