Month: October 2018

Month: October 2018

Amal Mulia Resmi Membuka Rumah Tahfiz Istana Sufara Quran di Asahan

Santri akhwat Istana Sufara Quran (ISQ) dalam acara peresmian rumah tahfizh pada Ahad (28/10)

Amal Mulia Asahan–Alhamdulillahi robbil ‘alamiin, atas pertolongan Allah dan dukungan dari donatur,  Ahad, 28 Oktober 2018 Amal Mulia yang bekerja dengan Sufara Alquran resmi membuka rumah tahfiz Istana Sufara Quran di Kec. Kisaran Barat, Kab. Asahan, Sumatera Utara.

Direktur Amal Mulia, Vickry Rinaldi dalam pernyataannya mengungkapkan bahwa program ini merupakan program yang telah lama dicita-citakan, sebagai upaya menumbuhkan semangat dan kepedulian terhadap Alquran di daerah Sumatera Utara khususnya di Kabupaten Asahan.

Acara ini juga sebagai tanda telah dibukanya program asrama tahfiz ikhwan ISQ yang berlokasi di tempat yang terpisah, yaitu di Jl.Panglima Polem, Kota Kisaran, Kabupaten Asahan. Program asrama tahfiz ikhwan ini akan mulai berjalan pada awal November 2018 mendatang. Sementara itu, program tahfiz untuk akhwat telah berlangsung sejak akhir September 2018.

Metode tahfizh ala Gaza yang diusung mampu membimbing dan memudahkan para santri yang berasal dari berbagai latar belakang itu untuk menghafal Alquran di tengah kesibukannya.

Santri Tak Dipungut Biaya Apa pun

Vickry Rinaldi

Direktur Amal Mulia memberikan sambutannya dalam acara peresmian Istana Sufara Alquran (ISQ), pada Ahad, 28 Oktober 2018

Asrama tahfiz ini disiapkan dengan sarana yang lengkap di antaranya asrama untuk pengasuh juga santri, ruang belajar (muraja’ah), dapur, ruang makan, kamar mandi, mushala serta, fasilitas penunjang lain.

Meski begitu, tak ada infaq wajib yang dibebankan kepada santri. Bantuan dari donatur mulia sangat membantu jalannya proses menghafal Alquran ini.

Santunan Yatim Hingga Pemeriksaan Kesehatan Gratis

 Selain Pak Vickry Rinaldi sebagai Direktur Amal Mulia dan Ust. M. Anwar sebagai Direktur Sufara Alquran, juga turut hadir dalam acara tersebut Camat Kisaran Barat, Agus Jaka Putra Ginting. Ustadz Muttaqin dari Kab.Asahan juga menyampaikan taujihnya dihadapan tokoh, santri, serta tamu undangan yang hadir.

Istana Sufara Quran (ISQ) Asahan.

Masyarakat sekitar mengikuti pemeriksaan kesehatan gratis dalam acara peresmian Istana Sufara Quran (ISQ) di Kabupaten Asahan, Sumatera Utara.

Istana Sufara Quran (ISQ) Asahan.

Bazar pakaian meramaikan acara peresmian rumah tahfiz Istana Sufara Quran (ISQ) Asahan.

Penyerahan santunan kepada anak yatim pun semakin menambah kehidmatan acara peresmian tersebut. Selain itu, adanya bazar  dan pemeriksaan kesehatan gratis  juga membuat masyarakat sekitar berbondong-bondong mendatangi lokasi acara.

Sebagaimana bersedekah untuk seorang yang berpuasa lalu ia mendapat pahala seperti orang yang berpuasa pula, maka semoga kebaikan para donatur mulia dalam memudahkan urusan para penghafal Alquran ini dibalas dengan kemuliaan yang serupa. Aamiin (history/amalmulia)

Niat Mulia Yunita untuk Umrah, Digantikan dengan Cara Terbaik Allah

Suasana kediaman korban pesawat jatuh Lion Air JT610 Yunita Sapitri di Jalan Belanak Raya, Kelurahan Kayuringin, Kecamatan Bekasi Selatan, Kota Bekasi, Senin (29/10/2018). (Sumber: Tribunnews)

 

 “Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 216).

Amal Mulia — Tak jarang kita mengeluh terhadap ketentuan Allah yang dirasa tak sesuai dengan rencana, walaupun itu merupakan rencana baik. Meski begitu, ketentuan Allah adalah yang terbaik jauh melebihi apa yang diketahui manusia.

