Ramadan di Gaza, Pasokan Makanan Makin Terbatas
Gaza

AmalMulia-Kekurangan dan keputusasaan adalah sedikit gambaran dari banyak kesulitan yang dialami masyarakat yang hidup di Jalur  Gaza. Banyak warga tidak mempunyai akses air bersih karena tercemarnya sistem penyedia air bersih oleh limbah.

“Keputusasaan bahkan bukan kata yang lagi tepat untuk menggambarkan apa yang terjadi di sini karena keadaan menjadi semakin buruk” tutur Omar Ghraieb (31) salah satu jurnalis yang tinggal di Gaza. “Setiap hari Kami bangun ke Dunia Perjuangan” (LA Times: 8/2/18).

Selama lebih dari satu dasawarsa, warga Palestina yang tinggal di Gaza telah mengalami eskalasi besar kekerasan dan blokade darat, udara dan laut, yang dipaksakan oleh Israel, yang telah menghancurkan infrastruktur, menghambat pertumbuhan Ekonomi dan membuat kondisi kehidupan yang begitu suram.

“Ramadan di Gaza berbeda tahun ini. Setiap tahun kemiskinan meningkat tetapi pada Ramadan tahun ini ratusan keluarga harus pula mengatasi  kesedihan akibat kehilangan begitu banyak orang yang mereka cintai dalam konflik terakhir. Ketika mereka duduk di meja untuk berbuka puasa, pikiran mereka bersama mereka yang tidak bergabung dengan tahun ini. Ibu yang kehilangan putra dan putri mereka, anak-anak yang kehilangan ayah mereka.” Tutur Omar.

Hal serupa juga diungkapkan oleh seorang Ibu yang tinggal di Jalur Gaza Om Hamdan Thabet. Beliau mengaku kesulitan menjalani Ramadan tahun ini. Ia tidak dapat menemukan bahan makanan apapun di kulkas untuk dijadikan hidangan sahur bagi anak-anak dan suaminya.

Thabet hanya menemukan sedikit rempah daun timi untuk disajikan dengan secangkir teh kepada tujuh anggota keluarganya. Ia berharap thyme dapat membuat keluarganya kuat berpuasa selama 14 jam. Untuk hidangan berbuka, Thabet mengaku akan berusaha mencari kacang-kacangan jenis lentil.

Berbicara kepada kantor berita Asharq al-Awsat, Minggu 20 Mei 2018, Thabet mengaku harus berjuang keras karena suaminya sudah tidak dapat bekerja lagi. Suaminya kini hanya bisa duduk di kursi roda, sementara dua anaknya juga mengalami disabilitas.
Selama ini, keluarga Thabet bisa bertahan hidup dari bantuan sejumlah asosiasi dan kepedulian warga sekitar.

Ribuan keluarga di Jalur Gaza hidup dalam kondisi yang lebih kurang sama seperti Thabet. Penderitaan mereka semakin menjadi setelah otoritas setempat berhenti memberikan bantuan kepada keluarga miskin. Aliran listrik ke rumah-rumah warga juga hanya dibatasi empat jam per hari. (history/amalmulia)