Akankah Anak Pengungsi Rohingya Jadi ‘Generasi yang Hilang’?
Anak-anak pengungsi Rohingya bermain ayunan di taman bermain di kamp pengungsi Thangkhali, dekat Cox’s Bazar, Bangladesh, Kamis (9/8)

Amal Mulia–PBB dalam pernyataannya melalui UNICEF mengatakan bahwa anak-anak pengungsi Rohingya tidak memiliki pendidikan yang layak di kamp-kamp darurat di Bangladesh. Jika hal itu dibiarkan, maka akan memicu “generasi yang hilang” di masa depan.

“Kami membicarakan tentang resiko kehilangan atau potensi kehilangan satu generasi anak-anak Rohingya,” kata Simon Ingram, juru bicara UNICEF, dalam konferensi pers di Jenewa, Kamis, 23 Agustus 2018.

PBB memperkirakan 530 ribu hingga 600 ribu Rohingya yang tak memiliki kewarganegaraan masih bertahan di Rakhine termasuk sekitar 380 ribu anak-anak. Namun, PBB memiliki akses terbatas untuk masuk ke Rakhine.

Muslim Rohingya merayakan Idul Adha di pengungsian di Kutupalong, Bangladesh, Rabu (22/8)

Kehidupan dan masa depan lebih dari 380 ribu anak-anak di kamp-kamp pengungsi di Bangladesh dalam bahaya, sementara ratusan ribu anak-anak Rohingya masih di Myanmar terputus dari bantuan, begitulah laporan UNICEF, sebagaimana dikutip dari The Guardian pada Kamis (23/8/2018).

Pemerintah Myanmar menyinggung tentang persetujaunnya untuk menerima kembali pengungsi Rohingya yang lari ke Bangladesh. Pemimpin pemerintahan sipil Myanmar, Aung San Suu Kyi di Singapura menjelaskan, tempat telah disediakan untuk Rohingya yang kembali ke Myanmar.

Namun, Ingram menilai prospek Rohingya yang kembali ke Myanmar masih suram. Alasannya, kondisi Rakhine yang masih tidak aman bagi Rohingya.

Muslim Rohingya merayakan Idul Adha di pengungsian di Kutupalong, Bangladesh, Rabu (22/8)

Sementara itu, studi oleh badan amal Save the Children mengungkapkan bahwa lebih dari 6.000 anak tinggal seorang diri, terpisah dari orang tua, di Cox’s Bazar, yang merupakan pusat kamp pengungsi Rohingya di Bangladesh.

Beberapa lembaga amal dikabarkan setidaknya mampu menyediakan layanan dasar bagi anak-anak, seperti sekolah darurat, bimbingan konseling, dan akes literatur.

Namun hal itu diakui oleh para relawan, masih jauh dari tuntas karena kamp-kamp pengungsi yang penuh sesak rentang mengalami banjir, tanah longsor, dan bahan wabah penyakit. (history/amalmulia)

Sumber: Antara, Tempo.co