Category: Nasional

Category: Nasional

Manfaat Program Rumah Tahfiz Nusantara Telah Sampai di Garut

“Berangkat dari kerinduan akan lingkungan Islami, Ustaz Taufik membidani lahirnya Pesantren Izhaarul Haaq, Kersamenak. Kebaikan Sahabat, telah turut melengkapi perjuangan dakwah Ustaz Taufik di Garut”

Harapanamalmulia.orgBerawal dari mimpi mewujudkan lingkungan yang Islami untuk anak-anak, Pesantren Izhaarul Haaq pun lahir di tengah-tengah masyarakat Desa Kersamenak, Kecamatan Tarogong Kidul, Kabupaten Garut.

Pesantren yang telah berdiri sejak 2013 ini menjadi rumah bagi santri-santri yatim dan dhuafa yang ingin menghafal Al Quran. Sepanjang perjalanan pendirian pesantren ini hingga kini, telah banyak lika liku kisah yang dilalui.

Harapan Amal Mulia, lembaga yang menghimpun donasi dan sedekah untuk yatim dhuafa telah sajikan kisah selengkapnya untuk Sahabat semua.

 

Berawal Dari Keresahan, Pesantren Ini Lahir

Menemukan lingkungan yang Islami bagi tumbuh kembang anak menjadi salah satu aspek yang sangat diperhatikan oleh Ustaz Taufik Nuryana. Sepulangnya mengenyam pendidikan di Libya, memberikan motivasi baginya untuk pulang ke Garut, lantas mendirikan pesantren pada tahun 2013 silam.

Ustaz Taufik yang membidani lahirnya pesantren ini memfokuskan tujuan pesantren sebagai sarana untuk menghafal Al Quran bagi yatim dan dhuafa. Cita-cita mulia ini kemudian mendapat respon yang positif, terbukti dari mulai berdirinya hingga sekarang ini telah membina sekitar 70 santri yatim dhuafa, serta santri terbina sebanyak 1400, selama 7 tahun ini.

(Ustaz Taufik Nuryana, Lc. Bersama santri Izhaarul Haaq/foto:Harapan Amal mulia)

 

Perjuangan Ustaz Taufik dalam berdakwah dan mendirikan pesantren tidak serta merta berjalan dengan begitu mudah. Di awal hijrahnya ke Garut, Ustaz Taufik mendapatkan donatur yang berasal dari Arab Saudi, yang membantu pendirian pesantren serta mendirikan 154 Masjid yang tersebar di Garut dan kota-kota lainnya.

Namun, sekarang, masa penerimaan bantuan tersebut telah habis, sehingga Pesantren Izhaarul Haaq mengalami kendala dalam menjalankan proses pembinaan serta untuk mencukupi kebutuhan operasional sehari-hari untuk para santrinya.

 

Simak sajian informasi lainnya “Rumah Tahfiz Gratis, Hadirkan Layanan Terbaik Bagi Santri Dhuafa”

 

Pembinaan Santri Kini Tak Terhalang Lagi

(Keterangan: Potret kebahagiaan para santri Izhaarul Haaq/foto:Harapan Amal Mulia)

 

Berkat kebaikan Sahabat, alhamdulilah kini santri-santri penghafal Al Quran di Pesantren Izhaarul Haaq dapat semakin khusyu dalam menghafal. Kebutuhan mushaf Al Quran untuk semakin menunjang proses pembinaan sudah terdistribusikan kepada seluruh santri. Sehingga santri semakin termotivasi menyelesaikan hafalan yang sudah ditargetkan.

 

Lengkapi Semangat Menghafal Santri, Dengan Penuhi Gizi Setiap Hari.

(Keterangan: Senyum bahagia santri kala menerima bantuan bahan makan bergizi/foto: Harapan Amal Mulia)

 

Kebaikan Sahabat juga telah berwujud dalam gizi lengkap dan seimbang yang telah sampai pada setiap piring makan para santri. Santri pun dapat menjalani proses pembinaan tanpa takut kekurangan gizi, juga tidak risau lagi tentang menu makan yang akan mereka santap, karena operasional pangan sehari-hari telah sampai ke pesantren ini.(itari/harapanamalmulia)

Bersama Harapan Amal Mulia, Sahabat dapat terus menyambung kebaikan untuk para santri melalui Program Rumah Tahfiz Nusantara. Sahabat dapat semakin membantu para penghafal Al Quran, serta madrasah dan rumah tahfiz lainnya di seluruh Nusantara untuk menunjang kegiatan pembinaan, dan tidak lupa penuhi gizi hariannya.

Sahabat dapat menyalurkan donasi terbaik melalui pilihan rekening donasi di bawah ini:

 

BCA 0083 6858 72
Mandiri 132 003 321 2342
BSM 717 313 414 7
a.n. Yayasan Harapan Amal Mulia

Mulia Dengan Amal Terbaik

Kisah Hidup Sederhana Petani Desa

“Menjalani setiap episode tantangan dalam kehidupan tidak lantas menjadikan para petani dhuafa di Sindangjaya, Kabupaten Cianjur berputus asa. Keterbatasan boleh saja dialami, tetapi ikhtiar dan tawakal terus dipanjatkan kepada Illahi Rabbi”

 

Harapanamalmulia.orgDapat tinggal dan menetap di desa yang dianugerahi kekayaan alam adalah sebuah kesyukuran yang harus dipanjatkan kehadirat Allah Swt. Kendati bertahun-tahun menjadi petani penggarap lahan orang, namun para petani penggarap lahan di Desa Sindangjaya, Kecamatan Ciranjang tidak pernah berputus asa.

Mencari rezeki tidak selalu berpatokan kepada berapa harga upah yang diterima, tetapi mendapat amanah menggarap sawah orang menjadi nilai kepercayaan yang harus terus dijaga. Setidaknya itulah nilai perjuangan hidup bagi Bu Hasanah, Bi Ela dan Bi Erni sebagai petani penggarap sawah orang, di desa yang menjadi bagian dari Kabupaten Cianjur itu.

Harapan Amal Mulia, lembaga penghimpun sedekah yatim dhuafa telah sajikan kisah selengkapnya tentang perjuangan para petani penggarap sawah orang.

 

Penghasilan Dari Menggarap Sawah Orang

Desa Sindagjaya, Kecamatan Ciranjang Kabupaten Cianjur itu memiliki banyak potensi alam yang melimpah ruah. Dekatnya posisi desa dengan waduk Cirata membuat sebagian penduduk berprofesi sebagai nelayan, juga tidak jarang penduduk yang memilih usaha menyewakan kapal wisata. Sedangkan mayoritas penduduk lainnya berprofesi sebagai petani, baik itu petani pemilik sawah, maupun petani penggarap lahan orang.

Ibu Hasanah, Bi Ela Hayati, dan Bi Erniati, adalah segelintir penduduk Sindangjaya yang berprofesi sebagai petani. Kendati tidak memiliki lahan sawah pribadi, namun mereka diamanahi untuk menggarap lahan orang.

(Ibu Hasanah (50 Tahun) salah satu petani dhuafa di Desa Sindangjaya/foto:Harapan Amal Mulia)

Ibu Hasanah (50 tahun) dan suaminya diberi kepercayaan untuk mengelola lahan dengan sistem bagi hasil. Setiap masa panen tiba, seluruh padi harus dibagi dua dengan pemilik lahan. Sawah seluas 300 tumbak yang dikelola dapat menghasilkan sekitar 1 ton beras sekali panen, sehingga Bu Hasanah memperoleh 500 Kg beras dengan masa panen 4 bulan sekali. Selama masa tunggu panen, untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari, Bu Hasanah sangat mengandalkan dari beras bagi hasil yang diperolehnya, agar dapat sampai pada masa panen yang akan datang.

Berhemat dengan menu lauk sederhana adalah cara Bu Hasanah dan keluarga agar mampu menyambung hidup setiap harinya. Apalagi dengan masih memiliki anak yang duduk di bangku SMA, membuat Bu Hasanah juga sesekali menerima panggilan menjadi juru masak catering, walau bukan sebuah pekerjaan rutin yang dirinya jalani. Sedangkan sang suami, mengisi hari dengan mencari pakan untuk domba ternakannya.

 

Bertahan Dalam Keterbatasan

(Bi Ela Hayati (47 Tahun) salah satu petani dhuafa di Desa Sindangjaya/foto:Harapan Amal Mulia)

Kisah petani penggarap lahan orang juga menjadi keseharian dari Ela Hayati (47 Tahun), warga Kp. Calincing Desa Sindangjaya ini memperoleh 10 Kg beras setiap 4 bulan sekali dari hasil panen sawah garapannya. Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari Bi Ela (panggilan akrabnya) juga harus mencari penghasilan tambahan sebagai juru masak catering yang tidak selalu ada setiap hari.

