Month: March 2020

Month: March 2020

Manfaat Program Rumah Tahfiz Nusantara Telah Sampai di Garut

“Berangkat dari kerinduan akan lingkungan Islami, Ustaz Taufik membidani lahirnya Pesantren Izhaarul Haaq, Kersamenak. Kebaikan Sahabat, telah turut melengkapi perjuangan dakwah Ustaz Taufik di Garut”

Harapanamalmulia.orgBerawal dari mimpi mewujudkan lingkungan yang Islami untuk anak-anak, Pesantren Izhaarul Haaq pun lahir di tengah-tengah masyarakat Desa Kersamenak, Kecamatan Tarogong Kidul, Kabupaten Garut.

Pesantren yang telah berdiri sejak 2013 ini menjadi rumah bagi santri-santri yatim dan dhuafa yang ingin menghafal Al Quran. Sepanjang perjalanan pendirian pesantren ini hingga kini, telah banyak lika liku kisah yang dilalui.

Harapan Amal Mulia, lembaga yang menghimpun donasi dan sedekah untuk yatim dhuafa telah sajikan kisah selengkapnya untuk Sahabat semua.

 

Berawal Dari Keresahan, Pesantren Ini Lahir

Menemukan lingkungan yang Islami bagi tumbuh kembang anak menjadi salah satu aspek yang sangat diperhatikan oleh Ustaz Taufik Nuryana. Sepulangnya mengenyam pendidikan di Libya, memberikan motivasi baginya untuk pulang ke Garut, lantas mendirikan pesantren pada tahun 2013 silam.

Ustaz Taufik yang membidani lahirnya pesantren ini memfokuskan tujuan pesantren sebagai sarana untuk menghafal Al Quran bagi yatim dan dhuafa. Cita-cita mulia ini kemudian mendapat respon yang positif, terbukti dari mulai berdirinya hingga sekarang ini telah membina sekitar 70 santri yatim dhuafa, serta santri terbina sebanyak 1400, selama 7 tahun ini.

(Ustaz Taufik Nuryana, Lc. Bersama santri Izhaarul Haaq/foto:Harapan Amal mulia)

 

Perjuangan Ustaz Taufik dalam berdakwah dan mendirikan pesantren tidak serta merta berjalan dengan begitu mudah. Di awal hijrahnya ke Garut, Ustaz Taufik mendapatkan donatur yang berasal dari Arab Saudi, yang membantu pendirian pesantren serta mendirikan 154 Masjid yang tersebar di Garut dan kota-kota lainnya.

Namun, sekarang, masa penerimaan bantuan tersebut telah habis, sehingga Pesantren Izhaarul Haaq mengalami kendala dalam menjalankan proses pembinaan serta untuk mencukupi kebutuhan operasional sehari-hari untuk para santrinya.

 

Simak sajian informasi lainnya “Rumah Tahfiz Gratis, Hadirkan Layanan Terbaik Bagi Santri Dhuafa”

 

Pembinaan Santri Kini Tak Terhalang Lagi

(Keterangan: Potret kebahagiaan para santri Izhaarul Haaq/foto:Harapan Amal Mulia)

 

Berkat kebaikan Sahabat, alhamdulilah kini santri-santri penghafal Al Quran di Pesantren Izhaarul Haaq dapat semakin khusyu dalam menghafal. Kebutuhan mushaf Al Quran untuk semakin menunjang proses pembinaan sudah terdistribusikan kepada seluruh santri. Sehingga santri semakin termotivasi menyelesaikan hafalan yang sudah ditargetkan.

 

Lengkapi Semangat Menghafal Santri, Dengan Penuhi Gizi Setiap Hari.

