Tag: Aksi Peduli

Tag: Aksi Peduli

Bu Ibad, Guru Agama yang Dicintai Anak Yatim Dhuafa

Peduli dengan pendidikan anak yatim dan dhuafa, Bu Ibad berinisiatif mendirikan sekolah gratis untuk mereka.

 

Harapanamalmulia.org Dibesarkan sebagai seorang yatim menjadikan Bu Ibad, warga Kecamatan Sukasari, Kabupaten Sumedang sangat peduli dengan keadaan anak-anak di sekitarnya. Tak heran, banyak anak-anak yang juga merasa senang dengan kehadiran guru agama tersebut dengan berbagai perannya di masyarakat.

Saat ini, pendidikan anak yatim dan dhuafa menjadi hal yang paling dipedulikan ibu 43 tahun ini. Sejak bapak mereka meninggal dunia, keperluan belajar anak-anak menjadi sulit dipenuhi. Apalagi dengan adanya kebutuhan makan dan minum yang pemenuhannya tidak bisa ditunda.  Begitu juga dengan anak-anak dhuafa yang sangat mungkin mengalami hal serupa.

Bu Ibad menjadi pengajar di beberapa sekolah, salah satunya di Yayasan Nurul Masakin dan SDN Neglasari, Kecamatan Sukasari, Kabupaten Sumedang. (Dok. Harapan Amal Mulia)

Padahal, mereka juga mempunyai cita-cita tinggi sebagaimana anak pada umumnya. Hal tersebut kemudian menjadi motivasi Bu Ibad untuk mendirikan Yayasan Nurul Masakin, wadah pembinaan gratis bagi anak-anak kurang mampu.

Di sana, anak-anak dibina agar mempunyai kecerdasan intelektual, emosional, serta spiritual sebagai bekal yang dibutuhkan untuk meraih masa depan yang lebih baik.

 

Perjuangan Bu Ibad Rintis Sekolah Yatim Dhuafa

Butuh proses panjang untuk mendirikan Yayasan Nurul Masakin. Sebelum mempunyai gedung sendiri, tepatnya pada tahun 2009, Bu Ibad memanfaatkan rumahnya dan rumah sejumlah kerabat untuk menjadi ruangan belajar serta asrama bagi 20 anak yatim dhuafa.

Setelah beberapa tahun, barulah datang petolongan Allah melalui tangan-tangan para dermawan yang bersedia membantu pembangunan gedung Nurul Masakin. Hingga saat ini, terdapat sekitar 70 anak binaan yang terdiri dari 18 santri mukim dan 52 santri non mukim.

Yayasan tidak membebankan biaya apa pun kepada anak yatim dhuafa dalam program mukim. Kabutuhan mereka selama di asrama sepenuhnya ditanggung oleh kebaikan donatur.

Baca juga: 12 Hak Anak Versi PBB Berlaku Juga untuk Yatim

Di samping rasa syukur atas terus bertambahnya jumlah santri, Bu Ibad sering kali merasa khawatir dengan kebutuhan operasional yang juga semakin meningkat.

 

Harapan Bu Ibad bersama Harapan Amal Mulia

Bu Ibad dalam agenda penyaluran bantuan dari Harapan Amal Mulia untuk santri Yayasan Nurul Masakin. (Dok. Harapan Amal Mulia)

Kegigihan dalam memperjuangkan pendidikan anak yatim dan dhuafa membuat Harapan Amal Mulia berinisiatif membersamai ikhtiar Bu Ibad.

Yayasan Nurul Masakin yang beliau kelola akhirnya menjadi salah satu dari enam pesantren penerima manfaat program Pembinaan Pesantren dan Madrasah di Jawa Barat.

Proses pembelajaran di Yayasan Nurul Masakin. (Dok. Harapan Amal Mulia)

Melalui program hasil kolaborasi Harapan Amal Mulia dengan Badan Amil Zakat (BAZNAS) Jawa Barat tersebut, santri dan pesantren akan mendapat dukungan kebutuhan pokok dan keperluan belajar secara berkelanjutan.