Allah telah menakdirkan Yunita (42) tahun menjadi salah satu penumpang pesawat Lion Air JT-610 yang atas kuasa-Nya pula pesawat tersebut jatuh di perairan Karawang pada Senin (29/10) pagi.

Padahal suami Yuni, begitu ia biasa diapanggil, menuturkan bahwa mereka berniat melaksanakan ibadah umrah dalam waktu dekat.

Umar Nayiri, suami Yuni menuturkan bahwa ia sempat mengajak istrinya itu menjalani vaksinasi di Jakarta, pada hari tersebut. Namun, Yuni memilih melakukan vaksinasi di Pangkal Pinang karena masih menjalankan tugas.

Keluarga Yunita

Keluarga Yunita, korban Lion Air JT 610 (Sumber: Okezone)

“Jadi, hari ini saya yang vaksin di Bandara Halim Perdana Kusuma. Dia mau vaksin di sana (Pangkal Pinang),” ujar Umar. Belum sempat terlaksana, malang lebih dulu menimpa Yuni.

Diketahui bahwa Yunita merupakan seorang pegawai Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) RI yang tiga tahun belakangan bertugas sebagai auditor di Pangkal Pinang.

Yunita adalah warga Perumnas 2, Kayuringin, Bekasi Selatan, Kota Bekasi. Sepekan sekali ia pulang-pergi Bekasi-Pangkal Pinang.

Belum diketahui nasibnya kini, namun Direktur Operasional Basarnas Brigjen TNI Bambang Suryo Aji mengakatan bahwa kemungkinan ada korban yang selamat sangat kecil.

 

Lion AIR JT 610

Petugas gabungan mengevakuasi jenazah awak pesawat Lion Air JT 610 di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, Senin (29/10/2018). (Foto: ANTARA)

“Prediksi saya itu sudah tidak ada yang selamat, karena korban yang ditemukan saja beberapa potongan tubuh saja sudah tidak utuh, sehingga apalagi sudah berapa jam ini. Kemungkinan sekali jumlah 189 itu sudah dalam keadaan meninggal dunia semua,” ungkapnya pada Senin (29/10) dalam Tribun.

Meski begitu, keluarga berharap setidaknya jenazahnya bisa ditemukan bagaimana pun keadaanya.

Niat mulia Yuni untuk mendekatkan diri kepada Allah dengan ber-umrah, ternyata digantikankan dengan cara terbaik-Nya, yaitu maut. Yang dengannya, Yuni bisa lebih dekat dan selalu berada di sisi-Nya tanpa terhalang wasilah apa pun. Inysa Allah.  (history/amalmulia)

 

Lagi, Israel Tergetkan Anak-anak Sebagai Sasaran Artilerinya

Tiga Anak Palestina syahid oleh serangan udara dan Artileri Israel pada Ahad (28/10). (Foto: Paltoday)

AMAL MULIA PALESTINA–Kementerian Kesehatan di Gaza merilis data tiga anak yang syahid pada Ahad (28/10) di Derbalah Timur, Gaza Utara. Mereka adalah Khalid Basam Mahmud Abu Said (14), Abdul Hamid Muhammad Abdul Aziz Abu Thahir (13) dan Muhammad Ibrahim Abu Abdullah Sathri (13), ketiganya berasal dari Wadi Salqa, Gaza Tengah bagian Timur.

Pada Ahad sore, (28/10) pasukan militer Israel melancarkan gempuran udara dan artileri ke kawasan pagar pemisah di Derbalah Timur yang menargetkan ketiga anak tak berdosa itu.

Jenazahnya bahkan baru bisa dievakuasi setelah beberapa jam kemudian, karena tim medis dilarang mendekati lokasi kejadian.

Anak Palestina Korban Artileri Israel

Gambar Khalid (14), Abdul Hamid (13), dan Muhammad Ibrahim (13). (Foto: Paltoday)

Israel mengklaim ketiga anak itu hendak memasang ranjau bom, sehingga tanpa ampun  gempuran udara mematikan langsung mendarat pada ketiganya.

Padahal, bagaimana bisa bocah belasan tahun itu memiliki bom bahkan memasangnya di daerah rawan yang sudah pasti terdeteksi Israel.

Seperti yang kita tahu, upaya perlawanan rakyat Palestina tak pernah imbang. Lemparan batu dibalas rentetan tembakan, gas beracaun yang mematikan, bahkan bom yang siap membinasakan.

