Tag: keluarga harapan

Tag: keluarga harapan

Kisah Hidup Sederhana Petani Desa

“Menjalani setiap episode tantangan dalam kehidupan tidak lantas menjadikan para petani dhuafa di Sindangjaya, Kabupaten Cianjur berputus asa. Keterbatasan boleh saja dialami, tetapi ikhtiar dan tawakal terus dipanjatkan kepada Illahi Rabbi”

 

Harapanamalmulia.orgDapat tinggal dan menetap di desa yang dianugerahi kekayaan alam adalah sebuah kesyukuran yang harus dipanjatkan kehadirat Allah Swt. Kendati bertahun-tahun menjadi petani penggarap lahan orang, namun para petani penggarap lahan di Desa Sindangjaya, Kecamatan Ciranjang tidak pernah berputus asa.

Mencari rezeki tidak selalu berpatokan kepada berapa harga upah yang diterima, tetapi mendapat amanah menggarap sawah orang menjadi nilai kepercayaan yang harus terus dijaga. Setidaknya itulah nilai perjuangan hidup bagi Bu Hasanah, Bi Ela dan Bi Erni sebagai petani penggarap sawah orang, di desa yang menjadi bagian dari Kabupaten Cianjur itu.

Harapan Amal Mulia, lembaga penghimpun sedekah yatim dhuafa telah sajikan kisah selengkapnya tentang perjuangan para petani penggarap sawah orang.

 

Penghasilan Dari Menggarap Sawah Orang

Desa Sindagjaya, Kecamatan Ciranjang Kabupaten Cianjur itu memiliki banyak potensi alam yang melimpah ruah. Dekatnya posisi desa dengan waduk Cirata membuat sebagian penduduk berprofesi sebagai nelayan, juga tidak jarang penduduk yang memilih usaha menyewakan kapal wisata. Sedangkan mayoritas penduduk lainnya berprofesi sebagai petani, baik itu petani pemilik sawah, maupun petani penggarap lahan orang.

Ibu Hasanah, Bi Ela Hayati, dan Bi Erniati, adalah segelintir penduduk Sindangjaya yang berprofesi sebagai petani. Kendati tidak memiliki lahan sawah pribadi, namun mereka diamanahi untuk menggarap lahan orang.

(Ibu Hasanah (50 Tahun) salah satu petani dhuafa di Desa Sindangjaya/foto:Harapan Amal Mulia)

Ibu Hasanah (50 tahun) dan suaminya diberi kepercayaan untuk mengelola lahan dengan sistem bagi hasil. Setiap masa panen tiba, seluruh padi harus dibagi dua dengan pemilik lahan. Sawah seluas 300 tumbak yang dikelola dapat menghasilkan sekitar 1 ton beras sekali panen, sehingga Bu Hasanah memperoleh 500 Kg beras dengan masa panen 4 bulan sekali. Selama masa tunggu panen, untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari, Bu Hasanah sangat mengandalkan dari beras bagi hasil yang diperolehnya, agar dapat sampai pada masa panen yang akan datang.

Berhemat dengan menu lauk sederhana adalah cara Bu Hasanah dan keluarga agar mampu menyambung hidup setiap harinya. Apalagi dengan masih memiliki anak yang duduk di bangku SMA, membuat Bu Hasanah juga sesekali menerima panggilan menjadi juru masak catering, walau bukan sebuah pekerjaan rutin yang dirinya jalani. Sedangkan sang suami, mengisi hari dengan mencari pakan untuk domba ternakannya.

 

Bertahan Dalam Keterbatasan

(Bi Ela Hayati (47 Tahun) salah satu petani dhuafa di Desa Sindangjaya/foto:Harapan Amal Mulia)

Kisah petani penggarap lahan orang juga menjadi keseharian dari Ela Hayati (47 Tahun), warga Kp. Calincing Desa Sindangjaya ini memperoleh 10 Kg beras setiap 4 bulan sekali dari hasil panen sawah garapannya. Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari Bi Ela (panggilan akrabnya) juga harus mencari penghasilan tambahan sebagai juru masak catering yang tidak selalu ada setiap hari.

Sedangkan sang suami, yang memiliki profesi sebagai ojeg perahu di Waduk Cirata juga tidak dapat membawa besaran rupiah yang menentu sesampainya di rumah. Rp 30.000 sampai Rp 50.000 adalah besaran nominal yang dapat diperoleh dari hasil ojeg perahu. Dengan anak bungsu yang masih duduk di bangku Madrasah Tsanawiyah (setingkat SMP) Pasir Nangka, membuat Bi Eli dan suami harus berhemat pengeluaran setiap harinya.

(Selain menjadi petani, Bu Erniati (42 tahun) mencari tambahan penghasilan dengan menjadi juru masak catering/foto: Harapan Amal Mulia)

 

Situasi yang sama juga dirasakan oleh Bi Erniati (42 tahun), 10 Kg beras diperolehnya dari hasil menggarap sawah orang. Selama menunggu panen tiba, beras tersebut menjadi andalan dalam mencukupi kebutuhan sehari-hari, yang tentu selalu habis tak bersisa selama 4 bulan digunakan. Bekerja serabutan pun menjadi sebuah pilihan yang akhirnya harus ditempuh demi asap dapur yang harus mengepul. Untuk mencukupi keperluan sehari-hari, suami Bi Erni pun berkerja mengelola tambak ikan di waduk Cirata. Hasil dari tambak ikan sedikitnya dapat membantu keluarga Bi Erni dalam menyambung hidup sampai masa panen tiba. Dengan penghasilan kurang lebih Rp 1.000.000/bulan, Bi Erni dan keluarga harus mengatur strategi agar cukup untuk kebutuhan dapur dan biaya sekolah anak bungsu yang masih mengenyam pendidikan di SMP PGRI Ciranjang.

 

Harapan Lebih Baik Pada Masa Depan

(Salah satu kegiatan pertanian di Desa Sindangjaya/foto:Harapan Amal Mulia)

 

Kenyataan hidup yang dialami oleh Ibu Hasanah, Bi Ela dan Bi Erniati menjadi segelintir cerita, bahwa perjuangan harus tetap dijalani walau dengan keterbatasan yang ada. Usaha terus digiatkan, serta tidak lupa memohon kepada Sang Pencipta agar mendapat limpahan keberkahan dalam menjalani kehidupan. Kendati kerasnya hidup yang dijalani, dan harus berhemat setiap harinya, tidak lantas membuat kehilangan harapan dalam kehidupan.

Ibu Hasanah, Bi Ela dan Bi Erniati selalu berharap dan yakin bahwa kelak kehidupan akan lebih baik asalkan tidak melepas ikhtiar, do’a dan tawakal kepada Illabi Rabbi

(itari/harapanamalmulia)

 

Keyakinan yang sama juga membuat Harapan Amal Mulia tergerak untuk membersamai perjuangan Ibu Hasanah, Bi Ela, dan Bi Erniati serta para keluarga pra-sejahtera lainnya untuk mewujudkan masa depan yang lebih baik.

Mari kirim bantuan kebahagiaan untuk para keluarga petani dan keluarga pra-sejahtera lainnya melalui program Paket Harapan Keluarga. Paket yang berisi macam-macam sembako ini begitu dinantikan para keluarga dhuafa di Indonesia, agar dapat memenuhi kebutuhan sehari-harinya.  

Sahabat Amal dapat menyalurkan bantuannya melalui rekening donasi

BCA 0083 6858 72

Mandiri 132 003 321 2342

a.n. Yayasan Harapan Amal Mulia

Benarkah Warga Kota Lebih Bahagia Dibanding Warga Desa?

|” Bahagia itu tidak terbatas ruang dan waktu, tapi bahagia itu kita yang ciptakan lho. Seperti potret warga di Desa Sindangjaya, Kabupaten Cianjur. Dengan segala anugerah alam yang ada, mereka punya cara tersendiri untuk tetap bahagia.”

 

Harapanamalmulia.orgBadan Pusat Statistik (BPS) meluncurkan hasil surveinya tentang Indeks Kebahagiaan Indonesia. Berdasarkan hasil Survei Pengukuran Tingkat Kebahagiaan (SPTK), diperoleh hasil bahwa indeks kebahagiaan penduduk yang tinggal di wilayah kota adalalah sebesar 71,64 dan 69,57 untuk indeks kebahagiaan bagi penduduk yang tinggal di pedesaan. Dari hasil tersebut diambil kesimpulan bahwa penduduk yang tinggal di perkotaan cenderung lebih bahagia dibandingkan penduduk yang tinggal di pedesaan.