Semoga dengan adanya program kolaborasi tersebut, semakin banyak anak yatim dhuafa di Jawa Barat yang terbantu pendidikannya. (history/harapanamalmulia)

Sahabat, Anda juga bisa turut mendukung program Pembinaan Pesantren dan Madrasah di Jawa Barat dengan memberikan donasi terbaik melalui pilihan rekening donasi di bawah ini:

BCA 0083 6858 72
Mandiri 132 003 321 2342
BSM 717 313 414 7
a.n. Yayasan Harapan Amal Mulia

Hubungi kami ke nomor 081 1234 1400 (SMS/Whatsapp) untuk konfirmasi donasi atau informasi lainnya ya, Sahabat! 😊

Mulia dengan Amal Terbaik

Ajak Yatim Liburan dengan 4 Kegiatan Menarik Ini

Liburan bukan hanya ajang untuk mencari kesenangan pribadi. Lebih dari itu, liburan bisa menjadi momentum berbagi manfaat contohnya dengan mengajak anak yatim untuk ikut serta.

 

Harapanamalmulia.org Beruntunglah kita yang masih bisa merasakan kebahagiaan liburan bersama keluarga, khususnya orang tua. Karena di luar sana banyak anak yatim yang tidak bisa merasakan hal tersebut.

Sebagaimana anak pada umumnya, yatim juga ingin merasakan liburan bersama keluarga. Namun jangankan liburan, untuk memenuhi kehidupan sehari-hari pun banyak di antara mereka yang hanya mengandalkan santunan anak yatim dan dhuafa.

Hal ini menjadi pengingat bagi kita untuk selalu bersyukur atas nikmat kehadiran orang tua juga rezeki yang cukup. Nah Sahabat, rasa syukur tersebut salah satunya bisa diwujudkan melalui berbagi kehabagiaan dengan anak yatim dengan mengajak mereka berlibur dan melakukan kegiatan yang membuat mereka bahagia.

Kegiatan seperti apa yang dimaksud? Berikut kami berikan beberapa rekomendasi kegiatan yang bisa dilakukan saat mengajak anak yatim liburan:


1)
Makan Bersama

Penyerahan donasi yatim dhuafa sekaligus buka bersama dalam program Ramadhan Terbaik (Dok. Harapan Amal Mulia)

 

Makan bersama keluarga mungkin merupakan kegiatan yang biasa bagi kita. Tapi belum tentu bagi anak yatim. Mengobrol bersama, bercengkrama, dan saling bertukar pikiran bisa jadi menjadi hal yang sangat didambakan anak-anak yatim setelah orang tua mereka tiada.


2)
Rekreasi ke Tempat Wisata

Kegiatan rekreasi bersama anak yatim dan dhuafa binaan Harapan Amal Mulia di Kabupaten Asahan. (Dok. Harapan Amal Mulia)

 

Sebagaimana kita waktu kecil yang akan sangat bahagia saat diajak berekreasi ke tempat wisata, anak yatim pun merasakan hal serupa. Maka dari itu, mengajak anak yatim berekreasi bisa menjadi pilihan cara untuk membahagiakan mereka.

Baca juga: Anak Yatim Berjuang Gantikan 5 Peran Ini dalam Keluarga


3) Membuat Karya atau Melakukan Olahraga Favorit

Seorang anak binaan Harapan Amal Mulia di Kabupaten Asahan diajak untuk melakukan olahraga panahan. (Dok. Harapan Amal Mulia)

 

Membuat anak yatim bahagia bisa ditempuh dengan cara yang sederhana, seperti membuat karya bersama atau melakukan olahraga favorit. Meski sederhana, kegiatan ini tentu bermanfaat untuk mengasah bakat serta melatih kepercayaan diri mereka.