Sedangkan sang suami, yang memiliki profesi sebagai ojeg perahu di Waduk Cirata juga tidak dapat membawa besaran rupiah yang menentu sesampainya di rumah. Rp 30.000 sampai Rp 50.000 adalah besaran nominal yang dapat diperoleh dari hasil ojeg perahu. Dengan anak bungsu yang masih duduk di bangku Madrasah Tsanawiyah (setingkat SMP) Pasir Nangka, membuat Bi Eli dan suami harus berhemat pengeluaran setiap harinya.

(Selain menjadi petani, Bu Erniati (42 tahun) mencari tambahan penghasilan dengan menjadi juru masak catering/foto: Harapan Amal Mulia)

 

Situasi yang sama juga dirasakan oleh Bi Erniati (42 tahun), 10 Kg beras diperolehnya dari hasil menggarap sawah orang. Selama menunggu panen tiba, beras tersebut menjadi andalan dalam mencukupi kebutuhan sehari-hari, yang tentu selalu habis tak bersisa selama 4 bulan digunakan. Bekerja serabutan pun menjadi sebuah pilihan yang akhirnya harus ditempuh demi asap dapur yang harus mengepul. Untuk mencukupi keperluan sehari-hari, suami Bi Erni pun berkerja mengelola tambak ikan di waduk Cirata. Hasil dari tambak ikan sedikitnya dapat membantu keluarga Bi Erni dalam menyambung hidup sampai masa panen tiba. Dengan penghasilan kurang lebih Rp 1.000.000/bulan, Bi Erni dan keluarga harus mengatur strategi agar cukup untuk kebutuhan dapur dan biaya sekolah anak bungsu yang masih mengenyam pendidikan di SMP PGRI Ciranjang.

 

Harapan Lebih Baik Pada Masa Depan

(Salah satu kegiatan pertanian di Desa Sindangjaya/foto:Harapan Amal Mulia)

 

Kenyataan hidup yang dialami oleh Ibu Hasanah, Bi Ela dan Bi Erniati menjadi segelintir cerita, bahwa perjuangan harus tetap dijalani walau dengan keterbatasan yang ada. Usaha terus digiatkan, serta tidak lupa memohon kepada Sang Pencipta agar mendapat limpahan keberkahan dalam menjalani kehidupan. Kendati kerasnya hidup yang dijalani, dan harus berhemat setiap harinya, tidak lantas membuat kehilangan harapan dalam kehidupan.

Ibu Hasanah, Bi Ela dan Bi Erniati selalu berharap dan yakin bahwa kelak kehidupan akan lebih baik asalkan tidak melepas ikhtiar, do’a dan tawakal kepada Illabi Rabbi

(itari/harapanamalmulia)

 

Keyakinan yang sama juga membuat Harapan Amal Mulia tergerak untuk membersamai perjuangan Ibu Hasanah, Bi Ela, dan Bi Erniati serta para keluarga pra-sejahtera lainnya untuk mewujudkan masa depan yang lebih baik.

Mari kirim bantuan kebahagiaan untuk para keluarga petani dan keluarga pra-sejahtera lainnya melalui program Paket Harapan Keluarga. Paket yang berisi macam-macam sembako ini begitu dinantikan para keluarga dhuafa di Indonesia, agar dapat memenuhi kebutuhan sehari-harinya.  

Sahabat Amal dapat menyalurkan bantuannya melalui rekening donasi

BCA 0083 6858 72

Mandiri 132 003 321 2342

a.n. Yayasan Harapan Amal Mulia

Urgent! Masyarakat Kecil Juga Tak Mau Terjangkit Corona

“Bersyukurlah jika Sahabat bisa bekerja di dalam rumah, karena di luaran sana masih banyak yang harus menerjang bahaya Corona untuk mencari nafkah”

 

Para pedagang kecil, supir angkutan umum, hingga petugas kebersihan, tetap bekerja di jalanan di masa-masa mewabahnya virus COVID-19. Padahal, rentan sekali lalu lalang jalanan dalam hal persebaran wabah. Tanpa alat pelindung lengkap, potensi paparan virus corona begitu besar, terlebih bagi mereka yang masih harus turun ke jalan demi mencari nafkah.

Tak ada pilihan lain, begitupun bagi Rizki (Iki). Iki masih berusia 12 tahun, namun bocah yatim dari Bandung ini kerap kali harus menyusuri jalanan, membantu ibunya agar bisa mengepul barang-barang bekas demi bisa mendapatkan rupiah. Walau bahaya bekerja di luar rumah mengintai dari segala arah, mencukupi kebutuhan dapur menjadi hal yang lebih ia ukur.