(Keterangan: Senyum bahagia santri kala menerima bantuan bahan makan bergizi/foto: Harapan Amal Mulia)

 

Kebaikan Sahabat juga telah berwujud dalam gizi lengkap dan seimbang yang telah sampai pada setiap piring makan para santri. Santri pun dapat menjalani proses pembinaan tanpa takut kekurangan gizi, juga tidak risau lagi tentang menu makan yang akan mereka santap, karena operasional pangan sehari-hari telah sampai ke pesantren ini.(itari/harapanamalmulia)

Bersama Harapan Amal Mulia, Sahabat dapat terus menyambung kebaikan untuk para santri melalui Program Rumah Tahfiz Nusantara. Sahabat dapat semakin membantu para penghafal Al Quran, serta madrasah dan rumah tahfiz lainnya di seluruh Nusantara untuk menunjang kegiatan pembinaan, dan tidak lupa penuhi gizi hariannya.

Sahabat dapat menyalurkan donasi terbaik melalui pilihan rekening donasi di bawah ini:

 

BCA 0083 6858 72
Mandiri 132 003 321 2342
BSM 717 313 414 7
a.n. Yayasan Harapan Amal Mulia

Mulia Dengan Amal Terbaik

Kisah Hidup Sederhana Petani Desa

“Menjalani setiap episode tantangan dalam kehidupan tidak lantas menjadikan para petani dhuafa di Sindangjaya, Kabupaten Cianjur berputus asa. Keterbatasan boleh saja dialami, tetapi ikhtiar dan tawakal terus dipanjatkan kepada Illahi Rabbi”

 

Harapanamalmulia.orgDapat tinggal dan menetap di desa yang dianugerahi kekayaan alam adalah sebuah kesyukuran yang harus dipanjatkan kehadirat Allah Swt. Kendati bertahun-tahun menjadi petani penggarap lahan orang, namun para petani penggarap lahan di Desa Sindangjaya, Kecamatan Ciranjang tidak pernah berputus asa.

Mencari rezeki tidak selalu berpatokan kepada berapa harga upah yang diterima, tetapi mendapat amanah menggarap sawah orang menjadi nilai kepercayaan yang harus terus dijaga. Setidaknya itulah nilai perjuangan hidup bagi Bu Hasanah, Bi Ela dan Bi Erni sebagai petani penggarap sawah orang, di desa yang menjadi bagian dari Kabupaten Cianjur itu.

Harapan Amal Mulia, lembaga penghimpun sedekah yatim dhuafa telah sajikan kisah selengkapnya tentang perjuangan para petani penggarap sawah orang.

 

Penghasilan Dari Menggarap Sawah Orang

Desa Sindagjaya, Kecamatan Ciranjang Kabupaten Cianjur itu memiliki banyak potensi alam yang melimpah ruah. Dekatnya posisi desa dengan waduk Cirata membuat sebagian penduduk berprofesi sebagai nelayan, juga tidak jarang penduduk yang memilih usaha menyewakan kapal wisata. Sedangkan mayoritas penduduk lainnya berprofesi sebagai petani, baik itu petani pemilik sawah, maupun petani penggarap lahan orang.

Ibu Hasanah, Bi Ela Hayati, dan Bi Erniati, adalah segelintir penduduk Sindangjaya yang berprofesi sebagai petani. Kendati tidak memiliki lahan sawah pribadi, namun mereka diamanahi untuk menggarap lahan orang.

(Ibu Hasanah (50 Tahun) salah satu petani dhuafa di Desa Sindangjaya/foto:Harapan Amal Mulia)

Ibu Hasanah (50 tahun) dan suaminya diberi kepercayaan untuk mengelola lahan dengan sistem bagi hasil. Setiap masa panen tiba, seluruh padi harus dibagi dua dengan pemilik lahan. Sawah seluas 300 tumbak yang dikelola dapat menghasilkan sekitar 1 ton beras sekali panen, sehingga Bu Hasanah memperoleh 500 Kg beras dengan masa panen 4 bulan sekali. Selama masa tunggu panen, untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari, Bu Hasanah sangat mengandalkan dari beras bagi hasil yang diperolehnya, agar dapat sampai pada masa panen yang akan datang.

Berhemat dengan menu lauk sederhana adalah cara Bu Hasanah dan keluarga agar mampu menyambung hidup setiap harinya. Apalagi dengan masih memiliki anak yang duduk di bangku SMA, membuat Bu Hasanah juga sesekali menerima panggilan menjadi juru masak catering, walau bukan sebuah pekerjaan rutin yang dirinya jalani. Sedangkan sang suami, mengisi hari dengan mencari pakan untuk domba ternakannya.