4) Memberikan Santunan

Pemberian donasi yatim dan dhuafa kepada para penerima manfaat di Cicalengka, Kabupaten Bandung. (Dok. Harapan Amal Mulia)

 

Rekomendasi terakhir namun bisa jadi merupakan hal yang paling penting adalah memberikan santunan. Dukungan finansial dari para dermawan menjadi kebutuhan mendasar bagi anak yatim. Tak salah jika Islam sangat menganjurkan umatnya untuk berlomba-lomba memberikan santunan anak yatim dan dhuafa.

 

Manfaat Muliakan Anak Yatim

Rasulullah SAW bersabda: “Saya dan orang yang memelihara anak yatim itu dalam surga seperti ini.” Beliau mengisyaratkan dengan jari telunjuk dan jari tengahnya serta merenggangkan keduanya.”(HR. Bukhari)

 

Hadis di atas menunjukkan besarnya keutamaan dan pahala orang yang meyantuni anak yatim. Selain disayangi Allah dan Rasul-Nya karena mengamalkan Sunah, menyantuni anak yatim juga akan diganjar surga. Sebagaimana diketahui, surga adalah tujuan akhir dari perjalanan singkat kita di dunia.

Semoga kita menjadi hamba-hamba yang selalu diberi kelancaran rezeki dan kemampuan untuk menyantuni anak-anak yatim yang membutuhkan.

 

(history/harapanamalmulia)

Anak Yatim Berjuang Gantikan 5 Peran Ini dalam Keluarga

Ayah memiliki peran besar dalam kehidupan sebuah keluarga. Saat Ayah tidak ada, anak-anaknya lah yang bertanggung jawab menggantikan peran ayah agar keluarga agar kehidupan keluarga bisa tetap berjalan sebagaimana mestinya.

 

Harapanamalmulia.orgKehilangan ayah pada usia sebelum dewasa menjadi takdir berat yang harus dilalui anak yatim dan anak dhuafa tidak bersama bapaknya. Saat anak lain hidup nyaman dan bermanja-manja dengan ayahnya, mereka justru harus merasakan hal sebaliknya.

Banyak anak yatim dan dhuafa hidup dengan berbagai keterbatasan. Tak jarang, mereka hanya mengandalkan santunan anak yatim dan dhuafa untuk bisa bertahan hidup. Namun satu hal yang harus diingat, bahwa mereka juga bertanggung jawab untuk menggantikan peran ayah di keluarga.

Di antara peran-peran ayah yang digantikan oleh anak yatim dan dhuafa tersebut adalah:

 

Menjadi Teladan bagi Adik-adiknya

Saat ayah tidak ada, keluarga akan kehilangan sosok teladannya. Di sini lah anak, terutama yang masih mempunyai adik, berupaya menggantikan peran penting tersebut. Sebisa mungkin mereka akan mencontohkan hal-hal baik juga memberikan nasihat bijak.

 

Pelindung Keluarga

Agar fungsi keluarga sebagai pelindung tetap terpenuhi, peran ayah sebagai pelindung utama harus ada yang mengganti. Selain menjaga dirinya sendiri, anak yatim dan dhuafa juga akan mengambil tugas sebagai pelindung keluarga.

Rizki (14) yang tinggal bersama nenek dan ibunya menjadi peindung bagi keluarga sejak ayahnya tidak ada. (Dok. Harapan Amal Mulia)

 

Penentu Keputusan

Tugas yang tidak mudah tapi tetap harus diemban adalah menggantikan peran ayah sebagai penentu keputusan besar dalam keluarga. Contoh-contoh permasalahan keluarga yang biasanya harus diambil adalah mengenai pilihan pendidikan, pekerjaan, atau  hal-hal yang berhubungan dengan pembiayaan.

Baca juga: Terlahir sebagai Yatim, Bagaimana Perjuangan Rasulullah Sewaktu Kecil?

 

Pemberi Motivasi

Perjuangan ayah yang luar biasa untuk keluarga sering kali menjadi motivasi bagi anak-anaknya untuk menggapai mimpi. Saat ayah tidak ada, anak-anak yang ditinggalkan berperan untuk memberi motivasi satu sama lain.