Karena pola makan dan lingkungan yang kurang terjaga, sering sekali penyakit asma yang diderita Iki sejak bayi kemudian kambuh. Ibunya yang juga sakit-sakitan hanya bekerja sebagai asisten rumah tangga dengan upah tak seberapa, sehingga ia tak bisa memberikan pengobatan yang maksimal bagi keluarga. Jangankan pengobatan, upaya pencegahan pun tak sanggup dilakukan.

 

Simak Informasi menarik lainnya: 7 Tips Antisipasi Corona Ala Santri Penghafal Al Quran

 

Bagaimana nasib keluarga kecil ini di tengah mewabahnya pandemi? Bukankah orang-orang sakit yang bekerja di jalanan memiliki risiko ganda untuk tertular virus corona?

Untuk itu, Harapan Amal Mulia melalui program Amal Mulia Peduli mengajakmu untuk bantu keluarga dhuafa dari bahaya virus corona. Gerakan ini akan kami dedikasikan untuk para keluarga pra sejahtera di berbagai wilayah Indonesia dengan pemberian bantuan berupa paket masker dan hand sanitizer. Cukup dengan berdonasi sejumlah Rp30.000 saja, Anda sudah bisa memberikan rasa aman di tengah masyarakat kecil dan membantu mereka tercegah dari virus corona.

Anda bisa kirimkan bantuan melalui rekening berikut:

Bank Syariah Mandiri

717 313 414 7

a.n. Yayasan Harapan Amal Mulia

Silakukan lakukan konfirmasi apabila sudah mentransfer, dengan menghubungi:

Call Center: 081 1234 1400

 

Mulia dengan Amal Terbaik

Berbagi Makanan Bergizi Untuk Santri Yatim-Dhuafa

“Masih ingat kisah menu makan sederhana di Pesantren Nurul Masakin Sumedang? Berkat bantuan Sahabat, Alhamdulillah, kini sedekah makanan bergizi telah tersampaikan”

 

Harapanamalmulia.orgDengan bermodal uang Rp 40.000 setiap harinya, belasan santri yatim dan dhuafa di Pesantren Nurul Masakin, Sumedang harus berbagi porsi makan setiap pagi dan sore dengan menu sederhana. Terbatasnya jatah uang belanja yang diberikan membuat menu yang disajikan itu-itu saja.

Tahu menjadi menu andalan karena selain harganya murah, pedagang pasar kerap kali memberikan bahan masakan olahan itu sebagai sedekah yatim dhuafa. Soal gizi adalah nomor kedua, sebab yang pertama adalah tentang mensyukuri setiap makanan yang ada.

 

Ikhtiar Bersama Hadirkan Sajian Menu Penuh Gizi

Harapan Amal Mulia terus berupaya untuk membantu memenuhi kebutuhan gizi santri yatim dan dhuafa sebagai bagian dari komitmen bersama Sahabat Amal. Dengan dorongan semangat tersebut Harapan Amal Mulia menghimpun donasi untuk membantu memperbaiki gizi para santri.

(Keterangan: Kebersamaan makan bersama santri yatim dhuafa Pesantren Nurul Masakin/foto: Harapan Amal Mulia)

 

Alhamduillah berkat kepercayaan donatur, tim Harapan Amal Mulia telah berhasil menyalurkan sedekah makanan bergizi untuk santri yatim dan dhuafa penerima manfaat di Pesantren Nurul Masakin, Sumedang.

Sajian menu hewani berprotein tinggi, kalsium yang diperoleh dari susu, buah-buahan sebagai suplai vitamin, serta tidak lupa karbohidat dari nasi menjadi asupan seimbang untuk memenuhi kebutuhan para santri untuk menunjang proses pertumbuhan dan perkembangan mereka.

(Keterangan: Sebentuk raut bahagia Fina (ketiga dari kiri) beserta santri Pesantren Nurul Masakin lainnya saat menyantap hidangan/foto: Harapan Amal Mulia)

 

Raut wajah sumringah terlihat dari para santri yang sudah begitu lama tidak merasakan makanan yang enak nan bergizi tinggi. Fina (11 tahun) yang merupakan santri Pesantren Nurul Masakin mengungkapkan rasa bahagianya. Dirinya yang terbiasa menyantap mie dan olahan telur di Pesantren, terheran-heran melihat nasi ‘dihias’ dengan lauk yang beragam dengan rasa yang tak kalah memanjakan lidah.

“Terakhir minum susu 2 tahun yang lalu, buah-buahan dan daging juga jarang dikonsumsi. Terakhir makan 5 bulan yang lalu.”, ujar Fina dengan senyum lebar terpancar.

Fina juga mengungkapkan harapannya ingin bisa memperoleh makanan yang bergizi setiap hari, agar dapat menjadi siswa yang pintar.

