Benarkah Warga Kota Lebih Bahagia Dibanding Warga Desa?

|” Bahagia itu tidak terbatas ruang dan waktu, tapi bahagia itu kita yang ciptakan lho. Seperti potret warga di Desa Sindangjaya, Kabupaten Cianjur. Dengan segala anugerah alam yang ada, mereka punya cara tersendiri untuk tetap bahagia.”

 

Harapanamalmulia.orgBadan Pusat Statistik (BPS) meluncurkan hasil surveinya tentang Indeks Kebahagiaan Indonesia. Berdasarkan hasil Survei Pengukuran Tingkat Kebahagiaan (SPTK), diperoleh hasil bahwa indeks kebahagiaan penduduk yang tinggal di wilayah kota adalalah sebesar 71,64 dan 69,57 untuk indeks kebahagiaan bagi penduduk yang tinggal di pedesaan. Dari hasil tersebut diambil kesimpulan bahwa penduduk yang tinggal di perkotaan cenderung lebih bahagia dibandingkan penduduk yang tinggal di pedesaan.

Terlepas dari hasil survei yang dilansir BPS, seharusnya tempat di mana seseorang tinggal tidak dapat menjamin ukuran kebahagiaan seseorang. Termasuk bagi penduduk yang tinggal di pedesaan. Penduduk desa tentu juga bisa bahagia dan punya indikator kebahagiaannya tersendiri. Hal itu dibuktikan oleh para penduduk di Desa Sindangjaya, Kecamatan Ciranjang.

Bagaimana cara penduduk desa yang terletak di Kabupaten Cianjur ini dapat bahagia?

Berikut Harapan Amal Mulia, lembaga penghimpun donasi yatim dhuafa bagikan kisah selengkapnya untuk Sahabat semua.

 

Memetik Berkah dari Alam Desa

(Keterangan: Salah satu kegiatan bertani di Desa Sindangjaya /foto:Harapan Amal Mulia)

Desa yang terletak tidak jauh dari Waduk Cirata ini memiliki potensi alam yang begitu melimpah. Banyak warga yang mengais rezeki menjadi buruh tani di sawah, dengan upah Rp 30.000 per hari. Keberadaan waduk Cirata juga turut dimanfaatkan warga lainnya untuk menjadi nelayan pencari ikan, serta tidak jarang juga penduduk menambah pundi-pundi dengan menyewakan perahu wisata bagi para pengunjung waduk yang berdatangan.

Besar penghasilan yang diperoleh warga tergantung kepada musim dan cuaca, kadangkala ikan yang didapatkan nelayan begitu melimpah sehingga Rp 50.000 sudah dapat dibawa pulang, tetapi tidak jarang juga ikan hasil tangkapan tidak sebanyak hari-hari biasanya. Begitu pun dengan warga yang membuka usaha sewa perahu wisata, tidak menentunya kunjungan membuat penghasilan sehari-hari tidak dapat ditentukan. Dengan tarif Rp 15.000 per satu kali sewa perahu, pengunjung dapat mengelilingi waduk sepuas hati.

Kendati pundi-pundi rupiah yang dapat dibawa ke rumah tidak menentu setiap harinya, namun penduduk desa Sindangjaya percaya bahwa keberkahan dari yang Maha Kuasa tercurah dalam setiap genggaman harta yang telah mereka usahakan.

 

Bebas Jelajah Kampung Untuk Menuntut Ilmu

(Keterangan: Potret anak-anak Desa Sindangjaya saat pergi mengaji/foto:Harapan Amal Mulia)

Keseharian dari penduduk desa Sindangjaya tidak hanya sebatas mencari nafkah semata, pengajian rutin menjadi salah satu agenda wajib bagi ibu-ibu di sana. Tidak kurang dari dua kali dalam sepekan pengajian di gelar di masjid setempat. Dengan jama’ah pengajian rutin sekitar 70 orang, sebagian peserta harus rela menyimak dari teras masjid mengingat kapasitas ruang utama hanya dapat menampung setengahnya saja.

Kesadaran terhadap pentingnya ilmu agama membuat ibu-ibu Sindangjaya juga mengikuti pengajian di kampung-kampung lainnya. Saling memakmurkan masjid. Belum lagi kalau 1 ibu bawa 1 anak, tambah hiduplah masjid ini.” ujar salah satu jama’ah yang selalu antusias mengikuti pengajian.

