Tag: Israel

Tag: Israel

Terhentinya Perjuangan Salah Satu Maryam Palestina, Samah Zuhair  

AMAL MULIA, Palestina – Tak lama sejak diluncurkannya kampanye #WeAreAllMaryam atau yang dalam bahasa Indonesia diartikan sebagai Kita semua adalah Maryam, salah satu Maryam Palestina dipaksa menghentikan perjuangannya akibat  menjadi target penembakan serdadu Zionis pada Rabu (30/1/2019).

Seorang remaja Palestina berusia 16 tahun bernama Samah Zuhair Mubarak gugur oleh tembakan tentara Israel yang mendarat di kepalanya. Kejadian tersebut terjadi di pos pemeriksaan Al-Zaayim, Tepi Barat yang diduduki. Israel menuduh bahwa Samah berusaha melukai salah satu tentaranya.

Baca juga: Wanita Berakhlak Mulia dan Bermental Baja, Merekalah Para Wanita Penjaga Al-Aqsha

Sebelumnya pada 19 Januari, remaja 14 tahun dari Palestina bernama Abdul Rouf Salha Ismail juga gugur di tangan serdadu dalam Aksi Kepulangan Akbar.

 

Pukulan Hebat bagi Keluarga

Dilansir dari The Electronic Intifada, keluarga Samah  sangat terkejut.Samah dikenal sebagai seorang yang kekanak-kanakan dan dianggap tak mungkin melakukan hal yang dituduhkan.

“Samah memiliki kepribadian kekanak-kanakan, dia tidak mungkin memiliki pemikiran ekstrimis atau ideologi yang berbahaya. Dia berasal dari keluarga religius, dan dia tidak akan mungkin melakukan apa dituduhkan Israel,” tutur  Fathi al-Khalidi, paman Samah dalam Al-Watan .

Samah yang awalnya pamit bersekolah dalam keadaan sehat dan ceria, harus pulang dalam keadaan tak bernyawa. Sampai saat ini, pihak keluarga belum mengetahui bagaimana kejadian sesungguhnya yang terjadi di pos pemeriksaan.

 

#WeAreAllMaryam

Sebuah kampanye dukungan terhadap perempuan Palestina telah dikumandangkan oleh Mimbar Al-Aqsa Asociation, sebuah organisasi yang berbasis di Istanbul, Turki. Tagar #WeAreAllMaryam atau #AllMaryam  yang beredar di media sosial menegaskan bahwa perempuan Palestina tidak berjuang sendirian. Patriotisme mereka akan selalu menginspirasi dunia yang haus keadilan dan perdamaian abadi.

Baca juga: Ibu Rahmawati: Tak Apa Umroh Ditunda, Yang Penting Bantu Palestina

Siti Maryam lahir di bumi al-Quds. Namun, wilayah itu kini berada di bawah rongrongan Zionis. Sejak deklarasi Israel 70 tahun silam, rakyat Palestina rela berkorban dan terus menderita demi menjaga harga diri kolektif umat Islam.

Salah satu Maryam Palestina dipaksa berhenti berjuang. Namun, Palestina memiliki jutaan Maryam lain yang tangguh, cerdas, serta menjadi sumber kekuatan dalam mewujudkan kebebasan Al-Quds dan Palestina. Bukan hanya di Palestina, perempuan di belahan dunia lain yang mempunyai visi yang sama adalah Maryam. Kita semua adalah Maryam.  (history/amalmulia)

 

Sumber: The Electronic Intifada

 

Ancaman Penguasaan dan Penyitaan Wilayah di Sekeliling Masjid Al-Aqsha oleh Yahudi

Keterangan Foto: Puluhan warga Yahudi menyerbu Masjid Al Aqsha (Foto: Alhorya)

Palestina–Yahudi memiliki banyak cara yang beragam untuk menistakan al-Aqsha, dan mencapai cita-cita khayalannya mendirikan Kuil di atas reruntuhan Masjid al-Aqsha. Selain penggalian bawah tanah, penyerbuan, atau penyerangan jamaah solat di al-Aqsha, penguasaan wilayah sekeliling al-Aqsha juga menjadi salah satu bentuk penistaan yang telah mereka rencanakan.

Telah lama kita ketahui bersama bahwa Israel  menginginkan yahudisasi di wilayah sekeliling al-Aqsha. Hal tersebut bertujuan untuk menguatkan eksistensi dan nuansa yahudi di sana. Wilayah yang sudah dikuasai, selanjutnya menjadi pos-pos yang berfungsi sebagai titik kumpul Yahudi untuk menyerang al-Aqsha. Selain itu, pos-pos ini juga berfungsi untuk menutupi kegiatan penggalian bawah tanah al-Aqsha, serta memperkuat pengawasan terhadap masjid.

Setelah menguasai sekeliling al-Aqsha, tahapan selanjutnya yaitu mendirikan bangunan Yahudi. Bangunan yang dimaksud adalah gereja, museum, dan berbagai bangunan yang bisa menghidupkan nuansa Yahudi di sekeliling al-Aqsha. Pembangunan tersebut bertujuan agar menginspirasi Yahudi agar selalu bersemangat dalam memperjuangkan keruntuhan al-Aqsha.

Baca juga: Batas Waktu Evakuasi Habis, Otoritas Israel Usir Paksa Penduduk Desa Khan Al-Ahmar

Pada mulanya, mereka lebih memilih sikap berhati-hati dan antipatif dalam upayanya mendirikan bangunan di sekeliling Masjid al-Aqsha. Sikap tersebut dipilih karena adanya kekhawatiran terhadap ancaman reaksi yang akan muncul dari umat Islam. Namun belakangan, Yahudi mulai berani menunjukan usaha pembangunannya secara terang-terangan.

Pada tahun 2010, mereka mendirikan beberapa bangunan di sekeliling Masjid al-Aqsha bersamaan dengandiresmikannya gereja kehancuran. Perubahan tersebut meningkatkan intensitas penistaan Yahudi dengan mendirikan bangunan-bangunan di sekeliling al-Aqsha. (history/amalmulia)

Sumber: Ensiklopedia Mini al-Aqsha, disusun oleh ASPAC for Palestine.

Arogansi Trump Membuat Palestina Kian Menderita

Pemerintah Palestina menolak keras pengakuan sepihak Trump yang menjadikan Al Quds sebagai ibukota Israel. Paling tidak 128 negara juga menentang hal tersebut, dan mengembalikan Al-Quds sebagai kota milik Palestina sepenuhnya.

Namun, langkah tersebut tidak membuat Trump menarik pernyataannya. Ia malah melakukan langkah politis yang membuat rakyat Palestina kian terdesak.

Disaat musim dingin mulai menyelimuti tanah Palestina, Trump membekukan dana bantuan kemanusiaan untuk Palestina United Nations Relief and Works Agency for Palestinian Refugees in the Near East (UNRWA) sebesar 125 USD.

Dengan gembiranya Netanyahu menyambut hal tersebut, ia mengatakan pada rapat kabinetnya bahwa lembaga kemanusiaan Badan Bantuan dan Bantuan PBB untuk Pengungsi Palestina (UNRWA) “harus menghilang.”

Trump

[Foto: ABC news ]

“Saya sepenuhnya setuju dengan kritik kuat Presiden Trump terhadap UNRWA, UNRWA adalah organisasi yang mengabadikan masalah pengungsi Palestina,” lanjutnya.

Langkah tersebut merupakan bentuk ancaman Trump untuk memuluskan rencana sebelumya. Namun Palestina dengan tegas menyatakan “Kami tidak bisa ‘dibeli’. Trump telah merampas jalan perdamaian, kebebasan dan keadilan rakyat Palestina.”

Diantara keterbatasan penerang listrik dan air bersih, tahun ini rakyat Palestina mengalami hal yang lebih berat lagi. Tanpa pakaian hangat, selimut tebal dan penghangat ruangan, nyawa mereka menjadi taruhannya.

UNRWA memang memberi andil besar dalam bantuan untuk pengungsi Palestina. Namun UNRWA bukan satu-satunya lembaga kemanusiaan di dunia ini. Masih banyak lembaga kemanusiaan dan baik secara pribadi yang berdiri sendiri siap membantu rakyat Palestina.

 

Baca Juga : Amal Mulia Salurkan Bantuan Musim Dingin

 

Menolak Lupa: Serangan Agresi Militer Israel Pada Palestina

Harapanamalmulia.org – Sembilan tahun lalu, masih membekas dalam ingatan bagaimana sebuah peristiwa di Gaza menyebabkan banyak warga tak bersalah menjadi korban, agresi militer Israel ke Jalur Gaza. Peristiwa tersebut terjadi pada tanggal 27 Desember 2008 – 18 Januari 2009. Akibat dari serangan tersebut, sebanyak 1.166 hingga 1.417 warga sipil Palestina menjadi korban jiwa. Wanita dan anak-anak banyak yang menjadi korban dalam agresi ini, baik yang mengalami luka-luka maupun korban jiwa.

Menurut Unej.ac.id, serangan dimulai pada tanggal 27 Desember 2008. Ketika itu, pasukan udara milik Israel menyerang kota Beit Hanoun di bagian utara Jalur Gaza. Setelah itu, terjadilah aksi saling serang antara Israel dan Hamas, hingga berakhir pada tanggal 18 Januari 2009. Israel mengumumkan gencatan senjata secara sepihak pada pukul 02.00 pagi, yang diikuti oleh Hamas pukul 16.00.

Sumber artikel asli: Palestineupdate

PBB Gelar Sidang Darurat Mengenai Yerusalem

Harapanamalmulia.org-Majelis Umum PBB mengadakan sidang Darurat hari Rabu (20/12) atas permintaan negara-negara Arab terkait sikap Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang menyatakan bahwa Ibu Kota Israel pindah dari Tel Aviev ke Yerusallem.

Dikutip dari Russia Today Duta Besar Palestina, Riyad Mansour mengatakan bahwa Majelis Umum akan melakukan pemungutan suara atas sebuah draf resolusi yang meminta Trump untuk membatalkan Veto As dalam sidang Dewan Keamanan yang beranggotakan 15 Negara pada hari senin (18/12).

Rancangan resolusi tersebut sebelumnya telah diajukan ke Dewan Keamanan PBB. Namun gagal karena Amerika serikat menggunakan Hak Vetonya. Amerika, Rusia, China, Inggris dan Francis merupakan negara anggota tetap Dewan Keamanan PBB, dan jika salah satunya menggunakan Hak Veto maka resolusi tidak diterima.

Sementara, empat negara anggota tetap Dewan Keamanan PBB dan 10 anggota negara tidak tetap mendukung resolusi tersebut.

Dilansir dari liputan 6.com Voting yang akan digelar dalam sidang darurat tersebut sesuai dengan Resolusi PBB 377 yang dikenal dengan prinsip “uniting for peace” dalam ketentuannya majelis umum berhak untuk menyelesaikan permasalahan yang gagal ditangani oleh Dewan Keamanan.

Resolusi yang nanti dihasilkan Majelis Umum PBB tidak mengikat secara hukum, hanya resolusi yang dihasilkan oleh Majelis Umum dianggap memiliki nilai Politik, sedangkan resolusi yang disahkan oleh Dewan Keamanan memiliki ikatan hukum.

Sepanjang sejarah Majelis Umum PBB hanya melakukan sidang sebanyak 10 kali dan terakhir kali dilakukan pada tahun 2009. Dan saat itu pun Majelis Umum PBB melakukan sidang terkait konflik Palestina-Israel. ( Ranny Fitriani/amalmulia )