Terlahir sebagai Yatim, Bagaimana Perjuangan Rasulullah Sewaktu Kecil?

Rasulullah Saw. mempunyai masa kanak-kanak yang cukup berat tanpa kehadiran orang tua. Namun takdir tersebut lah yang justru membentuk beliau menjadi pribadi yang dikagumi.

Harapanamalmulia.org – Sosok Nabi Muhammad Saw. sangat menarik untuk dibahas. Bukan hanya mengenai kisah setelah kenabian, tapi juga tentang masa kecil beliau. Salah satu bagian yang patut kita kagumi dari sosok Nabi terakhir ini adalah perjuangan hidup beliau sebagai seorang anak yatim.

Rasulullah Saw. lahir pada hari Senin, 12 Rabiul Awal Tahun Gajah atau 22 April 571 Masehi dari seorang wanita berketurunan Bani Zuhrah, Aminah Binti Wahab. Ayahnya, Abdullah bin Abdul Muthalib wafat dalam medan perang saat Rasulullah masih enam bulan dalam kandungan. Akhirnya, ia lahir sebagai seorang yatim.

Tak berhenti di situ, saat Rasulullah berusia enam tahun, ibunya juga meninggal dunia karena sakit yang diderita dalam perjalanan ziarah ke pemakaman suaminya. Mulai saat itu, Rasulullah resmi menjadi seorang anak yatim piatu.

Setelah orang tuanya wafat, pengasuhan Rasulullah beralih kepada Sang Kakek, Abdul Muthalib yang tinggal di Kota Mekkah.

 

Tumbuh dalam Asuhan Sang Kakek yang Penuh Kasih Sayang

Rasululullah yang mengalami duka akibat kepergian orang tua membuat Abdul Muthalib selalu memberikan kasih sayang yang besar kepada cucunya. Melalui pengasuhan Sang Kakek, Rasulullah tumbuh menjadi seorang yang lembut dan penuh kasih sayang.

Namun kesedihan lagi-lagi menimpa Rasulullah. Pada usia delapan tahun, Sang Kakek wafat. Akhirnya pengasuhan beliau harus berpindah ke Abu Thalib, Sang Paman.

Baca juga: Cahaya Islam yang Sempurna dalam Akhlak Mulia Rasulullah Saw.

 

Belajar Mandiri dengan Berdagang

Ilustrasi Rasulullah sebagai pedagang. (Sumber: Tfanews)

Tumbuh dalam pengasuhan Abu Thalib memberikan banyak hikmah bagi Rasulullah. Salah satunya, beliau bisa belajar mandiri secara ekonomi dengan berdagang. Saat Rasulullah berusia dua belas tahun, ia sudah diajak diajak berdagang ke Negeri Syam.

Banyak ilmu yang beliau tuai selama berdagang. Dari ilmu-ilmu tersebut, beliau menjadi seorang pedagang ulung di kemudian hari.

 

Menjadi Penggembala Kambing

Pada masa awal remaja, Rasulullah tidak mempunyai pekerjaan tetap. Hari-harinya banyak dihabiskan dengan menggembala kambing milik Abu Thalib. Bukan sekedar untuk mencari nafkah, Rasulullah menggembala dengan tujuan mengambil kesempatan dakwah. Keuletan Rasulullah dalam menggembala juga menjadi teladan bagi umat agar selalu bekerja  dengan amanah.

Masa-masa berat tanpa kehadiran orang tua yang dialami Rasulullah, membuat beliau menjadi seorang yang amat mencintai anak-anak yatim. Kecintaan tersebut tentu saja bukan berasal dari naluri manusia biasa, melainkan atas pengaturan Allah Swt.

Memberikan santunan yatim dan dhuafa salah satu merupakan ikhtiar Harapan Amal Mulia memuliakan mereka.(Dok. Harapan Amal Mulia)

 

Allah begitu mencintai hamba-Nya yang memuliakan yatim. Dalam sebuah Hadis, Ia bahkan menjanjikan surga yang berdekatan dengan Rasulullah untuk kita yang menanggung kehidupan yatim.

Kedudukanku dan orang yang menanggung anak yatim di surga bagaikan ini.”   [Beliau merapatkan jari telunjuk dan jari tengahnya]. (HR. Bukhari)

 

Sahabat, menjadi yatim bukanlah musibah. Kehadirannya mereka tengah-tengah kita justru merupakan berkah karena menjadi ladang pahala untuk bersedekah. Semoga Allah senantiasa memudahkan kita untuk bisa memuliakan anak-anak yatim. (history/harapanamalmulia)

 

Sumber: Sirah Nabawiyah karya Syaikh Shafiyyurrahman Al-Mubarakfuri