 

Bertahan Dalam Keterbatasan

(Bi Ela Hayati (47 Tahun) salah satu petani dhuafa di Desa Sindangjaya/foto:Harapan Amal Mulia)

Kisah petani penggarap lahan orang juga menjadi keseharian dari Ela Hayati (47 Tahun), warga Kp. Calincing Desa Sindangjaya ini memperoleh 10 Kg beras setiap 4 bulan sekali dari hasil panen sawah garapannya. Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari Bi Ela (panggilan akrabnya) juga harus mencari penghasilan tambahan sebagai juru masak catering yang tidak selalu ada setiap hari.

Sedangkan sang suami, yang memiliki profesi sebagai ojeg perahu di Waduk Cirata juga tidak dapat membawa besaran rupiah yang menentu sesampainya di rumah. Rp 30.000 sampai Rp 50.000 adalah besaran nominal yang dapat diperoleh dari hasil ojeg perahu. Dengan anak bungsu yang masih duduk di bangku Madrasah Tsanawiyah (setingkat SMP) Pasir Nangka, membuat Bi Eli dan suami harus berhemat pengeluaran setiap harinya.

(Selain menjadi petani, Bu Erniati (42 tahun) mencari tambahan penghasilan dengan menjadi juru masak catering/foto: Harapan Amal Mulia)

 

Situasi yang sama juga dirasakan oleh Bi Erniati (42 tahun), 10 Kg beras diperolehnya dari hasil menggarap sawah orang. Selama menunggu panen tiba, beras tersebut menjadi andalan dalam mencukupi kebutuhan sehari-hari, yang tentu selalu habis tak bersisa selama 4 bulan digunakan. Bekerja serabutan pun menjadi sebuah pilihan yang akhirnya harus ditempuh demi asap dapur yang harus mengepul. Untuk mencukupi keperluan sehari-hari, suami Bi Erni pun berkerja mengelola tambak ikan di waduk Cirata. Hasil dari tambak ikan sedikitnya dapat membantu keluarga Bi Erni dalam menyambung hidup sampai masa panen tiba. Dengan penghasilan kurang lebih Rp 1.000.000/bulan, Bi Erni dan keluarga harus mengatur strategi agar cukup untuk kebutuhan dapur dan biaya sekolah anak bungsu yang masih mengenyam pendidikan di SMP PGRI Ciranjang.

 

Harapan Lebih Baik Pada Masa Depan

(Salah satu kegiatan pertanian di Desa Sindangjaya/foto:Harapan Amal Mulia)

 

Kenyataan hidup yang dialami oleh Ibu Hasanah, Bi Ela dan Bi Erniati menjadi segelintir cerita, bahwa perjuangan harus tetap dijalani walau dengan keterbatasan yang ada. Usaha terus digiatkan, serta tidak lupa memohon kepada Sang Pencipta agar mendapat limpahan keberkahan dalam menjalani kehidupan. Kendati kerasnya hidup yang dijalani, dan harus berhemat setiap harinya, tidak lantas membuat kehilangan harapan dalam kehidupan.

Ibu Hasanah, Bi Ela dan Bi Erniati selalu berharap dan yakin bahwa kelak kehidupan akan lebih baik asalkan tidak melepas ikhtiar, do’a dan tawakal kepada Illabi Rabbi

(itari/harapanamalmulia)

 

Keyakinan yang sama juga membuat Harapan Amal Mulia tergerak untuk membersamai perjuangan Ibu Hasanah, Bi Ela, dan Bi Erniati serta para keluarga pra-sejahtera lainnya untuk mewujudkan masa depan yang lebih baik.

Mari kirim bantuan kebahagiaan untuk para keluarga petani dan keluarga pra-sejahtera lainnya melalui program Paket Harapan Keluarga. Paket yang berisi macam-macam sembako ini begitu dinantikan para keluarga dhuafa di Indonesia, agar dapat memenuhi kebutuhan sehari-harinya.  