 

Pencari Nafkah Keluarga

Hal yang bisa dikatakan paling sulit dialami anak yatim adalah keterbatasan ekonomi. Tidak ada lagi ayah yang mencukupi kebutuhan anak-anaknya. Sedangkan ibu belum tentu bisa memberikan pendapatan yang sama. Itulah mengapa anak yatim dan dhuafa harus mandiri secara ekonomi agar kebutuhannya tetap bisa terpenuhi.

Sabili (13), yatim asal Kecamatan Cicalengka berjualan gorengan setiap pagi untuk mencukupi kebutuhan keluarga. (Dok. Harapan Amal Mulia)

 

Sahabat, perjalanan berat menggantikan peran ayah seperti di atas kini dialami oleh anak-anak binaan Harapan Amal Mulia. Saat ini Harapan Amal Mulia mempunyai lebih dari 50 anak binaan yang terhimpun dalam dua program unggulan yaitu Beasiswa Harapan di Kabupaten Bandung dan Rumah Tahfiz Istana Sufara Quran (ISQ) di Kabupaten Asahan.

Nadya, Qayla, Ita, Salma, penerima donasi yatim dan dhuafa dalam program Beasiswa Harapan. (Dok. Harapan Amal Mulia)

 

Puluhan anak tersebut menjadi penerima manfaat santunan anak yatim dan dhuafa yang diamanahkan kepada Harapan Amal Mulia.

Penerima beasiswa Harapan Amal Mulia adalah mereka yang tengah berjuang menunut ilmu di bangku pendidikan formal. Sedangkan santri ISQ adalah mereka yang sedang dibina menjadi seorang penghafal ayat suci Al-Quran.

Meski secara teknis berbeda, tapi kedua program yang digagas Harapan Amal Mulia ini mempunyai tujuan yang sama yaitu agar anak-anak yatim dan dhuafa mempunyai kehidupan yang lebih baik di masa sekarang dan yang akan datang. (history/harapanamalmulia)

 

Yuk dukung perjuangan anak-anak yatim penerima manfaat Beasiswa Harapan dan santri ISQ dengan ikut mencukupi kebutuhan mereka.

Salurkan donasi terbaik melalui tautan kitabisa:

https://kitabisa.com/campaign/beasiswaharapan >>> untuk Beasiswa Harapan

https://kitabisa.com/campaign/pedulihafizquran >>> untuk santri Istana Sufara Quran (ISQ)

Terlahir sebagai Yatim, Bagaimana Perjuangan Rasulullah Sewaktu Kecil?

Rasulullah Saw. mempunyai masa kanak-kanak yang cukup berat tanpa kehadiran orang tua. Namun takdir tersebut lah yang justru membentuk beliau menjadi pribadi yang dikagumi.

Harapanamalmulia.org – Sosok Nabi Muhammad Saw. sangat menarik untuk dibahas. Bukan hanya mengenai kisah setelah kenabian, tapi juga tentang masa kecil beliau. Salah satu bagian yang patut kita kagumi dari sosok Nabi terakhir ini adalah perjuangan hidup beliau sebagai seorang anak yatim.

Rasulullah Saw. lahir pada hari Senin, 12 Rabiul Awal Tahun Gajah atau 22 April 571 Masehi dari seorang wanita berketurunan Bani Zuhrah, Aminah Binti Wahab. Ayahnya, Abdullah bin Abdul Muthalib wafat dalam medan perang saat Rasulullah masih enam bulan dalam kandungan. Akhirnya, ia lahir sebagai seorang yatim.

Tak berhenti di situ, saat Rasulullah berusia enam tahun, ibunya juga meninggal dunia karena sakit yang diderita dalam perjalanan ziarah ke pemakaman suaminya. Mulai saat itu, Rasulullah resmi menjadi seorang anak yatim piatu.

Setelah orang tuanya wafat, pengasuhan Rasulullah beralih kepada Sang Kakek, Abdul Muthalib yang tinggal di Kota Mekkah.