Aktivitas di masjid terasa begitu hangat, manakala seusai para ibu mengaji, anak-anak Desa Sindangjaya berbondong-bondong untuk mengaji sore hari. Tanpa harus disuruh dan diminta, anak-anak berdatangan dengan sukarela untuk mengais ilmu dari ustaz setempat.

Simak informasi menarik lainnya: 7 Tips Antisipasi Corona Ala Santri Penghafal Al Quran

 

Berdikari Sejak Dini

Limpahan karunia alam yang dimiliki Desa Sindangjaya tidak serta merta membuat penduduknya berleha-leha. Namun sebaliknya, motivasi kuat untuk mandiri sejak dini menjadi semangat dalam mendatangkan kebahagiaan bagi penduduknya.

(Keterangan: Dewi (13 tahun) salah satu anak asal Desa Sindangjaya/foto: Harapan Amal Mulia)

Semangat ini yang ditunjukan oleh Dewi Yuniarti (13 tahun), meski sudah ditinggal oleh ayah kandung sejak masih kecil. Namun Dewi memiliki motivasi kuat untuk terus mengenyam bangku sekolah hingga perguruan tinggi. Kegemarannya akan pelajaran sains membuatnya bercita-cita menjadi dokter agar dapat mengobati orang sakit dan bermanfaat bagi banyak orang.

Kini bersama ibu dan ayah tirinya, Dewi selalu berusaha untuk dapat mandiri sejak dini, dengan penghasilan kedua ornag tuanya yang terbatas, tidak menyurutkan langkahnya untuk terus bersekolah dan mengejar impiannya.

 

Mendapatkan Perhatian dan Bimbingan

(Keterangan: Potret Ibu Suharlin bersama suaminya Pak Sholeh /foto:Harapan Amal Mulia)

Penduduk Desa Sindangjaya yang mayoritasnya Muslim, membangun toleransi yang baik dengan penduduk non-muslim yang berada di sana. Hubungan antar manusia yang berjalan baik kerap kali menjadi jalan hidayah bagi banyak mualaf yang tinggal di sekitar desa.

Seperti halnya Ibu Suharlin (40 tahun), ibu dari enam orang anak ini telah lama menjadi mualaf, kecintaannya yang besar terhadap Islam menjadikannya terus menggali ilmu lewat satu pengajian ke pengajian yang lainnya. Tidak kurang dari 2 kali dalam sepekan Ibu Suharlin menata jadwal mengajinya di dua masjid yang berbeda, ditengah kesibukannya bekerja serabutan seharian.

Ibu Suharlin yang telah merasakan pahitnya kegagalan rumah tangga ini, kini berjuang bekerja serabutan bersama suami barunya yang berprofesi sebagai pencari botol-botol plastik bekas. Meski hidup dalam kesederhanaan, Bu Suharlin tetap bahagia karena memiliki suami yang bertanggung jawab dan mampu membimbingnya untuk semakin taat kepada Allah Swt.

“Saya bahagia sekarang, walaupun cuma mulung botol plastik juga, ada yang ngajarin saya ngaji” ujarnya dengan mata berkaca-kaca.

 

Tambah Kebahagiaan Keluarga Desa

Sahabat Amal, kisah ragam kebahagiaan yang tercermin dari Desa Sindangjaya ini memberikan pelajaran berharga bagi kita semua, bahwa sejatinya bahagia itu mampu untuk diciptakan bukan semata-mata tergantung kepada tempat tinggal. Bahagia juga adalah tentang bagaimana kita menyikapi setiap keadaan dan berusaha dengan sebaik-baiknya ikhtiar yang kita bisa sebagai bentuk rasa syukur kepada Sang Pencipta.

Sahabat, mari kita tambahkan kebahagiaan kepada penduduk desa di mana pun berada, khususnya di Desa Sindangjaya, Kabupaten Cianjur,  yang merupakan bagian dari desa binaan Harapan Amal Mulia, melalui program Paket Harapan Keluarga, dan Paket Harapan Yatim dan Dhuafa untuk membantu saudara-saudara muslim dan mualaf di Desa Sindangjaya, Kabupaten Cianjur dan desa-desa lainnya di seluruh Indonesia. (itari/harapanamalmulia)

Sahabat dapat berbagi kebahagiaan melalui rekening donasi berikut ini:

BCA 0083 6858 72

Mandiri 132 003 321 2342

a.n. Yayasan Harapan Amal Mulia