Sahabat Amal dapat menyalurkan bantuannya melalui rekening donasi

BCA 0083 6858 72

Mandiri 132 003 321 2342

a.n. Yayasan Harapan Amal Mulia

Urgent! Masyarakat Kecil Juga Tak Mau Terjangkit Corona

“Bersyukurlah jika Sahabat bisa bekerja di dalam rumah, karena di luaran sana masih banyak yang harus menerjang bahaya Corona untuk mencari nafkah”

 

Para pedagang kecil, supir angkutan umum, hingga petugas kebersihan, tetap bekerja di jalanan di masa-masa mewabahnya virus COVID-19. Padahal, rentan sekali lalu lalang jalanan dalam hal persebaran wabah. Tanpa alat pelindung lengkap, potensi paparan virus corona begitu besar, terlebih bagi mereka yang masih harus turun ke jalan demi mencari nafkah.

Tak ada pilihan lain, begitupun bagi Rizki (Iki). Iki masih berusia 12 tahun, namun bocah yatim dari Bandung ini kerap kali harus menyusuri jalanan, membantu ibunya agar bisa mengepul barang-barang bekas demi bisa mendapatkan rupiah. Walau bahaya bekerja di luar rumah mengintai dari segala arah, mencukupi kebutuhan dapur menjadi hal yang lebih ia ukur.

Karena pola makan dan lingkungan yang kurang terjaga, sering sekali penyakit asma yang diderita Iki sejak bayi kemudian kambuh. Ibunya yang juga sakit-sakitan hanya bekerja sebagai asisten rumah tangga dengan upah tak seberapa, sehingga ia tak bisa memberikan pengobatan yang maksimal bagi keluarga. Jangankan pengobatan, upaya pencegahan pun tak sanggup dilakukan.

 

Simak Informasi menarik lainnya: 7 Tips Antisipasi Corona Ala Santri Penghafal Al Quran

 

Bagaimana nasib keluarga kecil ini di tengah mewabahnya pandemi? Bukankah orang-orang sakit yang bekerja di jalanan memiliki risiko ganda untuk tertular virus corona?

Untuk itu, Harapan Amal Mulia melalui program Amal Mulia Peduli mengajakmu untuk bantu keluarga dhuafa dari bahaya virus corona. Gerakan ini akan kami dedikasikan untuk para keluarga pra sejahtera di berbagai wilayah Indonesia dengan pemberian bantuan berupa paket masker dan hand sanitizer. Cukup dengan berdonasi sejumlah Rp30.000 saja, Anda sudah bisa memberikan rasa aman di tengah masyarakat kecil dan membantu mereka tercegah dari virus corona.

Anda bisa kirimkan bantuan melalui rekening berikut:

Bank Syariah Mandiri

717 313 414 7

a.n. Yayasan Harapan Amal Mulia

Silakukan lakukan konfirmasi apabila sudah mentransfer, dengan menghubungi:

Call Center: 081 1234 1400

 

Mulia dengan Amal Terbaik

Benarkah Warga Kota Lebih Bahagia Dibanding Warga Desa?

|” Bahagia itu tidak terbatas ruang dan waktu, tapi bahagia itu kita yang ciptakan lho. Seperti potret warga di Desa Sindangjaya, Kabupaten Cianjur. Dengan segala anugerah alam yang ada, mereka punya cara tersendiri untuk tetap bahagia.”

 

Harapanamalmulia.orgBadan Pusat Statistik (BPS) meluncurkan hasil surveinya tentang Indeks Kebahagiaan Indonesia. Berdasarkan hasil Survei Pengukuran Tingkat Kebahagiaan (SPTK), diperoleh hasil bahwa indeks kebahagiaan penduduk yang tinggal di wilayah kota adalalah sebesar 71,64 dan 69,57 untuk indeks kebahagiaan bagi penduduk yang tinggal di pedesaan. Dari hasil tersebut diambil kesimpulan bahwa penduduk yang tinggal di perkotaan cenderung lebih bahagia dibandingkan penduduk yang tinggal di pedesaan.

