Category: Blog

Category: Blog

Kisah Hidup Sederhana Petani Desa

“Menjalani setiap episode tantangan dalam kehidupan tidak lantas menjadikan para petani dhuafa di Sindangjaya, Kabupaten Cianjur berputus asa. Keterbatasan boleh saja dialami, tetapi ikhtiar dan tawakal terus dipanjatkan kepada Illahi Rabbi”

 

Harapanamalmulia.orgDapat tinggal dan menetap di desa yang dianugerahi kekayaan alam adalah sebuah kesyukuran yang harus dipanjatkan kehadirat Allah Swt. Kendati bertahun-tahun menjadi petani penggarap lahan orang, namun para petani penggarap lahan di Desa Sindangjaya, Kecamatan Ciranjang tidak pernah berputus asa.

Mencari rezeki tidak selalu berpatokan kepada berapa harga upah yang diterima, tetapi mendapat amanah menggarap sawah orang menjadi nilai kepercayaan yang harus terus dijaga. Setidaknya itulah nilai perjuangan hidup bagi Bu Hasanah, Bi Ela dan Bi Erni sebagai petani penggarap sawah orang, di desa yang menjadi bagian dari Kabupaten Cianjur itu.

Harapan Amal Mulia, lembaga penghimpun sedekah yatim dhuafa telah sajikan kisah selengkapnya tentang perjuangan para petani penggarap sawah orang.

 

Penghasilan Dari Menggarap Sawah Orang

Desa Sindagjaya, Kecamatan Ciranjang Kabupaten Cianjur itu memiliki banyak potensi alam yang melimpah ruah. Dekatnya posisi desa dengan waduk Cirata membuat sebagian penduduk berprofesi sebagai nelayan, juga tidak jarang penduduk yang memilih usaha menyewakan kapal wisata. Sedangkan mayoritas penduduk lainnya berprofesi sebagai petani, baik itu petani pemilik sawah, maupun petani penggarap lahan orang.

Ibu Hasanah, Bi Ela Hayati, dan Bi Erniati, adalah segelintir penduduk Sindangjaya yang berprofesi sebagai petani. Kendati tidak memiliki lahan sawah pribadi, namun mereka diamanahi untuk menggarap lahan orang.

(Ibu Hasanah (50 Tahun) salah satu petani dhuafa di Desa Sindangjaya/foto:Harapan Amal Mulia)

Ibu Hasanah (50 tahun) dan suaminya diberi kepercayaan untuk mengelola lahan dengan sistem bagi hasil. Setiap masa panen tiba, seluruh padi harus dibagi dua dengan pemilik lahan. Sawah seluas 300 tumbak yang dikelola dapat menghasilkan sekitar 1 ton beras sekali panen, sehingga Bu Hasanah memperoleh 500 Kg beras dengan masa panen 4 bulan sekali. Selama masa tunggu panen, untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari, Bu Hasanah sangat mengandalkan dari beras bagi hasil yang diperolehnya, agar dapat sampai pada masa panen yang akan datang.

Berhemat dengan menu lauk sederhana adalah cara Bu Hasanah dan keluarga agar mampu menyambung hidup setiap harinya. Apalagi dengan masih memiliki anak yang duduk di bangku SMA, membuat Bu Hasanah juga sesekali menerima panggilan menjadi juru masak catering, walau bukan sebuah pekerjaan rutin yang dirinya jalani. Sedangkan sang suami, mengisi hari dengan mencari pakan untuk domba ternakannya.

 

Bertahan Dalam Keterbatasan

(Bi Ela Hayati (47 Tahun) salah satu petani dhuafa di Desa Sindangjaya/foto:Harapan Amal Mulia)

Kisah petani penggarap lahan orang juga menjadi keseharian dari Ela Hayati (47 Tahun), warga Kp. Calincing Desa Sindangjaya ini memperoleh 10 Kg beras setiap 4 bulan sekali dari hasil panen sawah garapannya. Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari Bi Ela (panggilan akrabnya) juga harus mencari penghasilan tambahan sebagai juru masak catering yang tidak selalu ada setiap hari.

Sedangkan sang suami, yang memiliki profesi sebagai ojeg perahu di Waduk Cirata juga tidak dapat membawa besaran rupiah yang menentu sesampainya di rumah. Rp 30.000 sampai Rp 50.000 adalah besaran nominal yang dapat diperoleh dari hasil ojeg perahu. Dengan anak bungsu yang masih duduk di bangku Madrasah Tsanawiyah (setingkat SMP) Pasir Nangka, membuat Bi Eli dan suami harus berhemat pengeluaran setiap harinya.

