Tag: Gaza

Tag: Gaza

Rindu Anak-anak Palestina yang Tak Pernah Terbayar  

 

Harapanamalmulia.org – Penindasan di Gaza semakin meningkat. Gaza menjadi kota yang menakutkan bagi anak-anak Gaza. Israel dengan sengaja membunuh para ayah dan melenyapkan para ibu sehingga anak-anak mereka hidup di ambang jurang.

Kisah Hamdi dan Al-Judeili  adalah sedikit  dari banyaknya cerita anak-anak Gaza yang ditinggal syahid orang tua mereka, sehingga kini hidup terlunta mengandalkan suaka.

 

Hamdi Saadeh Naasan dan 4 Anaknya

Keadaan anak-anak Palestina

Di malam Gaza yang saat itu sedang dingin-dinginnya, Israel menyerang Desa al-Mughayyir, Ramallah yang diduduki. Pemukulan dan penembakan mewarnai aksi penyerangan tersebut. Hamdi  Saadeh Naasanm (30) gugur dalam kejadian tersebut. Sejak saat itu, kehidupan lebih sulit untuk empat anak yang ditinggalkannya.

 

Baca juga: Seputar Yatim Palestina dan Orang Tua Asuhnya di Indonesia

Anak-anak Mohammed Al-Judeili

anak anak palestina

Putri al-Judeili, Rama (9) hanya bisa menangis histeris ketika mengetahui ayahnya telah wafat dalam Aksi Kepulangan Akbar. Bukan cerita baru, jas medis di Gaza bukanlah baju anti peluru. Al-Judeili yang merupakan petugas medis menjadi sasaran peluru Israel dan wafat seketika. Selain  Rama, ada tiga anak lain yang ditinggalkan al-Judeili dengan sedikit perbekalan harta.

 

Dunia Belum Lantang Berbicara

Dunia berada dalam kesunyian yang menakutkan. Meski diketahui banyak pasang mata, belum ada yang mampu menghentikan kekejian ulah Israel. Anak-anak sebagai kaum lemah yang akhirnya menjadi korban.

Sejak awal Aksi Kepulangan Akbar saja, Israel telah menewaskan lebih dari 270 orang Palestina yang tidak bersenjata dan melukai lebih dari 20 ribu lainnya. Tak sedikit warga Palestina yang kehilangan sebagian anggota tubuh mereka dan akhirnya kesulitan menghidupi keluarga. Belum lagi korban-korban blokade Gaza yang telah berlangsung belasan tahun.

Saat ini setidaknya terdapat 20 ribu anak Gaza yang menjadi yatim setelah orang tua mereka gugur dalam serangan dan blokade.

Menanggapi kondisi tersebut, Amal Mulia berikhtiar meringankan beban keluarga para syuhada, meringankan rindu anak-anak Gaza pada orang tuanya dengan program orang tua asuh bagi yatim Palestina. Dengan proram tersebut, Amal Mulia berupaya menghimpun kebaikan para donatur orang tua asuh di Indonesia untuk dapat memenuhi kebutuhan anak-anak asuhnya di Palestina. (history/amalmulia)

Sumber: Days of Palestine

Informasi lebih lanjut mengenai program orang tua asuh:

Call/SMS/WA: 081 1234 1400

WA: http://bit.ly/amalmulia

 

Serangan Roket Israel Akibatkan Para Pedagang Gaza Menjerit

Harapanamalmulia.org – Dampak buruk serangan Israel menjelang Ramadan kemarin  dirasakan betul para pedagang Gaza. Pasalnya, daya beli masyarakat menjadi semakin rendah, tak banyak aktivitas jual-beli di pasar dan toko-toko di Gaza hingga hari ketiga Ramadan.

Hal tersebut diungkapkan Abu Thariq, salah seorang pedagang di Gaza utara. “Kami berharap akan banyak pembeli, tetapi karena adanya serangan dan kurangnya kemampuan masyarakat,  sampai hari ketiga Ramadan ini,  aktivitas jual beli sangat sepi” ungkap Thariq.

 

Keluhan Pedagang Gaza

Ngabuburit di Gaza

Hingga hari ketiga Ramadan, aktivitas jual beli di pasar-pasar Gaza masih sepi. (Sumber: Anadolu Agency)

Beberapa pekan sebelum Ramadan, para pedagang di Gaza sengaja memasok persediaan barang lebih banyak dibanding bulan-bulan sebelumnya, seperti yang dilakukan Thariq. Ia berharap kerugian penjualan selama setahun akan tertupi pada bulan Ramadan, seperti yang terjadi di tahun-tahun sebelumnya. Namun sepertinya, harapan tersebut sulit untuk diwujudkan.

 

Baca juga: Kegembiraan Semu Sambut Ramadan di Jalur Gaza

 

“Sebelum pemboman terakhir dan persiapan untuk bulan Ramadhan, kami membawa banyak barang,” tutur lelaki 44 tahun itu.

Makanan khas Gaza

Salah satu dampak serangan Israel ke Gaza menjelang Ramadan kemarin adalah menurunnya daya beli masyarakat. (Sumber: Anadolu Agency)

Serangan Israel terhadap Gaza setidaknya telah merusak 830 bangunan, termasuk perusahaan, kantor media, serta toko-toko milik warga. Akibatnya, daya beli masyarakat semakin rendah. Wajar saja apabila Abu Tahriq mengungkapkan bahwa dagangannya sepi pembeli.

Keluhan juga datang Ahmed Jarusya. “ Permintaan barang-barang rendah, pembelian kebutuhan Ramadan juga sama” ujar salah seorang pemilik toko makanan di Gaza.

 

Telaah Ahli Ekonomi

Maher Taba, seorang ahli ekonomi Palestina mengatakan, Ramadan datang di tengah serangan menyebabkan masyarakat takut dan menimbulkan keprihatinan di hampir seluruh sektor kehidupan.

Ramadhan di Gaza

Para pedagang di Gaza mengungkapkan kekhawatirannya tak akan raih untung di Ramadan tahun ini. (Sumber: Anadolu Agency)

Beliau juga mengungkapkan, sekitar 53% dari 2 juta penduduk Gaza juga hingga kini masih berada di bawah garis kemiskinan. Lebih dar satu juta masyarakat Gaza adalah penerima bantuan UNRWA dan ini adalah Ramadan pertama masyarakat Gaza lagi mendapat bantuan tersebut.

Selain itu, hampir 300.000 masyarakat Gaza menganggur, tak punya penghasilan. Hal-hal tersebutlah yang menurut Maher mengakibatkan daya beli masyarakat sangat rendah di Ramadan tahu ini. (history/amalmulia)

 

Sumber: Alghad.tv, Anadolu Agency

 

Tantangan Bangun Masjid Istiqlal Indonesia di Tengah Blokade Gaza

Harapanamalmulia.org – Sejak peletakan batu pertama pada Januari 2019 lalu, pembangunan Masjid Istiqlal Indonesia masih terus berlanjut. Membangun sebuah masjid, apalagi masjid besar di wilayah konflik seperti Gaza tidaklah mudah. Blokade belasan tahun di Gaza menjadi salah satu penyebabnya.

“(Blokade) Memberikan pengaruh yang sangat besar. Pajak bahan bangunan lebih besar daripada di Tepi Barat”, ujar Syekh Amjad Khalifa, Direktur Jisru Ta’awun Insani sebagi koordinator pembangunan Masjid Istiqlal Indonesia.

Tak mudah memang mendatangkan barang apa pun masuk ke wilayah Gaza. Ia harus masuk melalui penyebrangan komersil Israel dengan biaya tak sedikit.

 

Pembangunan Masjid Istiqlal Indonesia

Perkembangan terkini proses pembangunan Masjid Istiqlal Indonesia (25/04).

Prosedur perizinan pihak  otoritas yang rumit juga sering kali berdampak pada terhambatnya proses pembangunan. Hal tersebut sempat terjadi pada peletakkan batu pertama masjid yang sebelumnya direncanakan digelar pada 1 Januari 2019, namun baru berhasil dilaksanakan 19 Januari 2019.

 

Baca juga: Perjalanan Bangun Masjid Istiqlal Indonesia di Gaza Terus Berlanjut

 

Beliau juga mengatakan, pajak bahan bangunan yang dipasok ke Gaza lebih mahal dibanding wilayah lain, seperti Tepi Barat.

“Ada kenaikan pajak pada semua jenis bahan bangunan yang lebih besar dibandingkan dengan di Tepi Barat”, ujarnya.

Masjid Istiqlal Indonesia di Gaza

Proses pendirian tiang-tiang Masjid Istiqlal Indonesia di Khan Yunis, Gaza.

Menurut penuturan Syekh hidup di wilayah blokade seperti Gaza itu memang mahal. Hal tersebut dikarenakan  barang-barang yang diizinkan masuk hanya sedikit, sedangkan kebutuhan masyarakat berkali lipat lebih banyak. Maka dari itu, harga makanan, pakaian, hingga bahan bangunan sangat mahal di pasaran.

Kendati demikian, Alhamdulillah memasuki bulan keempat pembangunan, fondasi sudah selesai dibangun, tiang-tiang masjid pun sudah kokoh berdiri. Ditargetkan pembangunan Masjid Istiqlal Indonesia di Gaza akan rampung pada awal tahun 2020 mendatang.

Sedekah Masjid di Palestina

Pembangunan Masjid Istqilal Indonesia ditargetkan selesai pada Januari 2020 mendatang.

Membangun masjid sebagai pusat ibadah dan penghafal Alquran di Gaza menjadi tantangan sendiri bagi umat, terutama Amal Mulia dan lembaga lain yang diamanahi  sebagai jembatan kebaikan donatur.

Mohon doa dan dukungan terbaik agar  ikhtiar membangun Masjid Istiqlal Indonesia di Gaza selalu diberi kemudahan dan senantiasa berada dalam lindungan Allah Swt. (history/amalmulia)

Rekening donasi pembangunan Masjid Istiqlal Indonesia:

Bank Syariah Mandiri

(451) 2017 00 4053

a.n Yayasan Harapan Amal Mulia Palestina

Harapan Baru Gaza Keluar dari Krisis Listrik yang Menjerat

Harapanamalmulia.org – Listrik yang hanya menyala 2-4 jam saja sehari membuat kehidupan warga Gaza gelap gulita. Majd Masharawi berupaya mengubah kemalangan tersebut dengan  menciptakan pembangkit listrik bertenaga surya.

Pada Juni 2018 lalu, gadis berusia 25 tahun ini membuat prototipe sistem pembangkit listrik bertenaga surya dengan mengandalkan tiga komponen utama yaitu panel surya, generator, dan baterai.

Blokade Gaza

Majd Mashharawi mengembangkan sistem pembangkit listrik tenaga surya untuk membantu menyediakan energi murah bagi warga. (Sumber: Middle East Eye)

Samara, menjadi salah satu warga yang terbantu dengan adanya pembangkit listrik tersebut. Sebelumnya, ibu 32 tahun ini harus bolak-balik ke rumah sakit agar anaknya yang menderita penyakit paru-paru bisa mendapat perawatan harian. Perawatan yang diperlukan tak bisa dilakukan di rumah karena akan sangat beresiko jika listrik tiba-tiba mati.

 

Baca juga: Kegembiraan Semu Sambut Ramadan di Jalur Gaza

 

Setiap hari Samara mendatangi rumah sakit, namun  tidak setiap hari anaknya diobati. Krisis bahan bakar sering kali mengakibatkan sejumlah rumah sakit di Gaza terpaksa menghentikan pelayanan.

Perbatasan Gaza

Tim sedang memeriksa panel surya yang dipasang di atap rumah salah satu warga Gaza.  (Sumber: Middle East Eye)

Berkat adanya pembangkit yang diciptakan Majd dan tim,  listrik dapat mengalir ke rumah Samar terus menerus tanpa harus khawatir alat bantu pernafasan anaknya  tiba-tiba terhenti.

“Sekarang, saya tidak perlu bingung apakah harus ke rumah sakit atau tidak”, kata Samar.

Krisis listrik di Gaza

“Pembangkit ini dapat menyelamatkan hidup,” kata Majd dengan bangga seperti dilansir dari Middle East Eye.

 

Krisis listrik terus menjerat warga Gaza selama blokade berlangsung. Listrik hanya mengalir ke rumah-rumah warga sekitar 2-4 jam dalam sehari. (Sumber: Middle East Monitor)

Menurut Majd, pembangkit listrik tersebut merupakan upaya pemanfaatan sumber daya melimpah yang dimiliki Gaza, yaitu sinar matahari. Hal lain yang terus diupayakan Majd dan timnya adalah mengedukasi masyarakat Gaza agar dapat memaksimalkan sumber tersebut.

Bukan hanya Samar, aliran listrik yang stabil sudah mempu menerangi puluhan rumah di Gaza dengan solusi kreatf yang dihadirkan Majd. (history/amalmulia)

Kegembiraan Semu Sambut Ramadan di Jalur Gaza

Harapanamalmulia.org. Selain bekal ruhiyah, tak ada persiapan khusus yang dilakukan Ummu Sa’id dalam meyambut Ramadan kali ini. Ibu 47 tahun yang tinggal di wilayah Syujaiya, Timur Kota Gaza ini mengatakan, dirinya bahkan tak mampu menyediakan makanan yang layak untuk kedua belas anaknya. Untuk dapat makan daging saja, mereka harus menunggu saat Idul Adha tiba.

Jika sebagian orang tak pernah sarapan karena tak terbiasa, anak-anak Ummu terpaksa membiasakan tak sarapan karena tak ada makanan yang bisa mereka makan. Tak tahu kapan bisa makan, tugas mereka hanyalah bersabar dan mengalihkan perhatian agar tak merasa lapar.

Ramadhan di Gaza

Rumah keluarga Ummu Sa’id di wilayah Syujaiya, Timur Kota Gaza. (Sumber: Melayu Palinfo)

“Lihatlah, bagaimana mereka berangkat ke kampus tanpa sarapan atau bahkan uang? Atau bangkan tanpa transportasi? Dengan terpaksa, setiap hari mereka berangkat dan pulang dari sekolah dengan berjalan kaki.” Ujar Ummu.

Selain itu, kondisi rumah yang tak layak juga menjadi persoalan lain yang dihadapi Ummu dan keluarga. Hunian sempit beratap seng  berukuran 100 meter menjadi tempat bagi tiga belas orang menghabiskan hari-hari mereka.

 

Baca juga: 7 Hal yang Selalu Dirindukan Saat Ramadan

 

Keluarga Ummu Sa’id telah cukup mencerminkan bagaimana sulitnya kehidupan masyarakat Gaza yang telah dikepung belasan tahun lamanya. Nuansa jelang Ramadan yang semakin hari semakin terasa, seolah tak berlaku untuk masyarakat Gaza.

Ramadhan di Palestina

Maka pantaslah kita bersyukur masih bisa menyambut bulan suci dengan gegap gempita. Menyiapkan banyak persediaan makanan untuk sahur dan buka, atau bahkan mulai memesan baju untuk hari raya.

Selain itu, tak pantas kiranya jika kita hanya berdiam dan sekedar bersimpati kepada sauadara-saudara kita di Palestina. Mari doakan agar Allah senantiasa mengaruniakan kesabaran kepada mereka. Amal Mulia kembali mengajak untuk membersamai perjuangan warga Palestina dengan memberikan donasi terbaik melalui:

Rekening donasi:

Bank Syariah Mandiri

2017004053 a.n

Yayasan Harapan Amal Mulia Palestina