Terlepas dari hasil survei yang dilansir BPS, seharusnya tempat di mana seseorang tinggal tidak dapat menjamin ukuran kebahagiaan seseorang. Termasuk bagi penduduk yang tinggal di pedesaan. Penduduk desa tentu juga bisa bahagia dan punya indikator kebahagiaannya tersendiri. Hal itu dibuktikan oleh para penduduk di Desa Sindangjaya, Kecamatan Ciranjang.

Bagaimana cara penduduk desa yang terletak di Kabupaten Cianjur ini dapat bahagia?

Berikut Harapan Amal Mulia, lembaga penghimpun donasi yatim dhuafa bagikan kisah selengkapnya untuk Sahabat semua.

 

Memetik Berkah dari Alam Desa

(Keterangan: Salah satu kegiatan bertani di Desa Sindangjaya /foto:Harapan Amal Mulia)

Desa yang terletak tidak jauh dari Waduk Cirata ini memiliki potensi alam yang begitu melimpah. Banyak warga yang mengais rezeki menjadi buruh tani di sawah, dengan upah Rp 30.000 per hari. Keberadaan waduk Cirata juga turut dimanfaatkan warga lainnya untuk menjadi nelayan pencari ikan, serta tidak jarang juga penduduk menambah pundi-pundi dengan menyewakan perahu wisata bagi para pengunjung waduk yang berdatangan.

Besar penghasilan yang diperoleh warga tergantung kepada musim dan cuaca, kadangkala ikan yang didapatkan nelayan begitu melimpah sehingga Rp 50.000 sudah dapat dibawa pulang, tetapi tidak jarang juga ikan hasil tangkapan tidak sebanyak hari-hari biasanya. Begitu pun dengan warga yang membuka usaha sewa perahu wisata, tidak menentunya kunjungan membuat penghasilan sehari-hari tidak dapat ditentukan. Dengan tarif Rp 15.000 per satu kali sewa perahu, pengunjung dapat mengelilingi waduk sepuas hati.

Kendati pundi-pundi rupiah yang dapat dibawa ke rumah tidak menentu setiap harinya, namun penduduk desa Sindangjaya percaya bahwa keberkahan dari yang Maha Kuasa tercurah dalam setiap genggaman harta yang telah mereka usahakan.

 

Bebas Jelajah Kampung Untuk Menuntut Ilmu

(Keterangan: Potret anak-anak Desa Sindangjaya saat pergi mengaji/foto:Harapan Amal Mulia)

Keseharian dari penduduk desa Sindangjaya tidak hanya sebatas mencari nafkah semata, pengajian rutin menjadi salah satu agenda wajib bagi ibu-ibu di sana. Tidak kurang dari dua kali dalam sepekan pengajian di gelar di masjid setempat. Dengan jama’ah pengajian rutin sekitar 70 orang, sebagian peserta harus rela menyimak dari teras masjid mengingat kapasitas ruang utama hanya dapat menampung setengahnya saja.

Kesadaran terhadap pentingnya ilmu agama membuat ibu-ibu Sindangjaya juga mengikuti pengajian di kampung-kampung lainnya. Saling memakmurkan masjid. Belum lagi kalau 1 ibu bawa 1 anak, tambah hiduplah masjid ini.” ujar salah satu jama’ah yang selalu antusias mengikuti pengajian.

Aktivitas di masjid terasa begitu hangat, manakala seusai para ibu mengaji, anak-anak Desa Sindangjaya berbondong-bondong untuk mengaji sore hari. Tanpa harus disuruh dan diminta, anak-anak berdatangan dengan sukarela untuk mengais ilmu dari ustaz setempat.

Simak informasi menarik lainnya: 7 Tips Antisipasi Corona Ala Santri Penghafal Al Quran

 

Berdikari Sejak Dini

Limpahan karunia alam yang dimiliki Desa Sindangjaya tidak serta merta membuat penduduknya berleha-leha. Namun sebaliknya, motivasi kuat untuk mandiri sejak dini menjadi semangat dalam mendatangkan kebahagiaan bagi penduduknya.