 

Tumbuh dalam Asuhan Sang Kakek yang Penuh Kasih Sayang

Rasululullah yang mengalami duka akibat kepergian orang tua membuat Abdul Muthalib selalu memberikan kasih sayang yang besar kepada cucunya. Melalui pengasuhan Sang Kakek, Rasulullah tumbuh menjadi seorang yang lembut dan penuh kasih sayang.

Namun kesedihan lagi-lagi menimpa Rasulullah. Pada usia delapan tahun, Sang Kakek wafat. Akhirnya pengasuhan beliau harus berpindah ke Abu Thalib, Sang Paman.

Baca juga: Cahaya Islam yang Sempurna dalam Akhlak Mulia Rasulullah Saw.

 

Belajar Mandiri dengan Berdagang

Ilustrasi Rasulullah sebagai pedagang. (Sumber: Tfanews)

Tumbuh dalam pengasuhan Abu Thalib memberikan banyak hikmah bagi Rasulullah. Salah satunya, beliau bisa belajar mandiri secara ekonomi dengan berdagang. Saat Rasulullah berusia dua belas tahun, ia sudah diajak diajak berdagang ke Negeri Syam.

Banyak ilmu yang beliau tuai selama berdagang. Dari ilmu-ilmu tersebut, beliau menjadi seorang pedagang ulung di kemudian hari.

 

Menjadi Penggembala Kambing

Pada masa awal remaja, Rasulullah tidak mempunyai pekerjaan tetap. Hari-harinya banyak dihabiskan dengan menggembala kambing milik Abu Thalib. Bukan sekedar untuk mencari nafkah, Rasulullah menggembala dengan tujuan mengambil kesempatan dakwah. Keuletan Rasulullah dalam menggembala juga menjadi teladan bagi umat agar selalu bekerja  dengan amanah.

Masa-masa berat tanpa kehadiran orang tua yang dialami Rasulullah, membuat beliau menjadi seorang yang amat mencintai anak-anak yatim. Kecintaan tersebut tentu saja bukan berasal dari naluri manusia biasa, melainkan atas pengaturan Allah Swt.

Memberikan santunan yatim dan dhuafa salah satu merupakan ikhtiar Harapan Amal Mulia memuliakan mereka.(Dok. Harapan Amal Mulia)

 

Allah begitu mencintai hamba-Nya yang memuliakan yatim. Dalam sebuah Hadis, Ia bahkan menjanjikan surga yang berdekatan dengan Rasulullah untuk kita yang menanggung kehidupan yatim.

Kedudukanku dan orang yang menanggung anak yatim di surga bagaikan ini.”   [Beliau merapatkan jari telunjuk dan jari tengahnya]. (HR. Bukhari)

 

Sahabat, menjadi yatim bukanlah musibah. Kehadirannya mereka tengah-tengah kita justru merupakan berkah karena menjadi ladang pahala untuk bersedekah. Semoga Allah senantiasa memudahkan kita untuk bisa memuliakan anak-anak yatim. (history/harapanamalmulia)

 

Sumber: Sirah Nabawiyah karya Syaikh Shafiyyurrahman Al-Mubarakfuri

Ayah Tiada, Ibu Para Yatim Jadi Tulang Punggung Keluarga

Kehidupan yang berat dijalani keluarga Rizki, Dita, dan Bili. Sejak Ayah mereka tiada, para Ibulah yang bereperan menjadi tulang punggung keluarga. Bagaimana perjuangan para Ibu membesaran anak-anak mereka tersebut?

 

Harapanamalamulia.org –  Hidup tanpa adanya peran seorang Ayah bukan perkara mudah. Kebutuhan materi yang harus dipenuhi, menjadi tantangan baru bagi keluarga yang ditinggalkan. Dalam keadaan demikian, Ibu-lah yang biasanya berperan menggantikan Ayah menjadi tulang punggung keluarga.

Seperti yang dialami oleh Nenek Mimi, Neneng, dan Heni. Ketiga wanita tangguh dari Kp. Pacinan, Desa Cicalengka Wetan, Kecamatan Cicalengka, Kabupaten Bandung ini berupaya keras memenuhi kebutuhan anak/ cucunya di usia yang sudah tidak muda.