Anak Palestina Korban Artileri Israel

Khalid, Hamid, dan Ibrahim bukanlah yang pertama, Agustus 2018 lalu seorang anak berusia 18 bulan juga tewas terkena serangan udara dan artileri Israel di Jalur Gaza, beberapa waktu lalu Naser Musabih (12), juga gugur dengan cara serupa. Sepanjang tahun 2018, Anadolou mencatat, Israel telah menewaskan lebih dari 20 anak-anak Palestina dengan sengaja. (history/amalmulia)

Sumber: Palinfo, Paltoday

 

Musim Dingin Gaza yang Mengerikan, Akankah Terulang Kembali?

Palestina–Beragam peristiwa mengerikan terjadi saat musim dingin Gaza sekitar akhir tahun lalu sampai awal tahun 2018. Banjir berpekan-pekan lamanya sempat merendam kota yang dihuni dua juta orang itu. Dampaknya tidak main-main, belasan jam listrik perumahan di seantero Gaza mati. Kayu bakar sudah tak ada lagi yang bisa dibakar, apalagi pemanas listrik.

Padahal, kehidupan di Gaza tanpa banjir pun sudah sangat sulit. Delapan puluh persen penduduknya hidup dengan hanya bergantung pada bantuan kemanusiaan, termasuk untuk sekedar kebutuhan pangannya.

https://www.youtube.com/watch?v=tJxa1V-ebmo

Berbagai media lokal maupun internasional banyak merekam kisah-kisah pilu warga Gaza yang bergeming dengan musim dinginnya. Tak sedikit dari mereka yang dipaksa  menyerah dengan keadaan dan akhirnya kembali ke haribaan semesta.

Days of Palestine pada Januari 2018 lalu melansir, Juru Bicara Kementrian Kesehatan Palestina mengatakan bahwa pria berusia 90 tahun dan istrinya berusia 88 tahun, menggunakan arang grill untuk memanaskan rumah mereka karena kekurangan listrik.

Malangnya, ventilasi rumah ala pengungsi yang buruk membuat asap arang tidak keluar dan menjadi racun. Tanpa mereka sadari, secara perlahan menggerogoti paru-paru sampai akhirnya keduanya meninggal dunia.

Keadaan Menjadi Lebih Sulit

Melewati musim dingin ditengah blokade Israel bukanlah suatu yang mudah. Pergerakan warga Gaza begitu terbatas, seperti dikepung sebuah penjara raksasa. Hampir seluruh sendi kehidupan Gaza lumpuh. Sementara itu, akses menuju dan keluar Gaza juga ditutup rapat-rapat, sehingga warga kesulitan mengakses layanan kesehatan atau sekedar berniaga mencari penghidupan.

Selain itu,blokade Israel juga berdampak pada lambatnya pembangunan kota semenjak perang tahun 2014 silam menghancurkan lebih dari 60 ribu bangunan di Jalur Gaza. Setiap sudut kota Gaza tak luput dari pemandangan bangunan tak utuh yang hancur di beberapa sisinya, meninggalkan lubang besar akibat hantaman bom.

Dalam beberapa pekan ke depan, Gaza harus melewati tantangan serupa. Angin terus mendesir, menandakan segera datangnya ‘ancaman’ musim dingin.

Jangan biarkan kisah-kisah pilu Gaza kembali memenuhi beranda berita. Kebekuan, kelaparan, bahkan kematian tengah mencari jalan menemui warga Gaza. Hal tersebut tak akan terjadi jika kita menunjukan aksi. Bukan hanya simpati, tapi empati yang mampu membantu mereka selamat dari ancaman kebekuannya. (history/amalmulia)

Tak Tega Minta Jatah Air Warga, Dokter di Palu Minum dengan Air Infus

Keterangan Foto: Tim medis menangani seorang anak yang menjadi korban gempa di Palu. (Foto: Kumparan)

 

Ikrar Mulia Dokter Indonesia

Saya akan membaktikan hidup saya guna kepentingan perikemanusiaan. Saya akan berikhtiar dengan sungguh-sungguh supaya saya tidak terpengaruh oleh pertimbangan keagamaan, kebangsaan, kesukuan, politik kepartaian, atau kedudukan sosial, dalam menunaikan kewajiban saya terhadap penderita.

Begitulah lafal sumpah yang wajib dipegang teguh oleh para Dokter Indonesia. Tak peduli sesulit apa kondisi mereka, ribuan nyawa tetap menanti untuk diselamatkan.

Sepenggal kisah datang dari Riyadh Farid, dokter spesialis anastesi dari Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) yang menjadi salah satu relawan kesehatan di lokasi bencana gempa dan tsunami Palu di Sulawesi Tengah (Sulteng).

Relawan Dokter di Palu

Tim Dokter yang didatangkan dari Jakarta menangani korban gempa Palu di kawasan RS Wirabuana (Foto: Suara Jakarta)

Kala itu, keadaan begitu mencekam di Palu.Tak ada makanan dan minumaan di pengungsian selang beberapa hari setelah gempa dan tsunami melanda. Kalau pun ada, jumlahnya sangat terbatas, jauh dari kata cukup untuk memenuhi kebutuhan pengungsi.

Bukan hanya para pengungsi yang kelaparan dan kehausan, para relawan yang sejatinya bertugas menolong pengungsi pun merasakan hal yang sama.

Tak Tega Meminta Jatah Air Minum Warga

Riyadh mengatakan bahwa ia dan timnya terpaksa meminum cairan infus karena tak tega meminta jatah air minum warga yang juga sedang kehausan.

“Kami sampai coba bertahan dengan minum seteguk, dua teguk cairan infus. Kami tidak mungkin minta ke warga yang juga kesusahan” ujar Riyadh, dalam CNN.

Relawan Dokter di Palu

Tim medis menangani salah seorang korban gempa di Palu. (Foto: cnds.klimg.com)

Riyadh dan tim datang satu hari setelah gempa berkekuatan 7,4 SR meluluhlantakkan Palu dan beberapa kota lainnya di Sulteng pada Jumat 28 September 2018.

Di balik kisah dukanya yang kesulitan air, ia menceritakan terdapat suatu momen sederhana yang terasa mengharukan ketika dirinya menyambangi sebuah pos pengungsian.

“Waktu itu pengungsi masak seadanya. (Terus bilang) pak dokter, ayo makan bareng kita supaya kuat. Itu benar-benar bahagia,” ucapnya.

Pengalaman Para Dokter di Lokasi Bencana Palu

Kisah lain datang dari dokter Fatimatuzzahra. Ia tak pernah menyangka masa-masa awalnya bekerja di Sulawesi Tengah, akan dihadapkan dengan bencana besar gempa dan tsunami Palu yang memakan ribuan korban.

“SK saya untuk berangkat ke Palu baru keluar September lalu,” kata Fatimah kepada Tempo, Rabu sore, 10 Oktober 2018. Ia mulai resmi bekerja di klinik perusahaan itu pada 24 September sebagai dokter di wilayah Pasangkayu.

Relawan Dokter di Palu

Dokter di salah satu tenda pengungsian korban gempa Palu (Foto: bugiswarta.com)

Saat gempa terjadi, ia baru memasuki masa orientasi mengenal Palu. Dia pun tak memiliki gambaran tentang kewilayahan Palu. Bahkan, tak terpikir bahwa bencana besar akan datang secepat itu.

Ada juga pernyataan Dokter Eka yang mengatakan bahwa gempa dan tsunami Palu adalah bencana sangat luar biasa. “Bencana Palu dalam pandangan saya bukan hanya bencana luarbiasa, tapi sungguh sangat luabiasa,” kata Dokter Eka dalam Tribun Timur, Senin (1/10/2018).

Penyataan tersebut bukan tanpa alasan. Ia yang berhadapan langsung dengan lokasi terdampak gempa menuturkan ada tiga hal yang membunuh ribuan korban yaitu gempa, tsunami, dan lumpur. Gempa mengakibatkan bangunan runtuh dan menimpa warga, dan sekitar 1000 orang di sekitar pantai sedang persiapan Festival Nomini tersapu oleh tsunami, lalu diperkirakan sekitar 700 orang terkubur hidup-hidup di sebuah perkampungan yang terendam lumpur. Belum lagi 200 siswa SMA yang sedang kemah juga terkubur dalam lumpur yang tiba-tiba menyembur dan menimbun mereka.

Usaha sangat keras dikerahkan pada pada dokter-dokter yang mengabdikan dirinya di titik-titik bencana. Atas kerja keras dan dedikasi yang tinggi, kami sampaikan apresiasi setinggi-tingginya. Semoga jasa mulia para Dokter Indonesia bernilai jariyah di mata Allah SWT (history/amalmulia)

Sumber: CNN, Tribun