(Keterangan: Dewi (13 tahun) salah satu anak asal Desa Sindangjaya/foto: Harapan Amal Mulia)

Semangat ini yang ditunjukan oleh Dewi Yuniarti (13 tahun), meski sudah ditinggal oleh ayah kandung sejak masih kecil. Namun Dewi memiliki motivasi kuat untuk terus mengenyam bangku sekolah hingga perguruan tinggi. Kegemarannya akan pelajaran sains membuatnya bercita-cita menjadi dokter agar dapat mengobati orang sakit dan bermanfaat bagi banyak orang.

Kini bersama ibu dan ayah tirinya, Dewi selalu berusaha untuk dapat mandiri sejak dini, dengan penghasilan kedua ornag tuanya yang terbatas, tidak menyurutkan langkahnya untuk terus bersekolah dan mengejar impiannya.

 

Mendapatkan Perhatian dan Bimbingan

(Keterangan: Potret Ibu Suharlin bersama suaminya Pak Sholeh /foto:Harapan Amal Mulia)

Penduduk Desa Sindangjaya yang mayoritasnya Muslim, membangun toleransi yang baik dengan penduduk non-muslim yang berada di sana. Hubungan antar manusia yang berjalan baik kerap kali menjadi jalan hidayah bagi banyak mualaf yang tinggal di sekitar desa.

Seperti halnya Ibu Suharlin (40 tahun), ibu dari enam orang anak ini telah lama menjadi mualaf, kecintaannya yang besar terhadap Islam menjadikannya terus menggali ilmu lewat satu pengajian ke pengajian yang lainnya. Tidak kurang dari 2 kali dalam sepekan Ibu Suharlin menata jadwal mengajinya di dua masjid yang berbeda, ditengah kesibukannya bekerja serabutan seharian.

Ibu Suharlin yang telah merasakan pahitnya kegagalan rumah tangga ini, kini berjuang bekerja serabutan bersama suami barunya yang berprofesi sebagai pencari botol-botol plastik bekas. Meski hidup dalam kesederhanaan, Bu Suharlin tetap bahagia karena memiliki suami yang bertanggung jawab dan mampu membimbingnya untuk semakin taat kepada Allah Swt.

“Saya bahagia sekarang, walaupun cuma mulung botol plastik juga, ada yang ngajarin saya ngaji” ujarnya dengan mata berkaca-kaca.

 

Tambah Kebahagiaan Keluarga Desa

Sahabat Amal, kisah ragam kebahagiaan yang tercermin dari Desa Sindangjaya ini memberikan pelajaran berharga bagi kita semua, bahwa sejatinya bahagia itu mampu untuk diciptakan bukan semata-mata tergantung kepada tempat tinggal. Bahagia juga adalah tentang bagaimana kita menyikapi setiap keadaan dan berusaha dengan sebaik-baiknya ikhtiar yang kita bisa sebagai bentuk rasa syukur kepada Sang Pencipta.

Sahabat, mari kita tambahkan kebahagiaan kepada penduduk desa di mana pun berada, khususnya di Desa Sindangjaya, Kabupaten Cianjur,  yang merupakan bagian dari desa binaan Harapan Amal Mulia, melalui program Paket Harapan Keluarga, dan Paket Harapan Yatim dan Dhuafa untuk membantu saudara-saudara muslim dan mualaf di Desa Sindangjaya, Kabupaten Cianjur dan desa-desa lainnya di seluruh Indonesia. (itari/harapanamalmulia)

Sahabat dapat berbagi kebahagiaan melalui rekening donasi berikut ini:

BCA 0083 6858 72

Mandiri 132 003 321 2342

a.n. Yayasan Harapan Amal Mulia

Halaman Rumah Kosong Jadi Awal Dakwah di Hegarmanah

|”Semangat dakwah harus tetap menyala, meski di tempat apapun memulainya. Berawal dari halaman rumah kosong sekalipun tidak melunturkan semangat syiar Bu Narti”

 

Harapanamalmulia.orgMemulai dakwah tidak selalu harus berasal dari masjid ataupun tempat ibadah. Jika nilai-nilai Islam sudah terpatri dalam diri, maka megawali dakwah dari halaman rumah kosong sekalipun tidak akan membuat goyah.

