facebook facebook facebook E-mail : harapanamalmulia@gmail.com, Call Center : 081 1234 1400

Idul Adha: Realisasi Ketakwaan Yang Didapat Dari Ramadhan dan Idul Fitri

idul adha

Amal MuliaDalam hitungan bulan, umat islam di seluruh dunia akan kembali menggemakan takbir dan merayakan Hari Raya yang kedua di tahun ini setelah Idul Fitri yaitu Hari Raya Idul Adha 1439 Hijriah. Menurut perhitungan, Idul Adha akan jatuh pada hari Rabu, 22 Agustus 2018. Hari tersebut menjadi Hari Raya karena tentunya banyak keistimewaan terkandung didalamnya yang tak kalah hebat dengan keistimewaan idul fitri.

Ketakwaan yang didapat melalui proses shaum Ramadhan dan berbagai rangkainnya, direalisasikan salah satunya pada momentum Idul Adha. Sebagaimana Allah berfirman dalam kitabnya yang mulia.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian agar kamu bertakwa” (QS. Al Baqarah: 183)

Orang beriman diperintahkan untuk berpuasa agar bertakwa, sedangkan rangkaian ibadah pada Idul Adha bersumber dari ketakwaan seorang hamba pada Rabbnya.

Surat Al Hajj Ayat 37:

لَنْ يَنَالَ اللَّهَ لُحُومُهَا وَلا دِمَاؤُهَا وَلَكِنْ يَنَالُهُ التَّقْوَى مِنْكُمْ كَذَلِكَ سَخَّرَهَا لَكُمْ لِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَى مَا هَدَاكُمْ وَبَشِّرِ الْمُحْسِنِينَ

“Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi Ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya. Demikianlah Allah telah menundukkannya untuk kamu supaya kamu mengagungkan Allah terhadap hidayah-Nya kepada kamu. Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang berbuat baik.”

سْأَلُونَكَ عَنِ الْأَهِلَّةِ ۖ قُلْ هِيَ مَوَاقِيتُ لِلنَّاسِ وَالْحَجِّ ۗ وَلَيْسَ الْبِرُّ بِأَنْ تَأْتُوا الْبُيُوتَ مِنْ ظُهُورِهَا وَلَٰكِنَّ الْبِرَّ مَنِ اتَّقَىٰ ۗ وَأْتُوا الْبُيُوتَ مِنْ أَبْوَابِهَا ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

“Mereka bertanya kepadamu tentang bulan sabit. Katakanlah: “Bulan sabit itu adalah tanda-tanda waktu bagi manusia dan (bagi ibadat) haji; Dan bukanlah kebajikan memasuki rumah-rumah dari belakangnya, akan tetapi kebajikan itu ialah kebajikan orang yang bertakwa. Dan masuklah ke rumah-rumah itu dari pintu-pintunya; dan bertakwalah kepada Allah agar kamu beruntung.” (Q.S. Al-Baqarah : 189)

Keistimewan Idul Adha sebagai bukti kemenangan kita setelah ditempa dan dibina oleh Ramadan dan Idul Fitri yang telah lalu  ini dapat diraih melalui beberapa rangkaian ibadah, diantaranya:

Ibadah Haji di Tanah Suci

Ibadah Haji merupakan rukun islam yang ke-lima, dimana seluruh umat islam yang mampu secara ilmu, fisik dan ekonomi berkumpul di tanah suci untuk menjalankan berbagai rangkaian ibadah haji. Umat muslim dari seluruh penjuru dunia dengan berbagai bangsa, latar belakang, warna kulit, dan bahasa yang berbeda disatukan dalam akidah yang satu yaitu Islam.   Berbekal ketakwaannya kepada Allah, mereka rela berhimpit-himpitan melaksanakan berbagai rangkaian ibadah yang cukup berat semata-mata demi meraih Ridho Allah. Ibadah ini merupakan ibadah yang sangat diimpikan dan diidamkan oleh muslim di seluruh penjuru dunia.