Terlepas dari hasil survei yang dilansir BPS, seharusnya tempat di mana seseorang tinggal tidak dapat menjamin ukuran kebahagiaan seseorang. Termasuk bagi penduduk yang tinggal di pedesaan. Penduduk desa tentu juga bisa bahagia dan punya indikator kebahagiaannya tersendiri. Hal itu dibuktikan oleh para penduduk di Desa Sindangjaya, Kecamatan Ciranjang.

Bagaimana cara penduduk desa yang terletak di Kabupaten Cianjur ini dapat bahagia?

Berikut Harapan Amal Mulia, lembaga penghimpun donasi yatim dhuafa bagikan kisah selengkapnya untuk Sahabat semua.

 

Memetik Berkah dari Alam Desa

(Keterangan: Salah satu kegiatan bertani di Desa Sindangjaya /foto:Harapan Amal Mulia)

Desa yang terletak tidak jauh dari Waduk Cirata ini memiliki potensi alam yang begitu melimpah. Banyak warga yang mengais rezeki menjadi buruh tani di sawah, dengan upah Rp 30.000 per hari. Keberadaan waduk Cirata juga turut dimanfaatkan warga lainnya untuk menjadi nelayan pencari ikan, serta tidak jarang juga penduduk menambah pundi-pundi dengan menyewakan perahu wisata bagi para pengunjung waduk yang berdatangan.

Besar penghasilan yang diperoleh warga tergantung kepada musim dan cuaca, kadangkala ikan yang didapatkan nelayan begitu melimpah sehingga Rp 50.000 sudah dapat dibawa pulang, tetapi tidak jarang juga ikan hasil tangkapan tidak sebanyak hari-hari biasanya. Begitu pun dengan warga yang membuka usaha sewa perahu wisata, tidak menentunya kunjungan membuat penghasilan sehari-hari tidak dapat ditentukan. Dengan tarif Rp 15.000 per satu kali sewa perahu, pengunjung dapat mengelilingi waduk sepuas hati.

Kendati pundi-pundi rupiah yang dapat dibawa ke rumah tidak menentu setiap harinya, namun penduduk desa Sindangjaya percaya bahwa keberkahan dari yang Maha Kuasa tercurah dalam setiap genggaman harta yang telah mereka usahakan.

 

Bebas Jelajah Kampung Untuk Menuntut Ilmu

(Keterangan: Potret anak-anak Desa Sindangjaya saat pergi mengaji/foto:Harapan Amal Mulia)

Keseharian dari penduduk desa Sindangjaya tidak hanya sebatas mencari nafkah semata, pengajian rutin menjadi salah satu agenda wajib bagi ibu-ibu di sana. Tidak kurang dari dua kali dalam sepekan pengajian di gelar di masjid setempat. Dengan jama’ah pengajian rutin sekitar 70 orang, sebagian peserta harus rela menyimak dari teras masjid mengingat kapasitas ruang utama hanya dapat menampung setengahnya saja.

Kesadaran terhadap pentingnya ilmu agama membuat ibu-ibu Sindangjaya juga mengikuti pengajian di kampung-kampung lainnya. Saling memakmurkan masjid. Belum lagi kalau 1 ibu bawa 1 anak, tambah hiduplah masjid ini.” ujar salah satu jama’ah yang selalu antusias mengikuti pengajian.

Aktivitas di masjid terasa begitu hangat, manakala seusai para ibu mengaji, anak-anak Desa Sindangjaya berbondong-bondong untuk mengaji sore hari. Tanpa harus disuruh dan diminta, anak-anak berdatangan dengan sukarela untuk mengais ilmu dari ustaz setempat.

Simak informasi menarik lainnya: 7 Tips Antisipasi Corona Ala Santri Penghafal Al Quran

 

Berdikari Sejak Dini

Limpahan karunia alam yang dimiliki Desa Sindangjaya tidak serta merta membuat penduduknya berleha-leha. Namun sebaliknya, motivasi kuat untuk mandiri sejak dini menjadi semangat dalam mendatangkan kebahagiaan bagi penduduknya.

