Tag: Amal Mulia Bencana

Tag: Amal Mulia Bencana

Berbagi Santapan Sehat untuk Korban Banjir Lebak

Korban banjir Lebak di Kecamatan Sajira menjalani kehidupan yang sulit di pengungsian. Harapan Amal Mulia berupaya meringankan kebutuhan para korban melalui program dan kolaborasi kemanusiaan.

 

Harapanamalmulia.orgMeski puncak musim hujan semakin dekat, warga Desa Pajagan, Kecamatan Sajira masih bertahan tinggal di tenda-tenda sederhana yang terbuat dari terpal dan bilahan bambu.

Sejak banjir bandang meratakan sebagian besar rumah warga pada akhir Desember 2019 lalu, tenda menjadi satu-satunya tempat berlindung. Tak mudah tinggal berpuluh-puluh hari di pengungsian. Selain rawan terdampak penyakit akibat hujan, kurangnya persediaan makanan juga menjadi tantangan bagi mereka.

Banjir Bandang mengakibatkan masjid dan rumah warga di Desa Pajagan, Kecamatan Sajira. (Dok. Harapan Amal Mulia)

 

Hingga saat ini, warga di pengungsian hanya mengandalkan swadaya para dermawan agar bisa mendapatkan makanan. Untuk menanggapi hal tersebut, Harapan Amal Mulia berupaya meringankan kebutuhan korban banjir di pengungsian melalui program Amal Mulia Peduli.

 

Amal Mulia Peduli Bantu Kebutuhan Pengungsi

Di tengah gemericik hujan, tim Harapan Amal Mulia mengunjungi ke lokasi pengungsian dengan membawa amanah bantuan dari donatur.

Belasan sak beras, berkardus-kardus daging olahan serta makanan ringan dibawa ke lokasi. Tim juga menyiapkan makanan siap santap berisi nasi, sayur, dan daging untuk makan siang warga.

Tim Harapan Amal Mulia membagikan hidangan siap santap untuk korban banjir di Desa Pejagan, Kecamatan Sajira, Kabupaten Lebak. (Dok. Harapan Amal Mulia)

 

Terlihat dari raut wajah para pengungsi, mereka tampak senang dengan adanya bantuan tersebut. Mereka mengaku sangat bersyukur bisa mendapatkan makanan yang nikmat dan sehat di pengungsian.

Setelah melakukan penyaluran untuk korban di Kampung Sepan, tim pun bergegas menuju lokasi selanjutnya yaitu di Desa Sajira Mekar, Kecamatan Sajira, tepatnya di Pesantren Nurul Dzulaim.

 

Baca juga: Hafal Quran Lebih Mudah Bagi Santri ISQ Saat Kebutuhan Ini Terpenuhi

 

Keadaan korban banjir di desa tersebut tak kalah mengkhawtirkan. Selain warga yang kehilangan rumahnya, anak-anak juga belum bisa bersekolah karen bangunan yang rusak diterjang air bah.

Hal tersebut yang menjadi motivasi Harapan Amal Mulia untuk menjalin kolaborasi kemanusiaan dengan sejumlah lembaga kemanusiaan yaitu Aksi Cepat Tanggap (ACT) Kota Bekasi, Yayasan Al-Iman, dan Sabana Foundation.

 

Kolaborasi Amal Mulia dengan ACT, Al-Iman, Teladan Foundation, MRI  dan Sabana Foundation

Harapan Amal Mulia berkolaborasi dengan Aksi Cepat Tanggap (ACT) Kota Bekasi untuk melakukan penyaluran. (Dok. Harapan Amal Mulia) 

 

Berkat adanya kolaborasi yang dijalin antara Harapan Amal Mulia dengan  ACT Kota Bekasi, Al-Iman, dan Sabana Foundation, bantuan yang diberikan untuk korban banjir Lebak di Sajira semakin beragam. Selain bantuan bahan makanan pokok, tim juga menyalurkan bantuan dalam berupa alat tulis, perlengkapan ibadah, kebutuhan sanitasi juga obat-obatan.

 

Alhamdulillah, banyak saudara-saudara kita yang terbantu dengan kebaikan Anda. Sahabat, Kami akan terus berupaya agar amanah bantuan dari Anda diterima dengan suka cita oleh para penerima manfaat.

(history/harapanamalmulia)

Pengungsi Palu Jalani Ramadan dengan Keterbatasan Listrik dan Air Bersih

Harapanamalmulia.org Cerita Ramadan yang sulit dan gelap karena taka da listrik ternyata bukan hanya dialami saudara-saudara kita di Gaza, tapi juga di Palu.  Sampai saat ini, sekitar 30 persen dari 40 ribu korban bencana Palu masih bertahan hidup di pengungsian. Mirisnya, ketersediaan listrik dan air bersih sangat minim di sana.

“Terang Kami (Pemerintah Kota Palu), tidak punya dana untuk membiayai pemasangan dan penyediaan listrik dan air bersih di sana” ujar Walikota Palu, Hidayat seperti dikutip dalam Antara pada 8 Mei 2019 lalu.

Pengungsi Gempa Palu

Delapan bulan pasca kejadian gempa, tsunami, dan likuefaksi, masih banyak warga Palu yang bertahan hidup di pengungsian dengan fasilitas yang terbatas. ()

Sejumlah warga pun mengeluhkan hal tersebut, terutama tentang tak adanya air bersih sebagai kebutuhan mendasar yang sangat penting bagi pengungsi.

Contohnya di kelurahan Petobo, selain untuk keperluan masak, warga juga membutuhkan air sebagai untuk keperluan ibada, seperti wudu.

 

Baca juga: Amal Mulia Salurkan Bantuan Perdana untuk Korban Gempa Palu

 

“Air yang perlu disediakan di Masjid Jami Al Furqan,” ucap Mohammad Fauzin, warga Kelurahan Petobo, di Petobo, Kamis (24/5/2019).

Ramadhan di Pengungsian

Masjid Jami Al Furqan di kompleks pengugsian korban likuefaksi Petobo, Sulteng hanya memiliki satu penampungan yang ketersediaan airnya terbatas. (Sumber: Antara)

Sejak gempa, tsunami, dan likuefaksi mengguncang Palu pada akhir September 2018 lalu, pengungsi mengandalkan swadaya pemerintah dan lembaga kemanusiaan untuk bertahan hidup. Untuk sahur dan berbuka puasa, pengungsi hanya mengandalkan makanan yang ada di dapur umum.

Setalah pada 2018 lalu menyalurkan bantuan kemanusiaan, pada Ramadan yang berkah ini Amal Mulia kembali berikhtiar meringankan beban korban bencana Palu dengan memberikan Bingkisan Hari Raya Terbaik.

 

Baca juga: Sejenak Mengalihkan Trauma Anak-anak Palu

 

Selain di Palu, program tersebut Insya Allah juga akan dilaksanakan di Lombok, Riau, Bangka Belitung, Jabar-Banten, dan Daerah Istimewa Yogyakarta.

Mohon doa dan dukungan agar program tersebut dapat berjalan dengan ancar dan selalu berada dalam rida Allah Swt. (history/amalmulia)

Sumber: Antara News, Cendana News

 

 

Berburu Sesuap Nasi dari Sisa-sisa Likuefaksi

Dua orang warga Petobo saat memotong besi sisa-sisa bangunan yang terdampak likuefaksi di lokasi likuefaksi Petobo, Kelurahan Petobo, Kecamatan Palu Selatan, Kota Palu, Minggu (7/4). Sumber: Kumparan

Harapanamalmulia.org – Di bawah terik matahari, beberapa warga Petobo terlihat mondar-mandi menyusuri lokasi likuefaksi, berharap menemukan barang-barang rongsokan yang akan ditukar dengan sesuap nasi. Sebagian warga yang lain menggergaji besi-besi yang berhasil mereka temukan dari balik tumpukkan lumpur kering.

Besi-besi tersebut tak begitu saja mereka dapatkan. Sebelumnya, warga harus menggali sedalam lima bahkan sampai sepuluh meter. Para pengepul barang rongsokan menetapkan harga besi bekas sebesar Rp 3 ribu per kilogram.

 

Baca juga: Sebulan Menuju Ramadan, 6.000 Anak Palu Masih Hidup Pilu di Pengungsian

 

Disadari atau tidak, aktivitas penggalian tanah di lokasi likuefaksi ibarat mempertaruhkan nyawa sendiri. Struktur tanah di sana sangat labil karena bukan tanah padat melainkan lumpur kering yang bisa ambruk kapan saja.