(Selain menjadi petani, Bu Erniati (42 tahun) mencari tambahan penghasilan dengan menjadi juru masak catering/foto: Harapan Amal Mulia)

 

Situasi yang sama juga dirasakan oleh Bi Erniati (42 tahun), 10 Kg beras diperolehnya dari hasil menggarap sawah orang. Selama menunggu panen tiba, beras tersebut menjadi andalan dalam mencukupi kebutuhan sehari-hari, yang tentu selalu habis tak bersisa selama 4 bulan digunakan. Bekerja serabutan pun menjadi sebuah pilihan yang akhirnya harus ditempuh demi asap dapur yang harus mengepul. Untuk mencukupi keperluan sehari-hari, suami Bi Erni pun berkerja mengelola tambak ikan di waduk Cirata. Hasil dari tambak ikan sedikitnya dapat membantu keluarga Bi Erni dalam menyambung hidup sampai masa panen tiba. Dengan penghasilan kurang lebih Rp 1.000.000/bulan, Bi Erni dan keluarga harus mengatur strategi agar cukup untuk kebutuhan dapur dan biaya sekolah anak bungsu yang masih mengenyam pendidikan di SMP PGRI Ciranjang.

 

Harapan Lebih Baik Pada Masa Depan

(Salah satu kegiatan pertanian di Desa Sindangjaya/foto:Harapan Amal Mulia)

 

Kenyataan hidup yang dialami oleh Ibu Hasanah, Bi Ela dan Bi Erniati menjadi segelintir cerita, bahwa perjuangan harus tetap dijalani walau dengan keterbatasan yang ada. Usaha terus digiatkan, serta tidak lupa memohon kepada Sang Pencipta agar mendapat limpahan keberkahan dalam menjalani kehidupan. Kendati kerasnya hidup yang dijalani, dan harus berhemat setiap harinya, tidak lantas membuat kehilangan harapan dalam kehidupan.

Ibu Hasanah, Bi Ela dan Bi Erniati selalu berharap dan yakin bahwa kelak kehidupan akan lebih baik asalkan tidak melepas ikhtiar, do’a dan tawakal kepada Illabi Rabbi

(itari/harapanamalmulia)

 

Keyakinan yang sama juga membuat Harapan Amal Mulia tergerak untuk membersamai perjuangan Ibu Hasanah, Bi Ela, dan Bi Erniati serta para keluarga pra-sejahtera lainnya untuk mewujudkan masa depan yang lebih baik.

Mari kirim bantuan kebahagiaan untuk para keluarga petani dan keluarga pra-sejahtera lainnya melalui program Paket Harapan Keluarga. Paket yang berisi macam-macam sembako ini begitu dinantikan para keluarga dhuafa di Indonesia, agar dapat memenuhi kebutuhan sehari-harinya.  

Sahabat Amal dapat menyalurkan bantuannya melalui rekening donasi

BCA 0083 6858 72

Mandiri 132 003 321 2342

a.n. Yayasan Harapan Amal Mulia

Benarkah Warga Kota Lebih Bahagia Dibanding Warga Desa?

|” Bahagia itu tidak terbatas ruang dan waktu, tapi bahagia itu kita yang ciptakan lho. Seperti potret warga di Desa Sindangjaya, Kabupaten Cianjur. Dengan segala anugerah alam yang ada, mereka punya cara tersendiri untuk tetap bahagia.”

 

Harapanamalmulia.orgBadan Pusat Statistik (BPS) meluncurkan hasil surveinya tentang Indeks Kebahagiaan Indonesia. Berdasarkan hasil Survei Pengukuran Tingkat Kebahagiaan (SPTK), diperoleh hasil bahwa indeks kebahagiaan penduduk yang tinggal di wilayah kota adalalah sebesar 71,64 dan 69,57 untuk indeks kebahagiaan bagi penduduk yang tinggal di pedesaan. Dari hasil tersebut diambil kesimpulan bahwa penduduk yang tinggal di perkotaan cenderung lebih bahagia dibandingkan penduduk yang tinggal di pedesaan.

Terlepas dari hasil survei yang dilansir BPS, seharusnya tempat di mana seseorang tinggal tidak dapat menjamin ukuran kebahagiaan seseorang. Termasuk bagi penduduk yang tinggal di pedesaan. Penduduk desa tentu juga bisa bahagia dan punya indikator kebahagiaannya tersendiri. Hal itu dibuktikan oleh para penduduk di Desa Sindangjaya, Kecamatan Ciranjang.

Bagaimana cara penduduk desa yang terletak di Kabupaten Cianjur ini dapat bahagia?

Berikut Harapan Amal Mulia, lembaga penghimpun donasi yatim dhuafa bagikan kisah selengkapnya untuk Sahabat semua.