 

1. Nenek Mimi Gantikan Peran Orang Tua Rizki

Tangannya terlihat bergetar. Keriput pada wajah juga sudah jelas terlihat. Nenek Mimi (72) memang sudah tidak muda lagi. Tapi mau tak mau ia harus menggantikan peran orang tua bagi Muhammad Rizki (14), cucu kesayangannya.

Dengan kondisi yang sudah mulai lemah, Nenek Mimi tak bisa bekerja di luar rumah. Bantuan pemerintah dan pemberian sekedarnya dari anak-anak Nenek Mimi menjadi andalannya memenuhi keperluan Rizki dan dirinya sendiri.

 

2. Penuhi Kebutuhan Keluarga dengan Menjadi Buruh Konveksi

Setiap hari, Neneng bekerja menjadi seorang buruh konveksi untuk penuhi kebutuhan anaknya, Dita. (Dok. Harapan Amal Mulia)

Tak jauh beda dari Nenek Mimi, ada Neneng (51). Sejak suaminya meninggal dunia, Neneng-lah yang berupaya memenuhi segala kebutuhan rumah tangga, termasuk keperluan anak bungsunya, Despita Fajrah (9).

Despita atau Dita yang masih duduk di kelas tiga sekolah dasar itu mempunyai banyak kebutuhan, terutama mengenai pendidikannya. Itulah yang menjadi motivasi Neneng bekerja keras menjadi buruh di sebuah konveksi.

 

3. Heni, Gigih Berjualan untuk Masa Depan Sabili

Heni dan Bili menjadi penerima manfaat santunan anak yatim dan dhuafa dari Harapan Amal Mulia. (Dok. Harapan Amal Mulia)

Berjualan gorengan menjadi andalan Heni mencari nafkah. Sejak suaminya meninggal dunia, Heni berperan menjadi tulang punggung keluarga. Ia selalu tidur larut karena harus menyiapkan dagangan untuk dijual pada dini hari. Perjuangan yang selama ini ia lakukan tak lain adalah untuk anak bungsu tercinta, Sabili (12).

Kesibukkan Heni berjualan mengakibatkan ia sering sakit-sakitan. Meski begitu, kehadiran Sabili membuat Heni terus bersemangat menjalani kehidupannya.

Meski terdengar kuat, Nenek Mimi, Neneng, dan Heni tak memungkiri bahwa mereka membutuhkan dukungan untuk membesarkan anak mereka. Itulah yang menjadi salah satu latar belakang Harapan Amal Mulia memberikan beasiswa kepada Rizki, Dita, dan Sabili.

 

Donasi Yatim Dhuafa Jangkau Anak-anak di Cicalengka

Anak-anak Penerima manfaat Beasiswa Yatim Mulia di Cicalengka. (Harapan Amal Mulia)

Alhamdulillah, hingga saat ini terdapat sembilan anak yatim dan dhuafa di Kecamatan Cicalengka yang dibantu secara berkelanjutan melalui Beasiswa Yatim Mulia. Setiap bulan, mereka menerima santunan tunai yang bersumber dari donasi yatim dhuafa yang diamanahkan kepada Harapan Amal Mulia.

Melalui Beasiswa Yatim Mulia itu pula, para penerima manfaat dibimbing secara akademis dan mental  dengan harapan mereka bisa tumbuh menjadi pribadi yang unggul.

Sahabat, perjuangan para ibu di Cicalengka untuk membesarkan anak-anaknya perlu kita dukung. Mari, bantu penuhi kebutuhan sehari-hari dan biaya pendidikan anak yatim dan dhuafa di Cicalengka dengan memberikan donasi terbaik.

 

Salurkan kontribusi terbaik melalui:

https://kitabisa.com/beasiswaharapan

 

Atau transfer donasi melalui rekening:

BSM 2017 004 018

a.n Yayasan Harapan Amal Mulia

 

Mohon konfirmasi setelah transfer melalui SMS/Whatsapp: 081 1234 1400 ya, Sahabat! 😊