Tag: Bencana Alam

Tag: Bencana Alam

Ikhtiar Antarkan Amanah Donatur untuk Korban Banjir Labura

Menjangkau wilayah bencana, apalagi di pedalaman bukan perkara mudah. Berbagai rintangan mewarnai perjalanan tim Harapan Amal Mulia mengantarkan bantuan dari donatur.

 

Harapanamalmulia.org –  Ikhtiar Harapan Amal Mulia menyalurkan amanah donatur untuk korban banjir di Desa Pematang, Kecamatan NA-IX, Labuhanbatu Utara (Utara), Sumatera Utara menyisakan banyak pengalaman berkesan.

Hamparan perkebunan menjadi pemandangan yang sering ditemui setelah kendaraan kami berbelok dari jalan raya menuju desa. Setelah hampir satu jam melewati jalanan berbatu, mulai terlihat rumah-rumah dan fasilitas yang rusak akibat banjir bandang yang terjadi pada akhir Desember 2019 lalu.

Jalan menuju lokasi penyaluran di Desa Pematang, Kecamatan NA-IX. (Dok. Harapan Amal Mulia)

Lokasi penyaluran memang berjarak cukup jauh dari kantor cabang Harapan Amal Mulia, yang terletak di Kabupaten Asahan. Namun kabar tentang sulitnya para korban mendapat bantuan, serta adanya dukungan yang besar dari donatur, menjadi pemicu semangat Kami.

 

Duka Warga Labura Pasca Musibah banjir

Banjir bandang menerjang dua desa di kecamatan NA-IX, termasuk Desa Pematang. Setidaknya tiga orang meninggal dunia akibat terbawa derasnya air bah. Sementara itu, puluhan warga kehilangan rumah dan harta benda sehingga terpaksa mengungsi.

Kondisi rumah warga Labura pasca diterjang banjir. (Dok. Harapan Amal Mulia)

 

Sejumlah warga mengungsi ke rumah kerabat yang sebenarnya jauh dari lokasi. Namun karena tidak adanya fasilitas pengungsian dan terbatasanya bantuan yang masuk ke lokasi bencana membuat mereka terpaksa melakukan hal tersebut.

Meski begitu, tak sedikit pula warga yang memilih bertahan di tenda-tenda sederhana dan memanfaatkan bantuan seadanya.

 

Baca juga: Sedekah Paling Mudah Dan Murah

 

Kebaikan Donatur Rangkul Korban Banjir Labura

Kedatangan tim Harapan Amal Mulia dengan bantuan yang dibawa menjadi angin segar bagi korban banjir Labura. Setidaknya, mereka merasa aman dengan tercukupinya kebutuhan makanan untuk beberapa hari yang akan datang.

Bantuan titipan donatur diterima oleh salah satu pengurus desa setempat. (Dok. Harapan Amal Mulia)

Ada pun jenis bantuan yang disalurkan adalah bahan makanan pokok seperti beras, minyak, telur, roti, dan lain sebagainya. Di samping itu, tim Harapan Amal Mulia juga memberikan sejumlah alat tulis untuk anak-anak korban banjir yang kehilangan sarana belajarnya.

Alhamdulillah, kebaikan donatur dapat meringankan kebutuhan korban banjir Labura.  Insya Allah, Harapan Amal Mulia akan menjembatani kebaikan-kebaikan selanjutnya agar bisa dimanfaatkan oleh orang-orang yang membutuhkan.

(history/harapanamalmulia)

Banjir Terjang SD di Bandung, Puluhan Siswa Terjebak Derasnya Air

Harapanamalmulia.org – Banjir akibat jebolnya tanggul Cicalebak di Jalan Sukup Baru, Kelurahan Pasirendah, Kecamatan Ujungberung, Kota Bandung mengakibatkan rusaknya bangunan SDN Aji Tunggal. Saat banjir menerjang pada Senin (1/4/2019) sore, ratusan siswa sekolah tersebut tengah melangsungkan kegiatan belajar.

Sebelum kejadian, guru SDN 106 Aji Tunggal Cijambe Tutinah (57) menuturkan, hujan mengguyur wilayah tersebut sekitar pukul 15.15 WIB. Tiga puluh menit kemudian, ia mendengar suara cukup kecang yang kemudian diketahui merupakan suara ambruknya tanggul penahan air Kali Cicalebak yang berada tepat di belakang sekolah. Tidak lama, air masuk ke area kelas tempat Tutinah mengajar.

Banjir Daerah Bandung

Air deras limpahan tanggul Cicalebak mengakibatkan rusaknya gedung dan fasilitas SDN Aji Tunggal. (Sumber: Kompas)

Air yang datang semakin deras mengakibatkan suasana menjadi mencekam.  “Pertama airnya itu selutut, lama kelamaan langsung tinggi sepinggang orang dewasa,” tutur Tutinah, dilansir dari Detik News.

 

Baca juga: Paket Makanan untuk Korban Banjir Kampar

 

Puluhan siswa yang sedang bersamanya di kelas terlihat panik dan histeris. Khawatir air akan semakin tinggi atau menyeret siswa,  Tuntinah langsung memerintahkan mereka  naik ke atas meja.

“Saya suruh anak-anak naik ke atas meja. Terus pake bangku juga mereka berdiri. Ada yang nangis,” ujarnya.

Dari video yang beredar, derasnya air mengakibatkan anak-anak menyeberang menuju sekolah dibantu oleh orang-orang dewasa, menggunakan tongkat. (Sumber: TribunJabar.id)

 

Tutinah bersama puluhan siswa terjebak di dalam kelas. Setelah air sedikit surut, warga dan pihak lainnya membantu untuk mengevakuasi.

Kejadian tersebut juga telah mengakibatkan 50 persen bangunan SDN Aji Tunggal rusak. Buku, dan sejumlah fasilitas belajar siswa pun ikut terkena dampaknya. Bahkan, area lapangan upacara tertutupi gundukan tanah sisa banjir. (history/amalmulia)

 

Sebulan Menuju Ramadan, 6.000 Anak Palu Masih Hidup Pilu di Pengungsian

Harapanamalmulia.org – Duka Palu belum juga berlalu. Enam bulan pasca gempa, tsunami, dan likuifaksi yang terjadi, enam ribu anak korban bencana masih hidup terkatung di sejumlah titik pengungsian.

Menurut laporan Save the Children (Yayasan Sayangi Tunas Cilik/STC) enam ribu anak masih tinggal di pengungsian dengan kondisi yang memprihatinkan.

“Saat puluhan ribu orang sudah bisa dijangkau, enam bulan setelah bencana ini kami masih sangat khawatir dengan kondisi 6.000 anak yang masih tinggal di hunian sementara (huntara) seperti tenda, serta ribuan lainnya yang tinggal di rumah-rumah rusak.” ujar Tom Howells, Response Team Leader STC dalam rilisan persnya (26/3/2019).

Tom juga mengungkapkan, huntara yang kini ditinggali anak-anak tersebut mempunyai kondisi yang memprihatinkan. Ia kerap kali menemukan hunian sementara yang tak berlantai, sehingga akan banjir ketika turun hujan.

 

Baca juga: Korban Gempa Palu Butuh Bantuan Segera

 

Menurut STC, masih ada banyak tumpukan puing-puing tajam di lingkungan pengungsian sehingga membahayakan ribuan anak yang tinggal di sana.

Sistem sanitasi pengungsian yang buruk juga mengakibatkan anak-anak berisiko terkena penyakit seperti diare, pneumonia dan demam berdarah.

Kesedihan dirasa semakin menyayat mengingat Ramadan sebentar lagi akan tiba. Pada Ramadan tahun lalu, sebagian besar dari mereka mungkin tak pernah menyangka bahwa Ramadan tahun ini harus dilalui dengan berbagai kisah pilu.

Tinggal di pengungsian dengan kondisi menyayat hati, tak ada orang tua bagi sebagian mereka, tak ada pula hiburan canggih seperti ponsel pintar atau televisi.

 

Bingkisan Hari Raya Terbaik untuk Korban Bencana Alam

Berikhtiar memuliakan yatim dan dhuafa khususnya korban bencana alam di bulan Ramadan,  Amal Mulia hadir dengan Bingkisan Hari Raya Terbaik. Bingkisan Hari Raya Terbaik merupakan salah satu rangkaian program Ramadhan Terbaik (Tebar Kebaikan bersama Yatim Dhuafa) berupa membagikan seribu paket bingkisan hari raya untuk anak yatim dan dhuafa korban bencana alam. Bingkisan yang diberikan yaitu pakaian muslim anak-anak.

 

Baca juga: 7 Hal yang Selalu Dirindukan Saat Ramadan

 

Program Bingkisan Hari Raya Terbaik ini akan diselenggrakan di sejumlah provinsi di Indonesia di antaranya Riau, Bangka Belitung, Jabar-Banten, DIY, Sulawesi Tengah, serta Nusa Tenggara Barat.

Kami membuka selebar-lebarnya kesempatan bagi para donatur untuk ikut berpartisipasi mendukung kelancaran program tersebut. Hanya dengan berdonasi sebesar Rp.250.000/paket, bingkisan hari raya sudah bisa diterima oleh para penerima manfaat. (history/amalmulia)

Sumber: Kbr.id

 

Salurkan donasi terbaik melalui

Bank Syariah Mandiri

2017 00 4029

a.n Yayasan Harapan Amal Mulia Yatim

 

Teriakan Martina Terdengar Redup, Tersamarkan Suara Hujan dan Gemuruh Banjir

Harapanamalmulia.org – Dalam keadaan takut, Martina berteriak sekuat tenaga berharap ada orang yang mendengar dan menolongnya.Namun, teriakan Martina terdengar redup, tersamarkan oleh suara hujan lebat dan gemuruh banjir bandang yang melanda Sentani, Kabupaten Jayapura, Papua, Sabtu 16 Maret 2019 malam.

Martina Safkaur terjebak di dalam rumahnya yang berada di lereng cagar alam Pegunungan Cycloop, Sentani.

“Saya teriak-teriak minta tolong, sudah mau nangis karena terlalu takut, panik. Ini sudah terlalu banjir dan saya lihat batu dan kayu sudah bunyi. Aduh, pokoknya bunyi batu bikin takut sekali,” cerita Martina kepada BBC News Indonesia, Selasa 19 Maret 2019.

Material batu dan gelondongan kayu turun dari lereng, membuat Martina dan kelima anaknya semakin takut, merinding tak karuan.

Banjir Papua

“Kitong naik, langsung pikul yang kecil. Semua sudah dalam kondisi gemetar. Ada yang takut karena lihat bongkahan kayu besar turun,” ungkap Martina.

Putra sulung Martina yang berusia 10 tahun menggendong adiknya yang berumur satu tahun. Sementara Martina menggendong anaknya yang berusia dua bulan.

Rumah mereka di pinggir Sungai Suembak, salah satu sungai yang mengalir keluar dari Pegunungan Cyclops, hancur dihantam banjir besar. Mereka pun terpaksa mengungsi ke rumah kerabat terdekat.

Baca juga: Paket Makanan untuk Korban Banjir Kampar

Pada saat kejadian, suami Martina, Jefri, sedang tak ada di rumah. Martina berjibaku dengan air dan tanah untuk menyelamatkan diri dan anak-anaknya.

Memasuki hari keempat (20/3/2019) pasca-bencana, tim gabungan TNI/Polri, Basarnas dan Tim Sosial telah menemukan 100 jenazah korban banjir Sentani.

Keadaan Jayapura Setelah Banjir

Kapendam XVII Cenderawasih Kolonel Inf. Muhammad Aidi menuturkan, area penyisiran pencarian korban terus diperluas sehingga semakin banyak yang ditemukan.

“Data pada 20 Maret 2019, Pukul 13.00 WIT, korban meninggal duni di Kabupaten Jayapura 100 orang, pengungsi 9.692 orang,” ujarnya di Jayapura, Rabu (20/3/2019).

Selain hujan deras yang terus menerus turun, kerusakan hutan di pegunungan Cycloop diduga menjadi penyebab banjir bandang yang merendam 25 perkampungan di sekitar Danau Sentani itu. (history/amalamulia)

Sumber: Okenews, Kompas.com

 

Gempa Kembali Guncang Donggala, Warga Mengungsi karena Trauma

Amal Mulia, Donggala – Belum luput dari ingatan saat gempa dan tsunami meluluhlantakkan Donggala, Palu, dan Sigi akhir September 2018 lalu, gempa kembali mengguncang Kabupaten Donggala, Sulawesi Tengah pada Rabu (13/3) pukul 08.50 WIB. Warga panik dan berlari menuju dataran tinggi, khawatir terjadi peristiwa serupa.

Sejumlah warga juga memutuskan untuk mengungsi sementara waktu sampai keadaan benar-benar aman. Seperti mereka yang berada di Desa Lompio, Kecamatan Sirenja. Ribuan warga menuju perbukitan kemudian mengungsi untuk menghindari kemungkinan adanya tsunami.

Hasil analisis Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyatakan, episenter gempa terletak pada koordinat 0,01 LU dan 119,66 BT. Titik tersebut berlokasi di laut pada jarak 50 km, arah utara Kabupaten Donggala pada kedalaman 10 km. Tak hanya di Donggala, getaran juga terasa hingga ke Kota Palu.

 

Baca juga: Amal Mulia bersama IJTI Gelar Acara Galang Dana untuk Palu-Donggala

 

Meski pusat gempa berada di laut, BMKG menyebutkan gempa tersebut tak berpotensi menimbulkan tsunami seperti gempa tahun lalu. Sampai saat ini, belum ada laporan korban jiwa dan kerusakan akibat gempa.

Musibah gempa, likuifaksi, dan tsunami yang terjadi di Sulawesi Tengah 2018 tak mudah dilupakan begitu saja. Gedung-gedung dan rumah warga hancur rata dengan tanah. Ribuan nyawa menjadi korban bahkan banyak di antaranya terisap lumpur bergerak dan tak dapat ditemukan jenazahnya.

 

Baca juga: Sejenak Mengalihkan Trauma Anak-anak Palu

 

Empat bulan pasca kejadian, masih belum terlihat banyak perubahan. Tenda-tenda pengungsian masih berjejer hampir di setiap sudut wilayah. Belum lagi reruntuhan bangunan yang hanya digeser sampai bahu jalan agar tak menghalangi kendaraan yang berlalu-lalang.

Semoga Allah senantiasa menjaga kita dari berbagai azab dan mara bahaya. (history/amalmulia)

 

Sumber: DetikNews, Metrotvnews.id