 

Memetik Berkah dari Alam Desa

(Keterangan: Salah satu kegiatan bertani di Desa Sindangjaya /foto:Harapan Amal Mulia)

Desa yang terletak tidak jauh dari Waduk Cirata ini memiliki potensi alam yang begitu melimpah. Banyak warga yang mengais rezeki menjadi buruh tani di sawah, dengan upah Rp 30.000 per hari. Keberadaan waduk Cirata juga turut dimanfaatkan warga lainnya untuk menjadi nelayan pencari ikan, serta tidak jarang juga penduduk menambah pundi-pundi dengan menyewakan perahu wisata bagi para pengunjung waduk yang berdatangan.

Besar penghasilan yang diperoleh warga tergantung kepada musim dan cuaca, kadangkala ikan yang didapatkan nelayan begitu melimpah sehingga Rp 50.000 sudah dapat dibawa pulang, tetapi tidak jarang juga ikan hasil tangkapan tidak sebanyak hari-hari biasanya. Begitu pun dengan warga yang membuka usaha sewa perahu wisata, tidak menentunya kunjungan membuat penghasilan sehari-hari tidak dapat ditentukan. Dengan tarif Rp 15.000 per satu kali sewa perahu, pengunjung dapat mengelilingi waduk sepuas hati.

Kendati pundi-pundi rupiah yang dapat dibawa ke rumah tidak menentu setiap harinya, namun penduduk desa Sindangjaya percaya bahwa keberkahan dari yang Maha Kuasa tercurah dalam setiap genggaman harta yang telah mereka usahakan.

 

Bebas Jelajah Kampung Untuk Menuntut Ilmu

(Keterangan: Potret anak-anak Desa Sindangjaya saat pergi mengaji/foto:Harapan Amal Mulia)

Keseharian dari penduduk desa Sindangjaya tidak hanya sebatas mencari nafkah semata, pengajian rutin menjadi salah satu agenda wajib bagi ibu-ibu di sana. Tidak kurang dari dua kali dalam sepekan pengajian di gelar di masjid setempat. Dengan jama’ah pengajian rutin sekitar 70 orang, sebagian peserta harus rela menyimak dari teras masjid mengingat kapasitas ruang utama hanya dapat menampung setengahnya saja.

Kesadaran terhadap pentingnya ilmu agama membuat ibu-ibu Sindangjaya juga mengikuti pengajian di kampung-kampung lainnya. Saling memakmurkan masjid. Belum lagi kalau 1 ibu bawa 1 anak, tambah hiduplah masjid ini.” ujar salah satu jama’ah yang selalu antusias mengikuti pengajian.

Aktivitas di masjid terasa begitu hangat, manakala seusai para ibu mengaji, anak-anak Desa Sindangjaya berbondong-bondong untuk mengaji sore hari. Tanpa harus disuruh dan diminta, anak-anak berdatangan dengan sukarela untuk mengais ilmu dari ustaz setempat.

Simak informasi menarik lainnya: 7 Tips Antisipasi Corona Ala Santri Penghafal Al Quran

 

Berdikari Sejak Dini

Limpahan karunia alam yang dimiliki Desa Sindangjaya tidak serta merta membuat penduduknya berleha-leha. Namun sebaliknya, motivasi kuat untuk mandiri sejak dini menjadi semangat dalam mendatangkan kebahagiaan bagi penduduknya.

(Keterangan: Dewi (13 tahun) salah satu anak asal Desa Sindangjaya/foto: Harapan Amal Mulia)

Semangat ini yang ditunjukan oleh Dewi Yuniarti (13 tahun), meski sudah ditinggal oleh ayah kandung sejak masih kecil. Namun Dewi memiliki motivasi kuat untuk terus mengenyam bangku sekolah hingga perguruan tinggi. Kegemarannya akan pelajaran sains membuatnya bercita-cita menjadi dokter agar dapat mengobati orang sakit dan bermanfaat bagi banyak orang.

Kini bersama ibu dan ayah tirinya, Dewi selalu berusaha untuk dapat mandiri sejak dini, dengan penghasilan kedua ornag tuanya yang terbatas, tidak menyurutkan langkahnya untuk terus bersekolah dan mengejar impiannya.

 

Mendapatkan Perhatian dan Bimbingan

(Keterangan: Potret Ibu Suharlin bersama suaminya Pak Sholeh /foto:Harapan Amal Mulia)

Penduduk Desa Sindangjaya yang mayoritasnya Muslim, membangun toleransi yang baik dengan penduduk non-muslim yang berada di sana. Hubungan antar manusia yang berjalan baik kerap kali menjadi jalan hidayah bagi banyak mualaf yang tinggal di sekitar desa.

Seperti halnya Ibu Suharlin (40 tahun), ibu dari enam orang anak ini telah lama menjadi mualaf, kecintaannya yang besar terhadap Islam menjadikannya terus menggali ilmu lewat satu pengajian ke pengajian yang lainnya. Tidak kurang dari 2 kali dalam sepekan Ibu Suharlin menata jadwal mengajinya di dua masjid yang berbeda, ditengah kesibukannya bekerja serabutan seharian.