Hal inilah yang menjadi cikal-bakal berdirinya Madrasah Fatimah Az-Zahra, yang dibina oleh Sunarti. membina santri yatim dan dhuafa menjadi aktivitas kesehariannya setiap hari. Berikut sajian informasi lengkapnya yang telah Harapan Amal Mulia rangkum untuk anda

 

Halaman Rumah Kosong Menjadi Awal Perjalanan Dakwah

Antusiasme ibu-ibu warga Perum Hergarmanah, Kecamatan Cikancung, Kabupaten Bandung terhadap ilmu agama begitu tinggi. Dengan memanfaatkan halaman rumah kosong, mereka belajar mengaji kepada Ibu Sunarti (50 tahun).  Lambat laun anak-anak dari para ibu yang gemar mengaji pun didorong untuk menggali ilmu kepada Ibu Sunarti.

(Keterangan: Ibu Sunarti (50 tahun) tengah mengajar santri-santri di Madrasah Fatimah Az-Zahra/foto: Harapan Amal Mulia)

Santri yang terus bertambah menjadikan rumah Bu Narti (panggilan akrabnya) sudah tidak bisa menampung lagi. Pasang surut dalam membina juga sempat dialami, manakala satu persatu santri pergi karena kebutuhan sertifikat mengaji. Hal yang kemudian membuat Bu Narti mendaftarkan madrasah agar menjadi resmi.

Cita-cita Mulia Membina Anak Madrasah

Hingga kini, santri non mukim yang belajar di Madrasah Fatimah Az-Zahra berjumlah tidak kurang dari 120 orang. Setiap santri menerima materi dengan metode penggunaan lagam (tahsin) dan penguatan tajwid. Sementara pelajaran yang diprioritaskan di madrasah ini adalah tentang ibadah, fiqih, hadis, aqidah-akhlak, bahasan Arab serta Ulumul Qur’an dan Tahfiz.

(Keterangan: Dalam proses belajar mengajar di Madrasah Fatimah Az-Zahra, Bu Narti dibantu oleh pengajar sukarela lainnya/foto:Harapan Amal Mulia)

Kendati memiliki kurikulum yang komprehensif, Bu Narti tidak memungut biaya sepeser pun pada santri-santrinya. Keberlangsungan kegiatan belajar mengajar dibantu oleh empat pengajar sukarela lainnya, yang juga masih terkendala biaya operasional untuk sehari-hari. Sedangkan santri-santri yang belajar di madrasah adalah anak-anak  yatim dan mayoritas adalah dhuafa yang memerlukan dukungan para dermawan.

 

Baca juga: Perjalanan Dai Sindangjaya Sebar Syiar Kepada Warga Dhuafa

 

Bangunan yang ditempati madrasah merupakan hasil wakaf dari Pak Sopian, seorang donatur yang tergerak hatinya untuk membantu dakwah Bu Narti. Sedangkan untuk operasional listrik dibantu sukarela oleh warga sekitar.

Dalam keterbatasan tersebut, Bu Narti berharap besar jika sepeninggalnya nanti, santri-santri yang beliau bina dapat menjadi orang yang sholeh dan sholihah sehingga dapat berguna bagi sesama dan menjadi amalan jariah yang menolongnya di akhirat kelak.

 

Program Syiar Islam Mulia, Bantu Dakwah Bu Narti dan Madrasah Lainnya.

(Keterangan: Ibu Sunarti (pertama dari kanan) berfoto bersama seluruh santri dan guru suka relawan lainnya/foto:Harapan Amal Mulia)

 

Bersama Harapan Amal Mulia, mari membantu hadirkan dukungan terhadap aktivitas dakwah Bu Narti di Hegarmanah, serta pengurus madrasah di berbagai tempat lainnya, agar dakwah semakin berkembang tak putus arang karena keterbatasan.

Sahabat dapat menyalurkan dukungan melalui: kitabisa.com/amalsyiarislam

Semoga sebentuk ikhtiar kita dapat menjadi amal jariah yang tiada terputus keberkahannya.

(itari/harapanamalmulia)