 

Likuifasi Palu

Dua orang warga Petobo saat memotong besi sisa-sisa bangunan yang terdampak likuefaksi di Kelurahan Petobo, Kecamatan Palu Selatan, Kota Palu, Minggu (7/4). Sumber: Kumparan

Namun tak ada pilihan lain. Saleh (60), salah satu warga dalam Kumparan mengatakan pada Ahad 7 April 2019 lalu, sejak ia tak lagi mendapatkan bantuan, barang-barang rongsokan itulah yang menjadi sumber penghidupan bagi Saleh dan anak-anaknya.

“Lumayan, selama aktivitas kami di lokasi ini, Alhamdulillah bisa membantu menghidupi keluarga di Pengungsian,” ujarnya.

 

Baca juga: 7 Hal yang Selalu Dirindukan Saat Ramadan

 

Enam  bulan pasca gempa dan  likuefaksi ‘menenggelamkan’ Kelurahan Petobo, Kecamatan Palu Selatan, Kota Palu, Sulawesi Tengah kehidupan warga belum pulih seutuhnya. Sejumlah warga masih tinggal di tenda-tenda pengungsian, mata pencaharian baru juga sulit mereka dapatkan.

Anak-anak sebagai golongan rentan ikut terkena imbasnya. Sampai saat ini, ada sekitar 6 ribu anak yang bertahan hidup di pengungsian. Kondisi pengungsian yang tak layak mengakibatkan anak-anak mudah terkena penyakit.

 

Berbagi Kebahagiaan Hari Raya dengan  Korban Bencana

Bingkisan Hari Raya Terbaik Korban Bencana Alam merupakan salah satu program yang digagas Amal Mulia untuk membersamai korban bencana alam, terutama yatim dan dhuafa pada Ramadan dan  hari raya Idul Fitri yang sebentar lagi akan datang.

Bencana Alam

Salah satu titik lokasi di kawasan likuefaksi Petobo, Kelurahan Petobo, Kecamatan Palu Selatan, Kota Palu, Sulawesi Tengah, yang digali oleh warga untuk mencari barang rongsokan sisa likuefaksi (7/4). Sumber: Kumparan

Dalam program tersebut, Amal Mulia akan memberikan 1000 paket bingkisan hari raya untuk anak yatim dhuafa korban bencana alam berupa pakaian muslim, kerudung, dan peci. Adanya koordinator daerah akan memudahkan penyaluran bantuan agar sampai pada pihak yang semestinya.

 

Kami membuka selebar-lebarnya kesempatan bagi para donatur untuk ikut berpartisipasi mendukung kelancaran program tersebut. Hanya dengan berdonasi sebesar Rp.250.000/paket, bingkisan hari raya sudah bisa diterima oleh para penerima manfaat. (history/amalmulia)

Sumber: Kumparan

 

Salurkan donasi terbaik melalui

Bank Syariah Mandiri

2017 00 4029

a.n Yayasan Harapan Amal Mulia Yatim

 

Banjir Terjang SD di Bandung, Puluhan Siswa Terjebak Derasnya Air

Harapanamalmulia.org – Banjir akibat jebolnya tanggul Cicalebak di Jalan Sukup Baru, Kelurahan Pasirendah, Kecamatan Ujungberung, Kota Bandung mengakibatkan rusaknya bangunan SDN Aji Tunggal. Saat banjir menerjang pada Senin (1/4/2019) sore, ratusan siswa sekolah tersebut tengah melangsungkan kegiatan belajar.

Sebelum kejadian, guru SDN 106 Aji Tunggal Cijambe Tutinah (57) menuturkan, hujan mengguyur wilayah tersebut sekitar pukul 15.15 WIB. Tiga puluh menit kemudian, ia mendengar suara cukup kecang yang kemudian diketahui merupakan suara ambruknya tanggul penahan air Kali Cicalebak yang berada tepat di belakang sekolah. Tidak lama, air masuk ke area kelas tempat Tutinah mengajar.

Banjir Daerah Bandung

Air deras limpahan tanggul Cicalebak mengakibatkan rusaknya gedung dan fasilitas SDN Aji Tunggal. (Sumber: Kompas)

Air yang datang semakin deras mengakibatkan suasana menjadi mencekam.  “Pertama airnya itu selutut, lama kelamaan langsung tinggi sepinggang orang dewasa,” tutur Tutinah, dilansir dari Detik News.

 

Baca juga: Paket Makanan untuk Korban Banjir Kampar

 

Puluhan siswa yang sedang bersamanya di kelas terlihat panik dan histeris. Khawatir air akan semakin tinggi atau menyeret siswa,  Tuntinah langsung memerintahkan mereka  naik ke atas meja.

“Saya suruh anak-anak naik ke atas meja. Terus pake bangku juga mereka berdiri. Ada yang nangis,” ujarnya.

Dari video yang beredar, derasnya air mengakibatkan anak-anak menyeberang menuju sekolah dibantu oleh orang-orang dewasa, menggunakan tongkat. (Sumber: TribunJabar.id)

 

Tutinah bersama puluhan siswa terjebak di dalam kelas. Setelah air sedikit surut, warga dan pihak lainnya membantu untuk mengevakuasi.

Kejadian tersebut juga telah mengakibatkan 50 persen bangunan SDN Aji Tunggal rusak. Buku, dan sejumlah fasilitas belajar siswa pun ikut terkena dampaknya. Bahkan, area lapangan upacara tertutupi gundukan tanah sisa banjir. (history/amalmulia)

 

Sebulan Menuju Ramadan, 6.000 Anak Palu Masih Hidup Pilu di Pengungsian

Harapanamalmulia.org – Duka Palu belum juga berlalu. Enam bulan pasca gempa, tsunami, dan likuifaksi yang terjadi, enam ribu anak korban bencana masih hidup terkatung di sejumlah titik pengungsian.

Menurut laporan Save the Children (Yayasan Sayangi Tunas Cilik/STC) enam ribu anak masih tinggal di pengungsian dengan kondisi yang memprihatinkan.

“Saat puluhan ribu orang sudah bisa dijangkau, enam bulan setelah bencana ini kami masih sangat khawatir dengan kondisi 6.000 anak yang masih tinggal di hunian sementara (huntara) seperti tenda, serta ribuan lainnya yang tinggal di rumah-rumah rusak.” ujar Tom Howells, Response Team Leader STC dalam rilisan persnya (26/3/2019).

Tom juga mengungkapkan, huntara yang kini ditinggali anak-anak tersebut mempunyai kondisi yang memprihatinkan. Ia kerap kali menemukan hunian sementara yang tak berlantai, sehingga akan banjir ketika turun hujan.

 

Baca juga: Korban Gempa Palu Butuh Bantuan Segera

 

Menurut STC, masih ada banyak tumpukan puing-puing tajam di lingkungan pengungsian sehingga membahayakan ribuan anak yang tinggal di sana.

Sistem sanitasi pengungsian yang buruk juga mengakibatkan anak-anak berisiko terkena penyakit seperti diare, pneumonia dan demam berdarah.

Kesedihan dirasa semakin menyayat mengingat Ramadan sebentar lagi akan tiba. Pada Ramadan tahun lalu, sebagian besar dari mereka mungkin tak pernah menyangka bahwa Ramadan tahun ini harus dilalui dengan berbagai kisah pilu.

Tinggal di pengungsian dengan kondisi menyayat hati, tak ada orang tua bagi sebagian mereka, tak ada pula hiburan canggih seperti ponsel pintar atau televisi.

 

Bingkisan Hari Raya Terbaik untuk Korban Bencana Alam

Berikhtiar memuliakan yatim dan dhuafa khususnya korban bencana alam di bulan Ramadan,  Amal Mulia hadir dengan Bingkisan Hari Raya Terbaik. Bingkisan Hari Raya Terbaik merupakan salah satu rangkaian program Ramadhan Terbaik (Tebar Kebaikan bersama Yatim Dhuafa) berupa membagikan seribu paket bingkisan hari raya untuk anak yatim dan dhuafa korban bencana alam. Bingkisan yang diberikan yaitu pakaian muslim anak-anak.

 

Baca juga: 7 Hal yang Selalu Dirindukan Saat Ramadan

 

Program Bingkisan Hari Raya Terbaik ini akan diselenggrakan di sejumlah provinsi di Indonesia di antaranya Riau, Bangka Belitung, Jabar-Banten, DIY, Sulawesi Tengah, serta Nusa Tenggara Barat.

Kami membuka selebar-lebarnya kesempatan bagi para donatur untuk ikut berpartisipasi mendukung kelancaran program tersebut. Hanya dengan berdonasi sebesar Rp.250.000/paket, bingkisan hari raya sudah bisa diterima oleh para penerima manfaat. (history/amalmulia)

Sumber: Kbr.id

 

Salurkan donasi terbaik melalui

Bank Syariah Mandiri

2017 00 4029

a.n Yayasan Harapan Amal Mulia Yatim