(Keterangan: Dewi (13 tahun) salah satu anak asal Desa Sindangjaya/foto: Harapan Amal Mulia)

Semangat ini yang ditunjukan oleh Dewi Yuniarti (13 tahun), meski sudah ditinggal oleh ayah kandung sejak masih kecil. Namun Dewi memiliki motivasi kuat untuk terus mengenyam bangku sekolah hingga perguruan tinggi. Kegemarannya akan pelajaran sains membuatnya bercita-cita menjadi dokter agar dapat mengobati orang sakit dan bermanfaat bagi banyak orang.

Kini bersama ibu dan ayah tirinya, Dewi selalu berusaha untuk dapat mandiri sejak dini, dengan penghasilan kedua ornag tuanya yang terbatas, tidak menyurutkan langkahnya untuk terus bersekolah dan mengejar impiannya.

 

Mendapatkan Perhatian dan Bimbingan

(Keterangan: Potret Ibu Suharlin bersama suaminya Pak Sholeh /foto:Harapan Amal Mulia)

Penduduk Desa Sindangjaya yang mayoritasnya Muslim, membangun toleransi yang baik dengan penduduk non-muslim yang berada di sana. Hubungan antar manusia yang berjalan baik kerap kali menjadi jalan hidayah bagi banyak mualaf yang tinggal di sekitar desa.

Seperti halnya Ibu Suharlin (40 tahun), ibu dari enam orang anak ini telah lama menjadi mualaf, kecintaannya yang besar terhadap Islam menjadikannya terus menggali ilmu lewat satu pengajian ke pengajian yang lainnya. Tidak kurang dari 2 kali dalam sepekan Ibu Suharlin menata jadwal mengajinya di dua masjid yang berbeda, ditengah kesibukannya bekerja serabutan seharian.

Ibu Suharlin yang telah merasakan pahitnya kegagalan rumah tangga ini, kini berjuang bekerja serabutan bersama suami barunya yang berprofesi sebagai pencari botol-botol plastik bekas. Meski hidup dalam kesederhanaan, Bu Suharlin tetap bahagia karena memiliki suami yang bertanggung jawab dan mampu membimbingnya untuk semakin taat kepada Allah Swt.

“Saya bahagia sekarang, walaupun cuma mulung botol plastik juga, ada yang ngajarin saya ngaji” ujarnya dengan mata berkaca-kaca.

 

Tambah Kebahagiaan Keluarga Desa

Sahabat Amal, kisah ragam kebahagiaan yang tercermin dari Desa Sindangjaya ini memberikan pelajaran berharga bagi kita semua, bahwa sejatinya bahagia itu mampu untuk diciptakan bukan semata-mata tergantung kepada tempat tinggal. Bahagia juga adalah tentang bagaimana kita menyikapi setiap keadaan dan berusaha dengan sebaik-baiknya ikhtiar yang kita bisa sebagai bentuk rasa syukur kepada Sang Pencipta.

Sahabat, mari kita tambahkan kebahagiaan kepada penduduk desa di mana pun berada, khususnya di Desa Sindangjaya, Kabupaten Cianjur,  yang merupakan bagian dari desa binaan Harapan Amal Mulia, melalui program Paket Harapan Keluarga, dan Paket Harapan Yatim dan Dhuafa untuk membantu saudara-saudara muslim dan mualaf di Desa Sindangjaya, Kabupaten Cianjur dan desa-desa lainnya di seluruh Indonesia. (itari/harapanamalmulia)

Sahabat dapat berbagi kebahagiaan melalui rekening donasi berikut ini:

BCA 0083 6858 72

Mandiri 132 003 321 2342

a.n. Yayasan Harapan Amal Mulia

Keluarga Harmonis dari Cianjur, Sederhana Tapi Penuh Cinta

Meski hidup sederhana, cinta Pak Soleh dan Bu Suharlin amat memesona. Keduanya menjalani rumah tangga yang tentram dan dinaungi kecintaan kepada-Nya.

 

Harapanamalmulia.org – “ (Waktu itu) Gak mikirin yang lain, yang penting masa depannya kita” kata Bu Suharlin (40 th) saat mengulas kisah penantiannya agar bisa bersatu dengan Sang Suami, Pak Soleh (34 th).

Kurang lebih empat tahun, warga Desa Sindangjaya, Kecamatan Ciranjang, Cianjur itu menunggu Pak Soleh yang berkelana, dengan penuh kesabaran dan pengharapan. Penantian tersebut nyatanya berbuah manis karena sekarang mereka bisa bersatu dan membangun sebuah keluarga sederhana yang penuh cinta.

Cinta Pak Soleh dan Bu Harlin menjadikan mereka tetap bahagia meski hidup sangat sederhana. (Dok. Harapan Amal Mulia)

Pak Soleh memang bukan suami mapan berpenghasilan jutaan. Ia hanya seorang pencari botol plastik yang pendapatannya tak lebih dari empat ratus ribu setiap bulan.

Meski begitu, ketaatannya kepada Sang Pencipta serta kesabaran membimbing keluarga, menjadikan Pak Soleh terlihat sempurna di mata istri dan keenam anak tirinya.

 

Menua Bersama dalam Ketaatan kepada-Nya

“Saya bahagia sekarang meskipun (suami) cuma mulung juga, ada yang ngajariin saya ngaji”, ungkap Bu Suharlin.

Di usianya yang tak lagi muda, Bu Suharlin memang masih memerlukan bimbingan membaca Al-Quran. Begitu juga anak-anaknya yang belum tersentuh pendidikan agama yang cukup. Syukurlah,  ada Pak Soleh yang bersedia mengajari dengan sabar di sela kesibukkan mencari barang rongsokan.

 

Baca juga: Kisah Inspiratif: Ummu Mahjan Sang Marbot Yang Dicintai Rasulullah

 

Pak Soleh juga selalu mendukung agar istri dan anak-anaknya belajar agama di majelis-majelis ilmu. Ia berharap, keluarganya mempunyai kehidupan lebih baik dengan bekal ilmu yang didapatkan.

“Harapannya untuk keluarga, kalo bisa jangan seperti saya, sukses lah kedepannya biar aku aja  kaya gini” kata Pak Soleh.

Bagian dalam rumah Pak Soleh dan Bu Suharlin yang menjadi tempat belajar mengaji. (Dok. Harapan Amal Mulia)

Selain sabar, Pak Soleh juga gigih mencari nafkah untuk keluarga. Di sela aktivitas mencari barang rongsokan, ia mencoba peruntungan dengan beternak ayam dan berjualan celengan dari kertas olahan.

 

Cinta Jadikan Pak Soleh Rela Berlelah-lelah Mencari Nafkah

“Suka jalan kaki, panas, capek. Nanjak turun soalnya”, begitu kata Pak Soleh menceritakan tantangannya mencari botol plastik seharian penuh.

Walau sudah bersusah payah, tak jarang ia hanya berhasil mengumpulkan dua karung saja. Maklum, pengepul rongsokan di Sindangjaya bukan hanya Pak Soleh sendiri.

“Sampe sore mulungnya, sampe ke laut (Waduk Cirata, di dekat desa). Sehari, bisa dapat dua karung kalo ada. Sekarungnya harga dua sampai tiga ribuan lah” tambahnya.

Pak Soleh menjual botol-botol plastik temuannya kepada pengepul yang berlokasi di Jalan Raya Ciranjang. (Dok. Harapan Amal Mulia)

 

Hebatnya, Pak Soleh tak pernah kehilangan semangatnya mencari nafkah. Kecintaan terhadap keluarga menjadi kekuatan Pak Soleh terus mengumpulkan rupiah tanpa mengenal tanggal merah atau akhir pekan. (history/harapanamalmulia)

 

Maasya Allah. Jika kita yang menjadi Pak Soleh dan Bu Suharlin, akankah bisa sesabar dan sesyukur mereka?

Sahabat, Pak Soleh dan Bu Suharlin dan keluarga dhuafa lain yang memiliki kisah serupa perlu kita kuatkan. Bersama harapan Amal Mulia, mari dukung penuhi kebutuhan pokok mereka dalam program Paket Harapan Keluarga.

Hanya dengan berdonasi Rp. 200.000/keluarga, sepaket sembako dan kebutuhan lainnya akan diterima penerima manfaat dengan suka cita.

Kebaikan Sahabat bisa disalurkan melalui pilihan rekening donasi berikut:

 

BCA 0083 6858 72

Mandiri 132 003 321 2342

BSM 717 313 414 7

a.n. Yayasan Harapan Amal Mulia

 

Mohon konfirmasi setelah transfer melalui SMS/Whatsapp: 081 1234 1400 ya, Sahabat! 😊