Madrasah Pertama Berawal Dari Rumah

|”Pendidikan di keluarga memiliki posisi yang begitu penting dalam pembentukan karakter serta spiritualitas anak. Peran dan keberadaan orang tua sepenuhnya menjadi kuncinya”

 

Harapanamalmulia.org— Rumah tidak hanya menjadi sebuah simbolisasi dari ungkapan ‘pulang’ bagi setiap anak-anak di dunia ini, atau sebuah frasa ‘kembali kepada keluarga’. Rumah sendiri memiliki definisi yang luas tidak hanya sebagai suatu tempat, melainkan juga  awal dari lahirnya sebuah peradaban.

Rumah selayaknya dapat menjadi madrasah pertama bagi setiap anak, tempat belajar mengenai agama sebagai pondasi hidup, memahami adab dan moral terhadap sesama, kemudian menjadi tempat berbagi pengetahuan tentang kehidupan.

Kendati tidak semua anak beruntung memiliki rumah dan keluarga sebagai tempat bernaung, bagi anak-anak yatim dan dhuafa, memaknai keluarga dan rumah adalah juga tentang orang-orang yang peduli akan kehidupan mereka.

Berikut lembaga penghimpun donasi yatim dan dhuafa, Harapan Amal Mulia sajikan informasinya untuk Sahabat Amal semuanya.

 

Rumah, Tempat Anak Temukan Teladan

(Keterangan: Kegigihan seorang ayah dalam mencari nafkah dapat menjadi teladan yang baik untuk anak/foto: Harapan Amal Mulia)

Bagi anak-anak yang masih memiliki orang tua yang utuh, tentu keberadaan dari sosok ayah dan ibu dalam keseharian bersama keluarga sangat memberikan dampak. Setiap tindak-tanduk yang dilakukan oleh kedua orang tua, secara tidak langsung akan terekam dalam memori anak dan menjadikan sebuah ingatan yang akan terus dikenang sepanjang pertumbuhannya serta menjadi sebuah role model bagi anak.

Maka tidaklah heran ada ungkapan yang menyatakan bahwa “buah tidak akan jatuh jauh dari pohonnya”. Ketika pohonnya berpenyakit, maka buah yang dihasilkannya pun tidak akan memenuhi standar yang bagus. Begitu pun dengan pohon yang sehat, dirawat, disiram dengan air yang bagus, maka sudah menjadi lumrah jika buah yang dihasilkannya akan bagus dan manis terasa.

Oleh karenanya, orang tua memiliki kewajiban untuk menyajikan sikap serta teladan yang baik kepada anak, agar setiap tindakan yang akan ditiru anak adalah tindakan akhlaqul karimah yang berdasar pada Al Qur’an dan Sunnah.

 

Pendidikan Utama Anak Ada Di Rumah

Masa-masa usia emas seorang anak berada dikisaran usia 0 sampai 5 tahun, di mana dalam rentang usia ini anak berada dalam fase perkembangan yang sangat baik, sehingga kesempatan orang tua untuk menanamkan nilai-nilai agama dan pendidikan dasar bagi anak sangat terbuka.

Seorang ibu yang mengemban amanah sebagai al ummu madrosatul ulaa menempati posisi yang begitu penting. Sejak 14 abad yang lalu Al Qur’an telah berbicara mengenai pentingnya seorang ibu menyusui bayinya hingga usia 2 tahun. Di mana dalam momentum ini, seorang ibu memiliki kesempatan yang begitu luas untuk membentuk ikatan batin yang kuat dan kokoh dengan bayinya. Bentuk ikatan ini yang kemudian akan berpengaruh pada perkembangan anak pada masa yang akan datang, anak akan merasa memiliki sosok ibu yang mengasihi sehingga tidak akan merasa perlu mencari kasih sayang dari luar rumah.

Baca Juga: 3 Cara Mudah Titip Donasi Yatim Dhuafa di Harapan Amal Mulia

 

Rumahku, Sumber Motivasiku

Orang tua yang selalu ada dan bijaksana dalam memandang setiap lika liku kehidupan yang dialami oleh anak akan memberikan motivasi dan memberi semangat hidup yang lebih baik bagi setiap anak.

Menguatkannya dikala terpuruk, membantunya naik dikala jatuh, menjadi sandaran utama saat lelah dan menjadi tempat berbagi cerita terbaik akan membentuk mental positif bagi anak, sehingga anak tidak pernah merasa sendiri dan sepi.

Simak informasi menarik lainnya; Perjalanan Dai Sindagjaya Sebar Syiar Kepada Warga Dhuafa

 

Ayah Dan Ibu, Sang Kepala Madrasah

Kolaborasi antara ibu dan ayah sangat diperlukan untuk menghadirkan pendidikan terbaik bagi anak sejak dari rumah. Mengetahui minat dan ketertarikan anak pada suatu bidang tentu akan sangat berguna jika diketahui sedari dini.

Lagi-lagi orang tua harus mengambil porsi yang banyak dalam hal ini, untuk menghasilkan generasi-generasi berkualitas yang dapat ikut andil dalam membangun peradaban yang semakin lebih baik kedepannya.

 

Akhirat Dahulu, Dunia Kemudian

(Keterangan: Aktivitas Ustaz Ade saat mengajar di Madrasah Nurul Ikhwan/foto: Harapan Amal Mulia)

Menanamkan nilai agama dalam keseharian keluarga serta menautkannya dalam pendidikan anak telah dilakukan oleh Ade Salimudin (52 tahun) kepada semua anak dan keluarganya. Ustaz Ade panggilan akrabnya menekankan pelajaran penting kepada 6 orang anaknya untuk selalu mendahulukan kepentingan akhirat, dan mencari ilmu agama lebih dahulu, kemudian biarkan urusan dunia yang akan mengikuti.

Berbekal pendidikan pesantren yang pernah diembannya, Ustaz Ade menjadikan pendidikan agama sebagai dasar ilmu pertama yang dipelajari dalam keluarga dan anak-anaknya. Ustaz yang sehari-hari juga bekerja sebagai pengrajin batu bata ini telah mendedikasikan banyak waktunya tidak hanya sekadar bekerja dan menjadi imam keluarga, tetapi juga mendirikan madrasah pengajian untuk anak-anak disekitar kampungnya.

Ustaz Ade Salimudin yang juga merupakan penerima manfaat Harapan Amal Mulia ini telah memberikan contoh nyata dalam menjadikan rumah sebagai madrasah pertama bagi anak dan keluarga, sehingga dari keluarga yang dibangun dengan landasan yang kokoh, dapat menjadikan masing-masing pribadi anggota keluarga semakin berdaya di masyarakat.

Sahabat, mari kita terus dukung banyak keluarga di sekitar kita agar dapat menjadikan rumah sebagai madrasah pertama bagi setiap anak agar nilai-nilai agama tertancap dengan kuat, dan pengetahuan didapat sedari dini. (itari/harapanamalmulia)

Sumber: Irawati Istadi, Rumahku Tempat Belajarku