Ibu Suharlin yang telah merasakan pahitnya kegagalan rumah tangga ini, kini berjuang bekerja serabutan bersama suami barunya yang berprofesi sebagai pencari botol-botol plastik bekas. Meski hidup dalam kesederhanaan, Bu Suharlin tetap bahagia karena memiliki suami yang bertanggung jawab dan mampu membimbingnya untuk semakin taat kepada Allah Swt.

“Saya bahagia sekarang, walaupun cuma mulung botol plastik juga, ada yang ngajarin saya ngaji” ujarnya dengan mata berkaca-kaca.

 

Tambah Kebahagiaan Keluarga Desa

Sahabat Amal, kisah ragam kebahagiaan yang tercermin dari Desa Sindangjaya ini memberikan pelajaran berharga bagi kita semua, bahwa sejatinya bahagia itu mampu untuk diciptakan bukan semata-mata tergantung kepada tempat tinggal. Bahagia juga adalah tentang bagaimana kita menyikapi setiap keadaan dan berusaha dengan sebaik-baiknya ikhtiar yang kita bisa sebagai bentuk rasa syukur kepada Sang Pencipta.

Sahabat, mari kita tambahkan kebahagiaan kepada penduduk desa di mana pun berada, khususnya di Desa Sindangjaya, Kabupaten Cianjur,  yang merupakan bagian dari desa binaan Harapan Amal Mulia, melalui program Paket Harapan Keluarga, dan Paket Harapan Yatim dan Dhuafa untuk membantu saudara-saudara muslim dan mualaf di Desa Sindangjaya, Kabupaten Cianjur dan desa-desa lainnya di seluruh Indonesia. (itari/harapanamalmulia)

Sahabat dapat berbagi kebahagiaan melalui rekening donasi berikut ini:

BCA 0083 6858 72

Mandiri 132 003 321 2342

a.n. Yayasan Harapan Amal Mulia

7 Tips Antisipasi Corona Ala Santri Penghafal Al-Quran

|”Virus Corona sejatinya tidak akan terjadi tanpa kehendak-Nya. Oleh karena itu, mari terus maksimalkan langkah-langkah pencegahan dengan tips yang dibagikan para santri penghafal Al-Quran ”

 

Harapanamalmulia.orgVirus Corona atau dikenal juga dengan sebutan Covid-19 menjadi pandemi yang telah menyerang berbagai negara, termasuk salah satunya Indonesia. Pemerintah Indonesia pun kemudian menyerukan instruksi agar membatasi aktivitas di luar rumah, mengurangi interaksi dengan manusia lainnya, dan selalu menjaga kebersihan dan kesehatan. Lantas langkah preventif apa yang dapat kita semua lakukan sebagai tindakan pencegahan? Para santri penghafal Al-Quran di Ma’had Tahfiz & Ilmu Quran, Bandung membagikan tipsnya.

Berikut Harapan Amal Mulia, lembaga penghimpun donasi yatim dhuafa sajikan informasi “7 Tips Antisipasi Corona Ala Santri Penghafal Al-Quran” untuk sahabat semua.

 

1.Semakin Mendekatkan Diri Kepada Allah Swt.

“Tidak ada suatu musibah pun yang menimpa seseorang kecuali dengan izin Allah, dan barangsiapa yang beriman kepada Allah niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (Qs. At-Taghabun: 11)

Keniscayaan terhadap setiap peristiwa yang terjadi di bumi ini tidak akan terlepas dari izin Allah Swt. Termasuk adanya pandemi virus Corona ini juga terjadi tentu atas izin Allah Swt. Maka menyikapi hal tersebut, sudah selayaknya kita semakin mendekatkan diri kepada Allah Swt yang maha memegang kekuasaan atas seluruh alam semesta.

Menambah kedekatan kepada Allah Swt. dapat dilakukan dengan menambah intensitas porsi ibadah, memperbanyak tilawah, mengencangkan doa dan melengkapinya dengan sedekah sebagai penolak bala atas musibah.

(Keterangan: Para santri Bunyanun Marshush sedang melakukan agenda ibadah rutin/foto:Harapan Amal Mulia)

Langkah pencegahan telah diterapkan oleh para santri Ma’had Tahfiz & Ilmu Quran Bunyanun Marshush, di mana para santri menyikapi situasi ini dengan menerapkan 7 tips antisipasi untuk mencegah virus Corona. Semakin mendekatkan diri kepada Allah Swt. menjadi poin pertama yang diterapkan para santri.