Puasa Arafah

Bagi kita yang tidak melaksanakan ibadah Haji sangat disunahkan untuk berpuasa pada hari Arafah. Puasa Hari ‘Arafah yaitu pada tanggal 9 Dzulhijah disaat kaum muslimin yang berhaji sedang melaksanakan perjalanan ke padang ‘Arafah dan berwukuf di sana. Puasa ini memiliki keutamaan yaitu dihapuskannya dosa-dosa kita setahun yang lalu dan setahun yang akan datang sesuai dengan Hadits Nabi Muhammad SAW:

“Puasa Hari Arafah dapat menghapuskan dosa setahun yang lalu dan setahun yang akan datang, dan puasa Assyura (10 Muharram) akan menghapuskan dosa setahun yang lalu.” (HR Muslim).

Solat Sunah Idul Adha

Shalat Idul Adha adalah shalat sunah yang dilaksanakan pada Hari Raya Idul Adha yang jatuh pada 10 Dzulhijjah. Pelaksanaannya kurang lebih sama dengan solat sunah Idul Adha.

Persamaan antara kedua shalat tersebut ada pada masahal hukum, tahun pensyariatan, jumlah rakaat, tidak ada adzan dan iqamah, tidak ada shalat sunnah sebelum dan sesudah, disunnahkan ada khutbah seusai shalat, dihadiri oleh semua kalangan, dikerjakan oleh Nabi di luar kota Madinah, dikejakan di waktu dhuha. Adapun perbedaan kedua solat ini adalah mengenai waktu pelaksaannya yaitu pada tanggal 1 Syawal untuk Idul Fitri dan 10 Dzulhijah untuk Idul Adha. Shalat Idul Adha dianjurkan untuk dilaksanakan lebih awal atau lebih pagi dibandingkan shalat Idul Fitri.

Berkurban

Selanjutnya amalan pada Hari Raya Idul Adha yaitu diselenggarakan ibadah Kurban. Secara sederhana, kurban diartikan sebagai  menyembelih binatang ternak yang sudah cukup umur (unta,sapi, lembu, sapi, kambing), setelah Shalat Ied pada Hari Raya Idul Adha sampai tergelincir matahari pada hari terakhir Tasyrik (13 Zulhijah). Kisah Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail yang terdapat di dalam Al Quran (QS Ash-Shaffat [37]: 99-113) menjadi dasar disyariatkannya kurban bagi umat Muslim.

Cerita bermula dari Kisah Nabi Ibrahim dan Siti Hajar yang sudah lama menikah namun belum dikarunai seorang anak pun. Doa dan usahanya agar mempunyai anak akhirnya membuahkan hasil, dan lahirlah seorang bayi laki-laki tampan bernama Ismail. Namun, kebahagiaan keluarga tersebut tidak berlangsung lama karena dalam mimpinya, Nabi Ibrahim mendapatkan perintah untuk menyembelih anaknya. Kemudian Nabi Ibrahim menanyakan hal ini kepada Ismail yang diabadikan di dalam Al Quran (QS Ash Shaffat [37]: 102).

“Wahai anakku! Sesungguhnya aku bermimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah apa pendapatmu? ” Selanjutnya di dalam ayat yang sama Ismail menjawab: “Wahai ayahku, lakukanlah apa yang diperintahkan Allah kepadamu. Insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar. ”

Lalu tatkala Nabi Ibrahim sudah membaringkan Ismail dan siap menyembelihnya maka seketika itu pula Allah SWT langsung memanggil Nabi Ibrahim dan langsung mengganti Ismail dengan seekor sembelihan yang besar.

Dari peristiwa tersebut sungguh nyata ujian keimanan dan ketakwaan yang berhasil dilalui oleh Nabi Ibrahim. Lalu bagaimana dengan kita. Apa sanggup untuk menyembelih anak sendiri. Allah SWT pun sudah mengetahui bahwa kita tidak akan mampu. Meskipun demikian kita tetap bisa mengambil nilai ketaatan dan kepatuhan sebagai seorang hamba yang diajarkan oleh Nabi Ibrahim dengan menyisihkan sebagian harta kita untuk berkurban. (history/amal mulia)

Sumber: ejaaba.com

Categories :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *