Tag: Kebaikan

Tag: Kebaikan

Kisah Hidup Sederhana Petani Desa

“Menjalani setiap episode tantangan dalam kehidupan tidak lantas menjadikan para petani dhuafa di Sindangjaya, Kabupaten Cianjur berputus asa. Keterbatasan boleh saja dialami, tetapi ikhtiar dan tawakal terus dipanjatkan kepada Illahi Rabbi”

 

Harapanamalmulia.orgDapat tinggal dan menetap di desa yang dianugerahi kekayaan alam adalah sebuah kesyukuran yang harus dipanjatkan kehadirat Allah Swt. Kendati bertahun-tahun menjadi petani penggarap lahan orang, namun para petani penggarap lahan di Desa Sindangjaya, Kecamatan Ciranjang tidak pernah berputus asa.

Mencari rezeki tidak selalu berpatokan kepada berapa harga upah yang diterima, tetapi mendapat amanah menggarap sawah orang menjadi nilai kepercayaan yang harus terus dijaga. Setidaknya itulah nilai perjuangan hidup bagi Bu Hasanah, Bi Ela dan Bi Erni sebagai petani penggarap sawah orang, di desa yang menjadi bagian dari Kabupaten Cianjur itu.

Harapan Amal Mulia, lembaga penghimpun sedekah yatim dhuafa telah sajikan kisah selengkapnya tentang perjuangan para petani penggarap sawah orang.

 

Penghasilan Dari Menggarap Sawah Orang

Desa Sindagjaya, Kecamatan Ciranjang Kabupaten Cianjur itu memiliki banyak potensi alam yang melimpah ruah. Dekatnya posisi desa dengan waduk Cirata membuat sebagian penduduk berprofesi sebagai nelayan, juga tidak jarang penduduk yang memilih usaha menyewakan kapal wisata. Sedangkan mayoritas penduduk lainnya berprofesi sebagai petani, baik itu petani pemilik sawah, maupun petani penggarap lahan orang.

Ibu Hasanah, Bi Ela Hayati, dan Bi Erniati, adalah segelintir penduduk Sindangjaya yang berprofesi sebagai petani. Kendati tidak memiliki lahan sawah pribadi, namun mereka diamanahi untuk menggarap lahan orang.

(Ibu Hasanah (50 Tahun) salah satu petani dhuafa di Desa Sindangjaya/foto:Harapan Amal Mulia)

Ibu Hasanah (50 tahun) dan suaminya diberi kepercayaan untuk mengelola lahan dengan sistem bagi hasil. Setiap masa panen tiba, seluruh padi harus dibagi dua dengan pemilik lahan. Sawah seluas 300 tumbak yang dikelola dapat menghasilkan sekitar 1 ton beras sekali panen, sehingga Bu Hasanah memperoleh 500 Kg beras dengan masa panen 4 bulan sekali. Selama masa tunggu panen, untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari, Bu Hasanah sangat mengandalkan dari beras bagi hasil yang diperolehnya, agar dapat sampai pada masa panen yang akan datang.

Berhemat dengan menu lauk sederhana adalah cara Bu Hasanah dan keluarga agar mampu menyambung hidup setiap harinya. Apalagi dengan masih memiliki anak yang duduk di bangku SMA, membuat Bu Hasanah juga sesekali menerima panggilan menjadi juru masak catering, walau bukan sebuah pekerjaan rutin yang dirinya jalani. Sedangkan sang suami, mengisi hari dengan mencari pakan untuk domba ternakannya.

 

Bertahan Dalam Keterbatasan

(Bi Ela Hayati (47 Tahun) salah satu petani dhuafa di Desa Sindangjaya/foto:Harapan Amal Mulia)

Kisah petani penggarap lahan orang juga menjadi keseharian dari Ela Hayati (47 Tahun), warga Kp. Calincing Desa Sindangjaya ini memperoleh 10 Kg beras setiap 4 bulan sekali dari hasil panen sawah garapannya. Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari Bi Ela (panggilan akrabnya) juga harus mencari penghasilan tambahan sebagai juru masak catering yang tidak selalu ada setiap hari.

Sedangkan sang suami, yang memiliki profesi sebagai ojeg perahu di Waduk Cirata juga tidak dapat membawa besaran rupiah yang menentu sesampainya di rumah. Rp 30.000 sampai Rp 50.000 adalah besaran nominal yang dapat diperoleh dari hasil ojeg perahu. Dengan anak bungsu yang masih duduk di bangku Madrasah Tsanawiyah (setingkat SMP) Pasir Nangka, membuat Bi Eli dan suami harus berhemat pengeluaran setiap harinya.

(Selain menjadi petani, Bu Erniati (42 tahun) mencari tambahan penghasilan dengan menjadi juru masak catering/foto: Harapan Amal Mulia)

 

Situasi yang sama juga dirasakan oleh Bi Erniati (42 tahun), 10 Kg beras diperolehnya dari hasil menggarap sawah orang. Selama menunggu panen tiba, beras tersebut menjadi andalan dalam mencukupi kebutuhan sehari-hari, yang tentu selalu habis tak bersisa selama 4 bulan digunakan. Bekerja serabutan pun menjadi sebuah pilihan yang akhirnya harus ditempuh demi asap dapur yang harus mengepul. Untuk mencukupi keperluan sehari-hari, suami Bi Erni pun berkerja mengelola tambak ikan di waduk Cirata. Hasil dari tambak ikan sedikitnya dapat membantu keluarga Bi Erni dalam menyambung hidup sampai masa panen tiba. Dengan penghasilan kurang lebih Rp 1.000.000/bulan, Bi Erni dan keluarga harus mengatur strategi agar cukup untuk kebutuhan dapur dan biaya sekolah anak bungsu yang masih mengenyam pendidikan di SMP PGRI Ciranjang.

 

Harapan Lebih Baik Pada Masa Depan

(Salah satu kegiatan pertanian di Desa Sindangjaya/foto:Harapan Amal Mulia)

 

Kenyataan hidup yang dialami oleh Ibu Hasanah, Bi Ela dan Bi Erniati menjadi segelintir cerita, bahwa perjuangan harus tetap dijalani walau dengan keterbatasan yang ada. Usaha terus digiatkan, serta tidak lupa memohon kepada Sang Pencipta agar mendapat limpahan keberkahan dalam menjalani kehidupan. Kendati kerasnya hidup yang dijalani, dan harus berhemat setiap harinya, tidak lantas membuat kehilangan harapan dalam kehidupan.

Ibu Hasanah, Bi Ela dan Bi Erniati selalu berharap dan yakin bahwa kelak kehidupan akan lebih baik asalkan tidak melepas ikhtiar, do’a dan tawakal kepada Illabi Rabbi

(itari/harapanamalmulia)

 

Keyakinan yang sama juga membuat Harapan Amal Mulia tergerak untuk membersamai perjuangan Ibu Hasanah, Bi Ela, dan Bi Erniati serta para keluarga pra-sejahtera lainnya untuk mewujudkan masa depan yang lebih baik.

Mari kirim bantuan kebahagiaan untuk para keluarga petani dan keluarga pra-sejahtera lainnya melalui program Paket Harapan Keluarga. Paket yang berisi macam-macam sembako ini begitu dinantikan para keluarga dhuafa di Indonesia, agar dapat memenuhi kebutuhan sehari-harinya.  

Sahabat Amal dapat menyalurkan bantuannya melalui rekening donasi

BCA 0083 6858 72

Mandiri 132 003 321 2342

a.n. Yayasan Harapan Amal Mulia

Halaman Rumah Kosong Jadi Awal Dakwah di Hegarmanah

|”Semangat dakwah harus tetap menyala, meski di tempat apapun memulainya. Berawal dari halaman rumah kosong sekalipun tidak melunturkan semangat syiar Bu Narti”

 

Harapanamalmulia.orgMemulai dakwah tidak selalu harus berasal dari masjid ataupun tempat ibadah. Jika nilai-nilai Islam sudah terpatri dalam diri, maka megawali dakwah dari halaman rumah kosong sekalipun tidak akan membuat goyah.

Hal inilah yang menjadi cikal-bakal berdirinya Madrasah Fatimah Az-Zahra, yang dibina oleh Sunarti. membina santri yatim dan dhuafa menjadi aktivitas kesehariannya setiap hari. Berikut sajian informasi lengkapnya yang telah Harapan Amal Mulia rangkum untuk anda

 

Halaman Rumah Kosong Menjadi Awal Perjalanan Dakwah

Antusiasme ibu-ibu warga Perum Hergarmanah, Kecamatan Cikancung, Kabupaten Bandung terhadap ilmu agama begitu tinggi. Dengan memanfaatkan halaman rumah kosong, mereka belajar mengaji kepada Ibu Sunarti (50 tahun).  Lambat laun anak-anak dari para ibu yang gemar mengaji pun didorong untuk menggali ilmu kepada Ibu Sunarti.

(Keterangan: Ibu Sunarti (50 tahun) tengah mengajar santri-santri di Madrasah Fatimah Az-Zahra/foto: Harapan Amal Mulia)

Santri yang terus bertambah menjadikan rumah Bu Narti (panggilan akrabnya) sudah tidak bisa menampung lagi. Pasang surut dalam membina juga sempat dialami, manakala satu persatu santri pergi karena kebutuhan sertifikat mengaji. Hal yang kemudian membuat Bu Narti mendaftarkan madrasah agar menjadi resmi.

Cita-cita Mulia Membina Anak Madrasah

Hingga kini, santri non mukim yang belajar di Madrasah Fatimah Az-Zahra berjumlah tidak kurang dari 120 orang. Setiap santri menerima materi dengan metode penggunaan lagam (tahsin) dan penguatan tajwid. Sementara pelajaran yang diprioritaskan di madrasah ini adalah tentang ibadah, fiqih, hadis, aqidah-akhlak, bahasan Arab serta Ulumul Qur’an dan Tahfiz.

(Keterangan: Dalam proses belajar mengajar di Madrasah Fatimah Az-Zahra, Bu Narti dibantu oleh pengajar sukarela lainnya/foto:Harapan Amal Mulia)

Kendati memiliki kurikulum yang komprehensif, Bu Narti tidak memungut biaya sepeser pun pada santri-santrinya. Keberlangsungan kegiatan belajar mengajar dibantu oleh empat pengajar sukarela lainnya, yang juga masih terkendala biaya operasional untuk sehari-hari. Sedangkan santri-santri yang belajar di madrasah adalah anak-anak  yatim dan mayoritas adalah dhuafa yang memerlukan dukungan para dermawan.

 

Baca juga: Perjalanan Dai Sindangjaya Sebar Syiar Kepada Warga Dhuafa

 

Bangunan yang ditempati madrasah merupakan hasil wakaf dari Pak Sopian, seorang donatur yang tergerak hatinya untuk membantu dakwah Bu Narti. Sedangkan untuk operasional listrik dibantu sukarela oleh warga sekitar.

Dalam keterbatasan tersebut, Bu Narti berharap besar jika sepeninggalnya nanti, santri-santri yang beliau bina dapat menjadi orang yang sholeh dan sholihah sehingga dapat berguna bagi sesama dan menjadi amalan jariah yang menolongnya di akhirat kelak.

 

Program Syiar Islam Mulia, Bantu Dakwah Bu Narti dan Madrasah Lainnya.

(Keterangan: Ibu Sunarti (pertama dari kanan) berfoto bersama seluruh santri dan guru suka relawan lainnya/foto:Harapan Amal Mulia)

 

Bersama Harapan Amal Mulia, mari membantu hadirkan dukungan terhadap aktivitas dakwah Bu Narti di Hegarmanah, serta pengurus madrasah di berbagai tempat lainnya, agar dakwah semakin berkembang tak putus arang karena keterbatasan.

Sahabat dapat menyalurkan dukungan melalui: kitabisa.com/amalsyiarislam

Semoga sebentuk ikhtiar kita dapat menjadi amal jariah yang tiada terputus keberkahannya.

(itari/harapanamalmulia)

Madrasah Pertama Berawal Dari Rumah

|”Pendidikan di keluarga memiliki posisi yang begitu penting dalam pembentukan karakter serta spiritualitas anak. Peran dan keberadaan orang tua sepenuhnya menjadi kuncinya”

 

Harapanamalmulia.org— Rumah tidak hanya menjadi sebuah simbolisasi dari ungkapan ‘pulang’ bagi setiap anak-anak di dunia ini, atau sebuah frasa ‘kembali kepada keluarga’. Rumah sendiri memiliki definisi yang luas tidak hanya sebagai suatu tempat, melainkan juga  awal dari lahirnya sebuah peradaban.

Rumah selayaknya dapat menjadi madrasah pertama bagi setiap anak, tempat belajar mengenai agama sebagai pondasi hidup, memahami adab dan moral terhadap sesama, kemudian menjadi tempat berbagi pengetahuan tentang kehidupan.

Kendati tidak semua anak beruntung memiliki rumah dan keluarga sebagai tempat bernaung, bagi anak-anak yatim dan dhuafa, memaknai keluarga dan rumah adalah juga tentang orang-orang yang peduli akan kehidupan mereka.

Berikut lembaga penghimpun donasi yatim dan dhuafa, Harapan Amal Mulia sajikan informasinya untuk Sahabat Amal semuanya.

 

Rumah, Tempat Anak Temukan Teladan

(Keterangan: Kegigihan seorang ayah dalam mencari nafkah dapat menjadi teladan yang baik untuk anak/foto: Harapan Amal Mulia)

Bagi anak-anak yang masih memiliki orang tua yang utuh, tentu keberadaan dari sosok ayah dan ibu dalam keseharian bersama keluarga sangat memberikan dampak. Setiap tindak-tanduk yang dilakukan oleh kedua orang tua, secara tidak langsung akan terekam dalam memori anak dan menjadikan sebuah ingatan yang akan terus dikenang sepanjang pertumbuhannya serta menjadi sebuah role model bagi anak.

Maka tidaklah heran ada ungkapan yang menyatakan bahwa “buah tidak akan jatuh jauh dari pohonnya”. Ketika pohonnya berpenyakit, maka buah yang dihasilkannya pun tidak akan memenuhi standar yang bagus. Begitu pun dengan pohon yang sehat, dirawat, disiram dengan air yang bagus, maka sudah menjadi lumrah jika buah yang dihasilkannya akan bagus dan manis terasa.

Oleh karenanya, orang tua memiliki kewajiban untuk menyajikan sikap serta teladan yang baik kepada anak, agar setiap tindakan yang akan ditiru anak adalah tindakan akhlaqul karimah yang berdasar pada Al Qur’an dan Sunnah.

 

Pendidikan Utama Anak Ada Di Rumah

Masa-masa usia emas seorang anak berada dikisaran usia 0 sampai 5 tahun, di mana dalam rentang usia ini anak berada dalam fase perkembangan yang sangat baik, sehingga kesempatan orang tua untuk menanamkan nilai-nilai agama dan pendidikan dasar bagi anak sangat terbuka.

Seorang ibu yang mengemban amanah sebagai al ummu madrosatul ulaa menempati posisi yang begitu penting. Sejak 14 abad yang lalu Al Qur’an telah berbicara mengenai pentingnya seorang ibu menyusui bayinya hingga usia 2 tahun. Di mana dalam momentum ini, seorang ibu memiliki kesempatan yang begitu luas untuk membentuk ikatan batin yang kuat dan kokoh dengan bayinya. Bentuk ikatan ini yang kemudian akan berpengaruh pada perkembangan anak pada masa yang akan datang, anak akan merasa memiliki sosok ibu yang mengasihi sehingga tidak akan merasa perlu mencari kasih sayang dari luar rumah.

Baca Juga: 3 Cara Mudah Titip Donasi Yatim Dhuafa di Harapan Amal Mulia

 

Rumahku, Sumber Motivasiku

Orang tua yang selalu ada dan bijaksana dalam memandang setiap lika liku kehidupan yang dialami oleh anak akan memberikan motivasi dan memberi semangat hidup yang lebih baik bagi setiap anak.

Menguatkannya dikala terpuruk, membantunya naik dikala jatuh, menjadi sandaran utama saat lelah dan menjadi tempat berbagi cerita terbaik akan membentuk mental positif bagi anak, sehingga anak tidak pernah merasa sendiri dan sepi.

Simak informasi menarik lainnya; Perjalanan Dai Sindagjaya Sebar Syiar Kepada Warga Dhuafa

 

Ayah Dan Ibu, Sang Kepala Madrasah

Kolaborasi antara ibu dan ayah sangat diperlukan untuk menghadirkan pendidikan terbaik bagi anak sejak dari rumah. Mengetahui minat dan ketertarikan anak pada suatu bidang tentu akan sangat berguna jika diketahui sedari dini.

Lagi-lagi orang tua harus mengambil porsi yang banyak dalam hal ini, untuk menghasilkan generasi-generasi berkualitas yang dapat ikut andil dalam membangun peradaban yang semakin lebih baik kedepannya.

 

Akhirat Dahulu, Dunia Kemudian

(Keterangan: Aktivitas Ustaz Ade saat mengajar di Madrasah Nurul Ikhwan/foto: Harapan Amal Mulia)

Menanamkan nilai agama dalam keseharian keluarga serta menautkannya dalam pendidikan anak telah dilakukan oleh Ade Salimudin (52 tahun) kepada semua anak dan keluarganya. Ustaz Ade panggilan akrabnya menekankan pelajaran penting kepada 6 orang anaknya untuk selalu mendahulukan kepentingan akhirat, dan mencari ilmu agama lebih dahulu, kemudian biarkan urusan dunia yang akan mengikuti.

Berbekal pendidikan pesantren yang pernah diembannya, Ustaz Ade menjadikan pendidikan agama sebagai dasar ilmu pertama yang dipelajari dalam keluarga dan anak-anaknya. Ustaz yang sehari-hari juga bekerja sebagai pengrajin batu bata ini telah mendedikasikan banyak waktunya tidak hanya sekadar bekerja dan menjadi imam keluarga, tetapi juga mendirikan madrasah pengajian untuk anak-anak disekitar kampungnya.

Ustaz Ade Salimudin yang juga merupakan penerima manfaat Harapan Amal Mulia ini telah memberikan contoh nyata dalam menjadikan rumah sebagai madrasah pertama bagi anak dan keluarga, sehingga dari keluarga yang dibangun dengan landasan yang kokoh, dapat menjadikan masing-masing pribadi anggota keluarga semakin berdaya di masyarakat.

Sahabat, mari kita terus dukung banyak keluarga di sekitar kita agar dapat menjadikan rumah sebagai madrasah pertama bagi setiap anak agar nilai-nilai agama tertancap dengan kuat, dan pengetahuan didapat sedari dini. (itari/harapanamalmulia)

Sumber: Irawati Istadi, Rumahku Tempat Belajarku

Rumah Tahfiz Gratis Hadirkan Layanan Terbaik Bagi Santri Dhuafa

|”Mushaf Al Qur’an sudah punya, versi aplikasi sudah terinstal di gawai, tapi masih suka malas baca Al Qur’an? Padalah di belahan bumi lainnya, ada adik-adik kita yang bersemangat menghafal Al Qur’an namun terkendala banyak hal”

 

Harapanamalmulia.orgDengan kemajuan teknologi yang semakin canggih, ketinggalan membawa mushaf Al Qur’an seharusnya bukan halangan untuk tidak bisa tilawah. Namun rasa malas kerap kali datang menghampiri. Padahal di belahan bumi lainnya banyak anak –anak yatim dhuafa yang memimpikan dapat memiliki mushaf Al Qur’an untuk menghafal tiap ayat-ayat suci-Nya.

Beranjak dari simpati melihat anak-anak yatim dan dhuafa yang memiliki potensi besar namun terkendala keterbatasan, Harapan Amal Mulia mencetuskan sebuah program bernama Rumah Tahfiz Nusantara

 

Lewat Program Rumah Tahfiz, Yatim Dhuafa Penghafal  Qur’an Dapat Terfasilitasi

Rumah Tahfiz Nusantara menghadirkan ragam program bantuan berupa sarana dan fasilitas untuk memudahkan proses hafalan Qur’an di berbagai pesantren, madrasah, dan rumah tahfiz yang membutuhkan di seluruh Nusantara. Sasaran dari program ini adalah untuk membantu memfasilitasi anak-anak yatim dan dhuafa agar dapat mewujudkan mimpinya menjadi seorang penghafal Al Qur’an.

(Keterangan: Proses menyetorkan hafalan di Ma’had Tahfiz dan Ilmu Qur’an Bunyanun Marshush/foto: Harapan Amal Mulia)

Selain memberdayakan dari sisi individu, program Rumah Tahfiz Nusantara ini juga turut membantu rumah-rumah Qur’an di berbagai wilayah Indonesia agar mampu menghadirkan fasilitas terbaik bagi para penghafal Al Qur’an.

Baca Juga: Bantu Rumah Tahfiz Qur’an Yatim Dhuafa di Nusantara

 

Bunyanun Marshush, Rumah Tahfiz Gratis Untuk Anak-anak Dhuafa

Program Rumah Tahfiz Nusantara dalam membantu memfasilitasi anak-anak yatim dhuafa untuk menghafal Al Qur’an, ternyata memiliki visi yang sama dengan Ma’had Tahfiz dan Ilmu Qur’an Bunyanun Marshush.

(Keterangan: Ustaz Gaos Abdul Hamid, pendiri Ma’had Tahfiz dan Ilmu Qur’an Bunyanun Marshush/ foto: Harapan Amal Mulia )

Ma’had Tahfiz dan Ilmu Al-Qur’an  yang didirikan oleh Ustaz Gaos Abdul Hamid ini, sejak didirikannya pada tahun 2018, memiliki tujuan sebagai sarana untuk menciptakan generasi-generasi penghafal Al Qur’an yang mampu menghafal secara mutqin (benar dan kuat).

Dengan metode tersebut, santri-santri mukim Bunyanun Marshush  yang beralamat di Jl. Ciguruwik Komp. Griya Cinunuk Indah Bandung ini mampu menghafal 2 juz Al-Qur’an perbulan, dan dalam waktu tiga tahun diproyeksikan untuk dapat hafal 30 juz secara mutqin.

Komitmen Ustaz Gaos dan istri untuk membina santri dhuafa begitu serius. Meski bangunan rumah tahfiz ini masih berstatus sewa, para santri Bunyanun Marshush yang datang dari berbagai daerah ini tidak dibebankan biaya sepeserpun. Hanya kebaikan para dermawanlah yang menjadi andalan mereka untuk memenuhi kebutuhan operasional sehari-hari di asrama.⁣

 

Bantu Rumah Tahfiz Yatim Dhuafa Hadirkan Layanan Terbaik

(Keterangan: Ustaz Gaos (keempat dari kiri) bersama seluruh santri Ma’had Tahfiz dan Ilmu Qur’an Bunyanun Marshush/foto:Harapan Amal Mulia)

Sepenggal kisah Ma’had Tahfiz dan Ilmu Qur’an Bunyanun Marshush hanya salah satu dari sekian banyaknya kisah serupa di Nusantara. Kebaikan Sahabat Amal dan para dermawan lainnya akan sangat berarti dalam membantu menghasilkan generasi-generasi santri penghafal Al-Qur’an di Ma’had Tahfiz dan Ilmu Qur’an Bunyanun Marshush serta di tempat lainnya.

Bersama Harapan Amal Mulia, mari kita bantu program Rumah Tahfiz Nusantara agar kebermanfaatan program ini semakin dirasakan masyarakat luas. (itari/harapanamalmulia)

 

Sahabat Amal Mulia, dapat turut menyalurkan dukungan dengan memberikan donasi terbaik melalui pilihan rekening donasi di bawah ini:

BCA 0083 6858 72
Mandiri 132 003 321 2342
BSM 717 313 414 7
a.n. Yayasan Harapan Amal Mulia

Untuk informasi lebih lanjut dapat menghubungi nomor : 081 1234 1400 (SMS/Whatsapp)

Mulia dengan Amal Terbaik

 

 

Berbagi Makanan Bergizi Untuk Santri Yatim-Dhuafa

“Masih ingat kisah menu makan sederhana di Pesantren Nurul Masakin Sumedang? Berkat bantuan Sahabat, Alhamdulillah, kini sedekah makanan bergizi telah tersampaikan”

 

Harapanamalmulia.orgDengan bermodal uang Rp 40.000 setiap harinya, belasan santri yatim dan dhuafa di Pesantren Nurul Masakin, Sumedang harus berbagi porsi makan setiap pagi dan sore dengan menu sederhana. Terbatasnya jatah uang belanja yang diberikan membuat menu yang disajikan itu-itu saja.

Tahu menjadi menu andalan karena selain harganya murah, pedagang pasar kerap kali memberikan bahan masakan olahan itu sebagai sedekah yatim dhuafa. Soal gizi adalah nomor kedua, sebab yang pertama adalah tentang mensyukuri setiap makanan yang ada.

 

Ikhtiar Bersama Hadirkan Sajian Menu Penuh Gizi

Harapan Amal Mulia terus berupaya untuk membantu memenuhi kebutuhan gizi santri yatim dan dhuafa sebagai bagian dari komitmen bersama Sahabat Amal. Dengan dorongan semangat tersebut Harapan Amal Mulia menghimpun donasi untuk membantu memperbaiki gizi para santri.

(Keterangan: Kebersamaan makan bersama santri yatim dhuafa Pesantren Nurul Masakin/foto: Harapan Amal Mulia)

 

Alhamduillah berkat kepercayaan donatur, tim Harapan Amal Mulia telah berhasil menyalurkan sedekah makanan bergizi untuk santri yatim dan dhuafa penerima manfaat di Pesantren Nurul Masakin, Sumedang.

Sajian menu hewani berprotein tinggi, kalsium yang diperoleh dari susu, buah-buahan sebagai suplai vitamin, serta tidak lupa karbohidat dari nasi menjadi asupan seimbang untuk memenuhi kebutuhan para santri untuk menunjang proses pertumbuhan dan perkembangan mereka.

(Keterangan: Sebentuk raut bahagia Fina (ketiga dari kiri) beserta santri Pesantren Nurul Masakin lainnya saat menyantap hidangan/foto: Harapan Amal Mulia)

 

Raut wajah sumringah terlihat dari para santri yang sudah begitu lama tidak merasakan makanan yang enak nan bergizi tinggi. Fina (11 tahun) yang merupakan santri Pesantren Nurul Masakin mengungkapkan rasa bahagianya. Dirinya yang terbiasa menyantap mie dan olahan telur di Pesantren, terheran-heran melihat nasi ‘dihias’ dengan lauk yang beragam dengan rasa yang tak kalah memanjakan lidah.

“Terakhir minum susu 2 tahun yang lalu, buah-buahan dan daging juga jarang dikonsumsi. Terakhir makan 5 bulan yang lalu.”, ujar Fina dengan senyum lebar terpancar.

Fina juga mengungkapkan harapannya ingin bisa memperoleh makanan yang bergizi setiap hari, agar dapat menjadi siswa yang pintar.

Baca juga: Menu Makan Sederhana Di Pesantren Yatim Dhuafa

 

Bersama Harapan Amal Mulia, Mari Penuhi Gizi Santri Di Pelosok Negeri

(Keterangan: Santri memanjatkan doa terlebih dahulu sebelum menyantap makanan /foto: Harapan Amal Mulia)

 

Kondisi keterbatasan gizi yang dialami para santri yatim dan dhuafa Pesantren Nurul Masakin sejatinya hanyalah salah satu potret dari sekian banyak kisah dengan kondisi yang hampir serupa. Oleh karenanya, mari bersama Harapan Amal Mulia, kita bergandengan tangan untuk membantu hadirkan sajian makanan penuh gizi kepada para santri yatim dan dhuafa di pelosok negeri lainnya. (itari/harapanamalmulia)

 

Sahabat Amal Mulia, dapat turut mendukung Program Food For Yatim dengan memberikan donasi terbaik melalui pilihan rekening donasi di bawah ini:

BCA 0083 6858 72
Mandiri 132 003 321 2342
BSM 717 313 414 7
a.n. Yayasan Harapan Amal Mulia

Sahabat Amal Mulia juga dapat berpartisipasi melalui: kitabisa.com/food4yatim

Untuk informasi lebih lanjut dapat menghubungi nomor : 081 1234 1400 (SMS/Whatsapp)

Mulia dengan Amal Terbaik