 

2. Menjaga Kebersihan Diri dan Lingkungan

Islam sangat memperhatikan perihal kebersihan diri serta lingkungan tempat berada, hal ini tidak hanya semata agar setiap muslim terhindar dari najis dan kotoran saat akan beribadah, akan tetapi hal ini berkaitan erat dengan meningkatkan kesehatan diri sehingga membentuk tubuh yang prima. Rasulullah Saw. telah menerangkan perihal menjaga kebersihan ini sebagaimana dalam hadis shohih yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, yaitu “Kesucian atau bersuci merupakan setengah/sebagian dari iman” (HR. Muslim No. 325)

Apabila dilihat dari hadis tersebut, maka menjaga kebersihan atau bersuci memiliki posisi yang begitu penting dan memberikan pengaruh yang besar dalam menjalankan aktivitas ibadah dalam keseharian kita. Termasuk menjaga kebersihan lingkungan tempat berada menjadi sebuah hal yang harus turut juga diperhatikan agar dapar menunjang ibadah lebih sempurna dan tentu berkontribusi dalam kesehatan badan.

 

3. Mengurangi Aktivitas di Keramaian

Pemerintah telah mengeluarkan anjuran untuk mengurangi aktivitas yang berkaitan langsung dengan banyak orang, menghindari pertemuan massal di pusat-pusat keramaian, serta menjaga jarak dalam berinteraksi dengan orang lain. Langkah ini diambil sebagai tindakan preventif yang dapat dilakukan untuk mengurangi penyebaran virus Corona.

Menjaga jarak dengan orang lain sebagai bentuk antisipasi sebenarnya telah diterapkan oleh Rasulullah Saw. berabad-abad yang lalu. Saat mengalami sebuah wabah penyakit maka Rasulullah Saw. memperingatkan umatnya untuk tidak mendekati wilayah yang terkena wabah, seperti diriwayatkan dalam hadis “Jika kamu mendengar wabah di suatu wilayah, maka janganlah kalian memasukinya. Tapi jika terjadi wabah di tempat kamu berada, maka jangan tinggalkan tempat itu” (HR. Bukhori)


4. Memaksimalkan Waktu Dengan Aktivitas Produktif

(Keterangan: Para santri Bunyanun Marshush tengah menjalankan ibadah Salat/Foto: Harapan Amal Mulia)

Dengan adanya pembatasan aktivitas di luar rumah, hal ini menjadikan setiap orang memiliki porsi waktu lebih banyak untuk melakukan aktivitas-aktivitasnya di dalam rumah. Waktu yang dimiliki ini harus diisi dengan beragam aktivitas yang produktif, efektif dan efisien.

Para santri di Ma’had Tahfiz dan Ilmu Quran Bunyanun Marshush mengisi waktu dengan kegiatan-kegiatan memperbanyak melantunkan sholawat dan tilawah Al-Quran, mengerjakan shalat sunah dan menjaga kebugaran tubuh dengan melakukan olahraga ringan di sekitar Ma’had.

 

5. Menyempurnakan Wudhu

Tidak ada perintah yang Allah Swt. turunkan melainkan selalu terkandung hikmah dan pelajaran yang besar bagi para hamba-Nya, seperti perintah untuk bersuci terlebih dahulu atau berwudhu sebelum melaksanakan salat.

Sebuah perintah ibadah yang telah dilaksanakan sejak berabad-abad lamanya ini ternyata memiliki pelajaran yang begitu besar. Sebelum pemerintah juga organisasi kesehatan PBB (WHO) menganjurkan untuk sering mencuci tangan setiap hari, umat muslim sudah melaksanakannya setiap hari dalam berwudhu.

Oleh karena itu, salah satu bentuk antisipasi penyebaran virus Corona adalah dengan umat muslim semakin menjaga kesempurnaan tahapan dari wudhu itu sendiri. Perintah untuk berwudhu terdapat dalam Al-Quran surah Al-Maidah ayat 6, yang artinya adalah

“Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan salat, maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku, dan sapulah kepalamu dan (basuh) kakimu sampai dengan kedua mata kaki, dan jika kamu junub maka mandilah, dan jika kamu sakit atau dalam perjalanan atau kembali dari tempat buang air (kakus) atau menyentuh perempuan, lalu kamu tidak memperoleh air, maka bertayamumlah dengan tanah yang baik (bersih); sapulah mukamu dan tanganmu dengan tanah itu. Allah tidak hendak menyulitkan kamu, tetapi Dia hendak membersihkan kamu dan menyempurnakan nikmat-Nya bagimu, supaya kamu bersyukur .” (Qs. Al-Maidah: 6)

 

6. Memperbanyak Istighfar dan  Bermuhasabah

Di tengah keadaan ini hendaknya dapat kita jadikan sebagai sarana untuk bermuhasabah atas kesalahan yang pernah dilakukan serta beristighfar dengan sebaik-baiknya atas dosa-dosa yang pernah dilakukan pada masa lalu. Barangkali Allah menghendaki kejadian ini sebagai pengingat bagi kita semua untuk mengambil pelajaran dan semakin mawas diri terhadap lingkungan, kebersihan serta kesehatan pribadi.

Menyikapi situasi yang sedang terjadi ini, santri-santri Bunyanun Marshush juga tidak melewatkan untuk terus beristighfar dalam agenda kesehariannya. Tidak kurang dari 1000 kali istighfar yang dilantunkan oleh para santri setiap hari.

 

7. Bergiat Untuk Menjalankan Shaum Sunah

Tips terakhir adalah dengan menjalankan shaum sunah yang harus kembali digiatkan. Hal ini tentu berkaitan erat dengan menjaga pola makan dan membatasi asupan makanan yang kurang bernilai gizi masuk ke dalam tubuh.

(Keterangan: Potret kebersamaan para santri Bunyanun Marshush saat makan bersama /foto: Harapan Amal Mulia)

Dengan kembali menjalankan sunah-sunah yang telah dicontohkan oleh Rasulullah Saw. maka selain mendapatkan kucuran pahala, tentu akan berdampak positif bagi tubuh dan meningkatkan kesehatan kita semua.

Sahabat Amal, merespon situasi yang ada saat ini mari kita sikapi dengan tenang namun tetap menjaga waspada. Melaksanakan anjuran serta mengikuti langkah-langkah pencegahan dari pemerintah, tanpa lupa semakin mendekatkan diri kepada Sang Pencipta. Mari kita terus menjaga ikhtiar, melantunkan do’a dan bertawakal dalam sebenar-benarnya kepada Allah Swt.

(itari/harapanamalmulia)

Madrasah Pertama Berawal Dari Rumah

|”Pendidikan di keluarga memiliki posisi yang begitu penting dalam pembentukan karakter serta spiritualitas anak. Peran dan keberadaan orang tua sepenuhnya menjadi kuncinya”

 

Harapanamalmulia.org— Rumah tidak hanya menjadi sebuah simbolisasi dari ungkapan ‘pulang’ bagi setiap anak-anak di dunia ini, atau sebuah frasa ‘kembali kepada keluarga’. Rumah sendiri memiliki definisi yang luas tidak hanya sebagai suatu tempat, melainkan juga  awal dari lahirnya sebuah peradaban.

Rumah selayaknya dapat menjadi madrasah pertama bagi setiap anak, tempat belajar mengenai agama sebagai pondasi hidup, memahami adab dan moral terhadap sesama, kemudian menjadi tempat berbagi pengetahuan tentang kehidupan.

Kendati tidak semua anak beruntung memiliki rumah dan keluarga sebagai tempat bernaung, bagi anak-anak yatim dan dhuafa, memaknai keluarga dan rumah adalah juga tentang orang-orang yang peduli akan kehidupan mereka.

Berikut lembaga penghimpun donasi yatim dan dhuafa, Harapan Amal Mulia sajikan informasinya untuk Sahabat Amal semuanya.

 

Rumah, Tempat Anak Temukan Teladan

(Keterangan: Kegigihan seorang ayah dalam mencari nafkah dapat menjadi teladan yang baik untuk anak/foto: Harapan Amal Mulia)

Bagi anak-anak yang masih memiliki orang tua yang utuh, tentu keberadaan dari sosok ayah dan ibu dalam keseharian bersama keluarga sangat memberikan dampak. Setiap tindak-tanduk yang dilakukan oleh kedua orang tua, secara tidak langsung akan terekam dalam memori anak dan menjadikan sebuah ingatan yang akan terus dikenang sepanjang pertumbuhannya serta menjadi sebuah role model bagi anak.

Maka tidaklah heran ada ungkapan yang menyatakan bahwa “buah tidak akan jatuh jauh dari pohonnya”. Ketika pohonnya berpenyakit, maka buah yang dihasilkannya pun tidak akan memenuhi standar yang bagus. Begitu pun dengan pohon yang sehat, dirawat, disiram dengan air yang bagus, maka sudah menjadi lumrah jika buah yang dihasilkannya akan bagus dan manis terasa.

Oleh karenanya, orang tua memiliki kewajiban untuk menyajikan sikap serta teladan yang baik kepada anak, agar setiap tindakan yang akan ditiru anak adalah tindakan akhlaqul karimah yang berdasar pada Al Qur’an dan Sunnah.

 

Pendidikan Utama Anak Ada Di Rumah

Masa-masa usia emas seorang anak berada dikisaran usia 0 sampai 5 tahun, di mana dalam rentang usia ini anak berada dalam fase perkembangan yang sangat baik, sehingga kesempatan orang tua untuk menanamkan nilai-nilai agama dan pendidikan dasar bagi anak sangat terbuka.

Seorang ibu yang mengemban amanah sebagai al ummu madrosatul ulaa menempati posisi yang begitu penting. Sejak 14 abad yang lalu Al Qur’an telah berbicara mengenai pentingnya seorang ibu menyusui bayinya hingga usia 2 tahun. Di mana dalam momentum ini, seorang ibu memiliki kesempatan yang begitu luas untuk membentuk ikatan batin yang kuat dan kokoh dengan bayinya. Bentuk ikatan ini yang kemudian akan berpengaruh pada perkembangan anak pada masa yang akan datang, anak akan merasa memiliki sosok ibu yang mengasihi sehingga tidak akan merasa perlu mencari kasih sayang dari luar rumah.

Baca Juga: 3 Cara Mudah Titip Donasi Yatim Dhuafa di Harapan Amal Mulia

 

Rumahku, Sumber Motivasiku

Orang tua yang selalu ada dan bijaksana dalam memandang setiap lika liku kehidupan yang dialami oleh anak akan memberikan motivasi dan memberi semangat hidup yang lebih baik bagi setiap anak.

Menguatkannya dikala terpuruk, membantunya naik dikala jatuh, menjadi sandaran utama saat lelah dan menjadi tempat berbagi cerita terbaik akan membentuk mental positif bagi anak, sehingga anak tidak pernah merasa sendiri dan sepi.

Simak informasi menarik lainnya; Perjalanan Dai Sindagjaya Sebar Syiar Kepada Warga Dhuafa

 

Ayah Dan Ibu, Sang Kepala Madrasah

Kolaborasi antara ibu dan ayah sangat diperlukan untuk menghadirkan pendidikan terbaik bagi anak sejak dari rumah. Mengetahui minat dan ketertarikan anak pada suatu bidang tentu akan sangat berguna jika diketahui sedari dini.

Lagi-lagi orang tua harus mengambil porsi yang banyak dalam hal ini, untuk menghasilkan generasi-generasi berkualitas yang dapat ikut andil dalam membangun peradaban yang semakin lebih baik kedepannya.

 

Akhirat Dahulu, Dunia Kemudian

(Keterangan: Aktivitas Ustaz Ade saat mengajar di Madrasah Nurul Ikhwan/foto: Harapan Amal Mulia)

Menanamkan nilai agama dalam keseharian keluarga serta menautkannya dalam pendidikan anak telah dilakukan oleh Ade Salimudin (52 tahun) kepada semua anak dan keluarganya. Ustaz Ade panggilan akrabnya menekankan pelajaran penting kepada 6 orang anaknya untuk selalu mendahulukan kepentingan akhirat, dan mencari ilmu agama lebih dahulu, kemudian biarkan urusan dunia yang akan mengikuti.

Berbekal pendidikan pesantren yang pernah diembannya, Ustaz Ade menjadikan pendidikan agama sebagai dasar ilmu pertama yang dipelajari dalam keluarga dan anak-anaknya. Ustaz yang sehari-hari juga bekerja sebagai pengrajin batu bata ini telah mendedikasikan banyak waktunya tidak hanya sekadar bekerja dan menjadi imam keluarga, tetapi juga mendirikan madrasah pengajian untuk anak-anak disekitar kampungnya.

Ustaz Ade Salimudin yang juga merupakan penerima manfaat Harapan Amal Mulia ini telah memberikan contoh nyata dalam menjadikan rumah sebagai madrasah pertama bagi anak dan keluarga, sehingga dari keluarga yang dibangun dengan landasan yang kokoh, dapat menjadikan masing-masing pribadi anggota keluarga semakin berdaya di masyarakat.

Sahabat, mari kita terus dukung banyak keluarga di sekitar kita agar dapat menjadikan rumah sebagai madrasah pertama bagi setiap anak agar nilai-nilai agama tertancap dengan kuat, dan pengetahuan didapat sedari dini. (itari/harapanamalmulia)

Sumber: Irawati Istadi, Rumahku Tempat Belajarku

Mengenal Desa Sindangjaya, Rumah Kehidupan Bagi Kaum Dhuafa

Dengan berbagai keunikan yang dimiliki Sindangjaya desa yang berada di Kecamatan Ciaranjang, Kabupaten Cianjur ini akan menjadi salah satu wilayah persebaran manfaat program Harapan Amal Mulia.

 

Harapanamalamulia.org – Kendaraan tim Harapan Amal Mulia melaju cepat menyusuri jalan berkelok antara ujung Kabupaten Bandung Barat hingga Kabupaten Cianjur. Tak begitu jauh setelah memasuki Cianjur, kendaraan kami pun berbelok menuju sebuah desa bernama Sindangjaya yang dikenal memiliki banyak keistimewaan.

Tujuan tim Harapan Amal Mulia mendatangi desa tersebut tidak lain adalah untuk bersilaturahmi, mengunjungi warga Sindangjaya serta para penerima manfaat program Qurban Mulia pada Agustus 2019 lalu di sekitar desa.

Sebagian besar penduduk Sindangjaya merupakan pekerja serabutan. Petani dan nelayan menjadi profesi andalan warga. Meski begitu, pendapatan mereka tak begitu besar sehingga banyak yang mencari penghasilan tambahan dari berdagang, mengepul barang bekas, dan lain sebagainya.

Banyaknya masyarakat pra sejahtera atau yang biasa disebut dhuafa di Sindangjaya, menjadi salah satu alasan Harapan Amal Mulia untuk menjadikan warga di sana sebagai penerima manfaat program Ramadan mendatang.

 

Dhuafa Desa Sindangjaya

Bu Halimah dan suami, salah satu potret keluarga dhuafa di Desa Sindangjaya, Kecamatan Ciranjang, Cianjur. (Dok. Harapan Amal Mulia)

 

Secara sederhana, kaum dhuafa adalah mereka yang hidup dalam kemiskinan, kesengsaraan, kelemahan, dan ketidak berdayaan yang tiada putus. Desa Sindangjaya sendiri memiliki banyak warga dhuafa, termasuk di dalamnya para mualaf.

Berikhtiar mendukung kebutuhan masyarakat dhuafa di Sindangjaya, terutama saat Ramadan, Harapan Amal Mulia hadir dengan Paket Harapan Keluarga. Bantuan yang diberikan dalam program tersebut adalah kebutuhan-kebutuhan pokok.

Baca juga: Kaleidoskop 2019: Menelusuri Jejak Kebaikan Donatur Harapan Amal Mulia

 

Di samping kebutuhan pokok, Harapan Amal Mulia juga turut memfasilitasi kegiatan keagamaan kepada warga dengan mendukung tokoh agama di sana.

 

Tokoh Agama, Bimbing Hijrah Warga Sindangjaya

Kegiatan silaturahmi Bah Nono, tokoh agama di Desa Sindangjaya, bersama salah satu keluarga mualaf dan dhuafa. (Dok. Harapan Amal Mulia)

 

Peran tokoh-tokoh penyebar syiar Islam di antara muslim dan muslim dan mualaf di Sindangjaya tak luput dari perhatian kami. Berkat bimbingan mereka, masyarakat Ciranjang bisa hidup berdampingan meski memiliki keyakinan berbeda. Tokoh-tokoh tersebut juga tak pernah lelah mendampingi muslim Sindangjaya mengokohkan akidah dalam berbagai kajian.

Untuk mendukung perjuangan para tokoh syiar di Sindangjaya, Harapan Amal Mulia hadir dengan program Syiar Islam Mulia. Sedangkan warga yang istiqamah mendalami ilmu agama kepada para tokoh akan menjadi penerima manfaat program Paket Quran Mulia dan Paket Amal Buka Puasa.

Selain dhuafa, tokoh agama dan jemaahnya yang menjadi penerima manfaat, kesejahteraan anak-anak di Desa Sindangjaya juga tak luput menjadi perhatian kami.

 

Potret Anak-anak Desa Sindangjaya

Aldo (baju biru), anak dari Desa Sindangjaya yang akan menjadi penerima manfaat donasi yatim dhuafa dalam program Paket Harapan Yatim dan Dhuafa. (Dok. Harapan Amal Mulia)

 

Sebagaimana banyak warga desa yang dhuafa, sebagian besar anak-anak di Sindangjaya juga hidup sangat sederhana. Dengan kondisi demikian, kebutuhan pendidikan anak-anak Sindangjaya tak begitu menjadi perhatian. Apalagi sejumlah anak di sana sudah tidak mempunyai orang tua (yatim) dan bertahan hidup mengandalkan pemberian dermawan.

Tapi hebatnya, semangat anak-anak Sindangjaya untuk belajar dan meraih masa depan gemilang patut jadi panutan. Semangat tersebut berupaya dikuatkan oleh Harapan Amal Mulia melalui program Paket Harapan Yatim dan Dhuafa. Bantuan yang akan diberikan dalam program tersebut adalah perlengkapan sekolah anak.

 

Paket Harapan Keluarga, Syiar Islam Mulia, Paket Quran Mulia, Paket Amal Buka Puasa, serta Paket Harapan Yatim dan Dhuafa menjadi program-program unggulan Harapan Amal Mulia yang dapat memfasilitasi Anda untuk berbagi kebaikan.

Mohon doa dan dukungan semoga program tersebut dapat memberikan manfaat yang besar untuk warga muslim dan muslim mualaf di Desa Sindangjaya. (history/harapanamalmulia)

 

Rekening donasi:

BCA 0083 6858 72

Mandiri 132 003 321 2342

a.n. Yayasan Harapan Amal Mulia