Halaman Rumah Kosong Jadi Awal Dakwah di Hegarmanah

|”Semangat dakwah harus tetap menyala, meski di tempat apapun memulainya. Berawal dari halaman rumah kosong sekalipun tidak melunturkan semangat syiar Bu Narti”

 

Harapanamalmulia.orgMemulai dakwah tidak selalu harus berasal dari masjid ataupun tempat ibadah. Jika nilai-nilai Islam sudah terpatri dalam diri, maka megawali dakwah dari halaman rumah kosong sekalipun tidak akan membuat goyah.

Hal inilah yang menjadi cikal-bakal berdirinya Madrasah Fatimah Az-Zahra, yang dibina oleh Sunarti. membina santri yatim dan dhuafa menjadi aktivitas kesehariannya setiap hari. Berikut sajian informasi lengkapnya yang telah Harapan Amal Mulia rangkum untuk anda

 

Halaman Rumah Kosong Menjadi Awal Perjalanan Dakwah

Antusiasme ibu-ibu warga Perum Hergarmanah, Kecamatan Cikancung, Kabupaten Bandung terhadap ilmu agama begitu tinggi. Dengan memanfaatkan halaman rumah kosong, mereka belajar mengaji kepada Ibu Sunarti (50 tahun).  Lambat laun anak-anak dari para ibu yang gemar mengaji pun didorong untuk menggali ilmu kepada Ibu Sunarti.

(Keterangan: Ibu Sunarti (50 tahun) tengah mengajar santri-santri di Madrasah Fatimah Az-Zahra/foto: Harapan Amal Mulia)

Santri yang terus bertambah menjadikan rumah Bu Narti (panggilan akrabnya) sudah tidak bisa menampung lagi. Pasang surut dalam membina juga sempat dialami, manakala satu persatu santri pergi karena kebutuhan sertifikat mengaji. Hal yang kemudian membuat Bu Narti mendaftarkan madrasah agar menjadi resmi.

Cita-cita Mulia Membina Anak Madrasah

Hingga kini, santri non mukim yang belajar di Madrasah Fatimah Az-Zahra berjumlah tidak kurang dari 120 orang. Setiap santri menerima materi dengan metode penggunaan lagam (tahsin) dan penguatan tajwid. Sementara pelajaran yang diprioritaskan di madrasah ini adalah tentang ibadah, fiqih, hadis, aqidah-akhlak, bahasan Arab serta Ulumul Qur’an dan Tahfiz.

(Keterangan: Dalam proses belajar mengajar di Madrasah Fatimah Az-Zahra, Bu Narti dibantu oleh pengajar sukarela lainnya/foto:Harapan Amal Mulia)

Kendati memiliki kurikulum yang komprehensif, Bu Narti tidak memungut biaya sepeser pun pada santri-santrinya. Keberlangsungan kegiatan belajar mengajar dibantu oleh empat pengajar sukarela lainnya, yang juga masih terkendala biaya operasional untuk sehari-hari. Sedangkan santri-santri yang belajar di madrasah adalah anak-anak  yatim dan mayoritas adalah dhuafa yang memerlukan dukungan para dermawan.

 

Baca juga: Perjalanan Dai Sindangjaya Sebar Syiar Kepada Warga Dhuafa

 

Bangunan yang ditempati madrasah merupakan hasil wakaf dari Pak Sopian, seorang donatur yang tergerak hatinya untuk membantu dakwah Bu Narti. Sedangkan untuk operasional listrik dibantu sukarela oleh warga sekitar.

Dalam keterbatasan tersebut, Bu Narti berharap besar jika sepeninggalnya nanti, santri-santri yang beliau bina dapat menjadi orang yang sholeh dan sholihah sehingga dapat berguna bagi sesama dan menjadi amalan jariah yang menolongnya di akhirat kelak.

 

Program Syiar Islam Mulia, Bantu Dakwah Bu Narti dan Madrasah Lainnya.

(Keterangan: Ibu Sunarti (pertama dari kanan) berfoto bersama seluruh santri dan guru suka relawan lainnya/foto:Harapan Amal Mulia)

 

Bersama Harapan Amal Mulia, mari membantu hadirkan dukungan terhadap aktivitas dakwah Bu Narti di Hegarmanah, serta pengurus madrasah di berbagai tempat lainnya, agar dakwah semakin berkembang tak putus arang karena keterbatasan.

Sahabat dapat menyalurkan dukungan melalui: kitabisa.com/amalsyiarislam

Semoga sebentuk ikhtiar kita dapat menjadi amal jariah yang tiada terputus keberkahannya.

(itari/harapanamalmulia)