Baca juga: Menu Makan Sederhana Di Pesantren Yatim Dhuafa

 

Bersama Harapan Amal Mulia, Mari Penuhi Gizi Santri Di Pelosok Negeri

(Keterangan: Santri memanjatkan doa terlebih dahulu sebelum menyantap makanan /foto: Harapan Amal Mulia)

 

Kondisi keterbatasan gizi yang dialami para santri yatim dan dhuafa Pesantren Nurul Masakin sejatinya hanyalah salah satu potret dari sekian banyak kisah dengan kondisi yang hampir serupa. Oleh karenanya, mari bersama Harapan Amal Mulia, kita bergandengan tangan untuk membantu hadirkan sajian makanan penuh gizi kepada para santri yatim dan dhuafa di pelosok negeri lainnya. (itari/harapanamalmulia)

 

Sahabat Amal Mulia, dapat turut mendukung Program Food For Yatim dengan memberikan donasi terbaik melalui pilihan rekening donasi di bawah ini:

BCA 0083 6858 72
Mandiri 132 003 321 2342
BSM 717 313 414 7
a.n. Yayasan Harapan Amal Mulia

Sahabat Amal Mulia juga dapat berpartisipasi melalui: kitabisa.com/food4yatim

Untuk informasi lebih lanjut dapat menghubungi nomor : 081 1234 1400 (SMS/Whatsapp)

Mulia dengan Amal Terbaik

 

 

Patungan Peralatan Sekolah untuk Yatim Dhuafa

Tanpa kita sadari, ada ratusan anak yatim dhuafa di Indonesia yang tak mampu membeli peralatan sekolah akibat keterbatasan finansial keluarga.

 

harapanamalmulia.orgDengan jatah uang lima ribu rupiah sehari, Deva Saputra (11 tahun) sudah bisa mengatur agar bekalnya itu cukup untuk sarapan, beli makan di sekolah, hingga bekal mengaji sampai sore. Namun, tidak pernah cukup untuk membeli peralatan sekolah yang baru. 

Orang yang memberi uang jajan tersebut adalah Nek Imih (66 tahun), neneknya yang merupakan tukang kebun dan kerap kali Deva panggil dengan julukan “mamah”.

Deva dan Nenek Imih (Dok, Harapan Amal Mulia)

Sebentuk cinta Deva untuk neneknya selalu ia tunjukkan dengan cara yang sederhana. Deva rutin membantu neneknya mengangkat air untuk mandi setiap pagi, serta membantu pekerjaan lainnya di rumah.

 

Baca juga: Perjuangan Anak Penjual Gorengan untuk Bantu Kebutuhan Harian

 

Sampai detik ini, hanya Nek Imih yang menanggung biaya sekolah Deva. Upah 30.000 sehari sebagai imbalan Nek Imih dari hasil membersihkan rumput liar di kebun teh kaki Gunung Mandalawangi – Bandung, kerap kali dibayarkan tak tepat waktu. Padahal, upah tersebut digunakan untuk kebutuhan sehari-hari, termasuk keperluan sekolah Deva.

 

Meski hidup bersama nenek dalam keterbatasan, Deva selalu berusaha untuk menunjukkan bakti kepada Nek Imih lewat semangatnya meraih cita-cita besarnya di masa depan.

Aktivitas Deva di madrasah (Dok, Harapan Amal Mulia)

Kebersamaan Deva dan Nenek di rumah (Dok, Harapan Amal Mulia)

Deva hanyalah satu di antara ratusan yatim-dhuafa lainnya yang memerlukan uluran tangan kita untuk memenuhi keperluan sekolah.

 

Kalau ada rezeki lebih, anak-anak yatim dhuafa seperti Deva berharap bisa membeli peralatan sekolahnya sendiri agar tetap semangat meraih cita-citanya di masa depan.

Untuk itu, melalui program Paket Harapan Yatim Dhuafa dari Yayasan Harapan Amal Mulia, kami ajak kamu untuk ikut patungan alat sekolah bagi ratusan anak yatim dhuafa di berbagai wilayah Indonesia.

Kamu bisa ikut patungan cengan cara:

Transfer ke Rekening Donasi di bawah ini:

BCA 0083 6858 72
Mandiri 132 003 321 2342
BSM 717 313 414 7
a.n. Yayasan Harapan Amal Mulia

Atau juga bisa melalui tautan Kitabisa: kitabisa.com/harapanyatim

Informasi lebih lanjut, bisa menghubungi : 081 1234 1400 (SMS/Whatsapp)