facebook facebook facebook E-mail : harapanamalmulia@gmail.com, Call Center : 081 1234 1400

Dulunya Yatim, Kini Mereka jadi Tokoh Hebat di Dunia

Hidup berkecukupan bukan jaminan kesuksesan seseorang. Ketiga tokoh ini berhasil membuktikannya. Meski berlatar belakang yatim yang serba kekurangan, mereka mampu menjadi sosok hebat di dunia.

 

Harapanamalmulia.org Menjadi yatim bukanlah sebuah pilihan. Setiap anak pasti mendambakan kehidupan yang menyenangkan, berkecukupan atau setidaknya sama dengan anak-anak kebanyakan.

Namun apa mau dikata, setelah orang tua dipanggil Yang Maha Kuasa, anak-anak yatim hidup mengandalkan santunan anak yatim dan dhuafa yang datangnya tidak menentu.

Kendati demikian, hal tersebut bukan lah penentu kesuksesan seseorang. Buktinya, ketiga sosok hebat ini ternyata dulunya merupakan seorang yatim. Siapakah mereka?

 

1. Imam Syafi’i, Ulama Paling Berpengaruh

Ilustrasi Imam Syafi’i. (Sumber: Hidayatullah)

 

Imam Syafi’i lahir di Gaza pada tahun 150 Hijriyah. Ayahnya sudah meninggal dunia sejak Imam Syafi’i dalam kandungan. Beliau dibesarkan dalam kehidupan yang sulit dan serba kekurangan.

 

Namun hal itu tak membuat Imam Syafi’i putus asa apalagi bermalas-malasan dalam menuntut ilmu. Sosok yang masih merupakan kerabat Rasulullah Saw. ini akhirnya menjadi seorang ulama besar yang cerdas, dan termasuk ke dalam salah satu ulama paling berpengaruh bagi umat Islam.

 

Baca juga: Apa yang Islam Ajarkan Tentang Pembinaan Anak Yatim?

 

 2. Syekh Ahmad Yasin, Pendiri Gerakan Pembela Palestina

Syekh Ahmad Yasin, tokoh yang gigih membela Palestina ini dilahirkan sebagai anak yatim. (Sumber: Almanar)

 

Ahmad Ismail Yasin atau yang lebih dikenal sebagai Syekh Ahmad Yasin, sudah menjadi anak yatim sejak usianya tiga tahun. Ulama besar Palestina ini memiliki empat saudara laki-laki dan dua saudara perempuan. Keluarga mereka hidup dengan berbagai keterbatasan di pengungsian Gaza.

Keadaan menjadi semakin sulit saat Syekh mengalami sebuah kecelakaan dan akhirnya dinyatakan cacat, tak bisa berjalan seumur hidup. Kendati demikian, kondisi fisiknya tak menghalangi semangat belajar beliau yang tinggi. Ia menguasai berbagai cabang ilmu pengetahuan, terutama tentang Islam.

Saat dewasa, Yasin menjadi seorang oratur ulung, ahli strategi politik, dan yang paling terkenal adalah sebagai pendiri salah satu gerakan pembela Palestina.

 

3. Habibie, Presiden Indonesia Ke-3

Habibie sudah menjadi yatim sejak usianya menginjak remaja. (Sumber: Detik News)

 

Tokoh yatim terakhir namun tak kalah hebatnya adalah Baharuddin Jusuf Habibie. Presiden ketiga Republik Indonesia ini adalah anak keempat dari delapan bersaudara. Di usia beliau yang baru menginjak remaja (14 tahun) sang ayah meninggal dunia akibat serangan jantung.

Sejak saat itu, kehidupan Habibie tak sebaik sebelumnya. Beliau bahkan mengalami kehidupan yang sangat sulit saat menempuh pendidikan di Jerman.

Habibie dewasa dikenal sebagai sosok jenius yang mempunyai segudang prestasi. Ia pernah menemukan teori pembuatan pesawat terbang tercanggih pada zamannya.

 

Pencapaian-pencapaian besar ketiga tokoh di atas lahir dari mimpi-mimpi anak yang sudah tak mempunyai orang tua. Kondisi keluarga yang serba kekurangan menjadi motivasi lebih bagi mereka untuk terus belajar dan mewujudkan kehidupan yang lebih baik.

 

Hal tersebut juga yang kini dirasakan anak-anak yatim dan dhuafa di Istana Sufara Quran (ISQ) Asahan, rumah tahfiz binaan Harapan Amal Mulia. Misalnya Andin, salah satu santri penerima manfaat santunan yatim dan dhuafa mengungkapkan keinginannya untuk menjadi seorang guru. Bukan guru biasa, Andin ingin menjadi guru penghafal Quran bagi anak-anak di Indonesia.

 

Kisah selengkapnya: Terlahir Prematur, Semangat Menghafal Andin Tak Pernah Kendur

 

Ia yakin, dengan menjadi guru penghafal Quran akan lahir sosok-sosok cerdas dan religius yang dapat memberikan banyak manfaat bagi umat.

Semangat Andin dan anak yatim dan dhuafa di ISQ tak boleh berakhir begitu saja. Cita-cita mulia mereka harus kita dukung agar benar-benar terwujud. Maka dari itu, mari bantu wujudkan cita-cita mereka dengan mencukupi kebutuhannya selama berada di karantina. (history/harapanamalmulia)

 

Sumber: Republika, Bincang Syariah, Jogja Inside

 

Salurkan sedekah yatim dan dhuafa untuk santri Istana Sufara Quran (ISQ) melalui tautan kitabisa berikut >>> https://kitabisa.com/pedulihafizquran

 

Atau melalui rekening donasi:

Bank Syariah Mandiri (451) 2017 00 4029

a.n Yayasan Harapan Amal Mulia Yatim

 

Konfirmasi donasi:

Call/WA/SMS: 081 1234 1400

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *