Tag: mulia

Tag: mulia

Mengenalkan Quran Pada Anak

Setiap orang menginginkan anak-anaknya menjadi anak yang shalih dan shalihah. Karena itu, untuk mewujudkan apa yang menjadi harapan orang tua seringkali dimulai dari memberikan pendidikan agma yang terbaik. Misalnya dengan memilihkan sekolah yang memang banyak mengajarkan tentang agama ataupun orang tua sendiri yang mengajarkan agama sedari kecil. Tentunya untuk mengajarkan agama dimulai dari memperkenalkan Al-Qur’an kepada mereka. seperti yangdiketahui bersama Al-Quran adalah petunjuk dari Allah untuk hambanya dalam melaksanakan perintahNya dan menjauhi laranganNya. Untuk memperkenalkan Al-Qur’an pada anak terdapat cara atau tipsnya tersendiri agar ketika anak sudah dewasa tetap konsisten dan terbiasa memegang, mengenal, membaca, dan mengamalkan Al-Qur’an. Lalu, bagaimana caranya untuk bisa melakukan itu semua? Mari simak bersama pemaparannya di bawah ini!

Langkah Cara Mengenalkan Al-Qur’an pada Anak

Secara psikologis, usia anak diantara 1-5 tahun adaah masa emas atau golden age mereka. Oleh karena itu jika di usia tersebut dikenalkan dengan sesuatu hal kebaikan maka akan mudah terserap dan diaplikasikan untuk masa depannya kelak. Adapun langkah-langkahnya adalah sebagai berikut:

  1. Sering Membaca Al-Qur’an di Depan Anak Anda

Untuk Anda yang ingin anaknya mencintai Al-Qur’an tentunya harus dimulai dari orang tua. Sebagai orang tua cobalah untuk sering membaca Al-Quran di depan anak Anda ataupun dalam ruangan sama atau “strategi” lainnya asalkan anak Anda bisa mendengar dan juga melihat orang taunya ayang sedang membaca Al-Quran di awal-awal anak mungkin akan cuek, berlari-lari atau pun merebut Al-Quran dari tangan Anda. Tetapi semakin lama dan usia anak Anda semakin besar mereka pun akan penasaran dan akan mengikuti apa ayang selalau dilakukan orang tuanya.

  1. Bercerita Kepada Anak dengan Menggunakan Kisah-Kisah dalam Al-Qur’an

Jika sampai hari ini Anda selalu mendongengkan anak dengan cerita-cerita dari luar atau pun cerita lainnya. Cobalah untuk menggantinya dengan kisah-kisah yang ada dalam Al-Qur’an. Kisah dalam Al-Quran adalah “bukti nyata” yang ada di zaman dahulu yang bukan saja fiktif tetapi memang nyata adanya. Semakin sering Anda membacakan kisah tersebut maka semakin besar pula rasa keingintahuan anak Anda akan Al-Quran tersebut. Tentunya bahasa yang digunakan dalam menceritakan kisah tersebut adalah yang mudah dipahami dan dimengerti oleh mereka.

  1. Memutar Murotal Al-Quran dengan Bantuan Media

Saat ini adalah zaman serba canggih. Segala macam teknologi hadir dengan tujuan untuk memudahkan orang lain dalam melakuakn hal apapun. Dengan teknologi inilah Anda bisa memanfaatkannya untuk memutar murotal AlQuran yang akan diperdengarkan untuk anak Anda. Semakin sering Anda menyetelnya maka anak pun akan terbiasa dan tak asing untuk mendengarkannya.

  1. Ajak Anak untuk Belajar Al-Quran di TPA

Jika usia anak Anda sudah menginjak 6 tahun atau di bawah itu Anda bisa memasukkannya ke TPA yang biasanya ada di dekat rumah. Dengan begitu selain anak Anda bisa bersosialisasi dengan teman sebayanya juga bisa belajar Al-Quran pada ahlinya.

 

Demikianlah infromasi mengenai cara mengenalkan Al-Quran pada anak. semoga informasi ini bermanfaat untuk Anda.

Infakan dan sedekahkan harta yang kita miliki melalui Yayasan Harapan Amal Mulia di nomor rekening Bank Syariah Mandiri 2017.00. 4018. Info lebih lanjut tentang Yayasan yang bergerak di bidang sosial ini bisa menghubungi di nomor contact person 0812 2477 4448. Sedikit harta yang Anda gunakan di jalan kebaikan, akan bermakna untuk orang-orang yang membutuhkan. (Izzah Safiera)

Karena Mereka, Saudaraku

Manusia sejatinya adalah makhluk yang tak sempurna. Maka dari itu muncullah istilah makhluk sosial dimana manusia tidak bisa hidup tanpa orang lain. Bahkan bila manusia itu sendiri kedudukannya adalah memiliki harta berlimpah pun tetap memerlukan bantuan dan pertolongan orang lain.

Contoh Sikap Tolong Menolong yang Tertuang dalam Al-Qur’an dan Al-Hadits

Sikap tolong menolong atau ta’wun ini telah tertuang dengan nyata dalam Al-Qur’an dan Al-Hadits. Artinya memang sikap ini memang sangat diharuskan dan harus dimiliki oleh setiap muslim.

  1. Contoh Perintah Sikap Tolong Menolong dalam Al-Quran

“Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebaikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya”. (Q.S. Al-Maidah ayat 2)

Dalam penjelasan ayat di atas dikutip dari Tafsir Ibnu katsir, bahwasannya Allah SWT mengajak hambaNya untuk saling tolong-menolong dalam hal kebaikan dengan dilapisi ketakwaan kepada-nya. Dalam ketakwaan tersebut Allah terkandung Ridha Allah. Pada dasarnya semua orang akan bisa senantiasa berbuat baik hanya saja seringkali tujuan dari berbuat baik tersbeut belum tentu untuk mengharap Ridha Allah ataupun bukan hal yang positif. Tetapi, bila ada Ridha Allah dan Ridha manusia makan akan menghasilkan kebahagiaan dan keberkahaan. Allah SWT pun  sangat melarang hambaNya untuk berta’awun dalam hal kebatilan, perbuatan dosa, dan juga hal yang diharamkan.

  1. Contoh Perintah Sikap Tolong Menolong dalam Al-Hadits

 Diriwayatkan dari Musadad, diriwayatkan dari  Mu’tamar, dari Anas. Anas berkata: Rasulullah bersabda: Bantulah saudaramu, baik dalam keadaan sedang berbuat zhalim atau sedang teraniaya. Anas berkata: Wahai Rasulullah, kami akan menolong orang yang teraniaya. Bagaimana menolong orang yang sedang berbuat zhalim?” Beliau menjawab: “Dengan menghalanginya melakukan kezhaliman. Itulah bentuk bantuanmu kepadanya

Dalam hadits di atas terkandung sebuah makna

  • Hendaknya orang yang berilmu membantu orang lain dengan ilmunya
  • Hendaknya oang yang kaya membantu dengan kekayaannya
  • Hendakanya sesama ummat muslim menjadi tangan yang dapat membantu orang yang sejatinya membutuhkan.
  • Dan Hendaknya seorang muslim setelah mengerjakan amal shalihnya, membantu juga orang lain dengan tindakan ataupun ucapan untuk mengajaknya pada jalan yang benar dan melakukan amalan shalih.

 

Manfaat Tolong-Menolong dalam Kebaikan

  • Menumbuhkan sikap gotong royong antar sesama
  • Memperat tali persaudaraan
  • Menciptakan kehidupan yang tentram, harmonis, dan damai

Sikap tolong menolong pun bisa Anda lakukan sesama muslim di seluruh dunia. Seperti yang diketahui bersama saat ini Ummat Muslim di dunia sedang dilanda peperangan dan juga perpecahan. Jika raga tak bisa untuk menolongnya masih bisa harta kita yang “menolong” mereka dan meringankan bebannya.

Infakan dan sedekahkan harta yang Anda miliki melalui Yayasan Harapan Amal Mulia di nomor rekening Bank Syariah Mandiri 2017.00. 4018. Info lebih lanjut tentang Yayasan yang bergerak di bidang sosial ini bisa menghubungi di nomor contact person 0812 2477 4448. Sedikit harta yang Anda gunakan di jalan kebaikan, akan bermakna untuk orang-orang yang membutuhkan. (Izzah Safiera)

Senyum Lepas Yatim Nusantara

Rasulullah SAW adalah teladan dan juga pemimpin bagi ummat Islam. Rasulullah sebagai Nabi dan juga Rasul terakhir selalu mencontohkan dalam ibadah atau perkara lainnya dengan baik dan benar. Contohnya saja sikap Rasulullah SAW kepada anak yatim yang memang senantiasa menjaga, menyantuni dan juga menghormati mereka. Bila sedari dulu tak ada mencontohkan, mungkin nasib anak yatim hari ini akan benar-benar menjadi perkara yang serius. Tetapi beruntunglah ummat Islam memiliki pemimpin yang memang senantiasa memberikan dan mengamalkan ilmunya sesuai dengan ketentuan dan ketetapan Allah SWT. Lalu seperti apakah penghormatan serta santunan Rasulullah SAW kepada anak yatim tersebut? Berikut pemaparannya.

Kisah Rasulullah dengan Anak Yatim

Kisah ini diambil dari riwayat Anas bin Malik R.A yang menceritakan bahwa:

Suatu pagi, usai shalat Idul Fitri, Rasulullah selalu mengunjungi rumah demi rumah untuk bersilaturahmi dan mendoakan kaum muslimin. Mereka semua terlihat bergembira, terutama anak-anak.

Tiba-tiba, Rasulullah saw. melihat seorang gadis kecil duduk bersedih di ujung jalan. Gadis kecil itu memakai pakaian bertambal dan sepatu usang.

Rasulullah saw. bergegas menghampiri. Gadis itu menangis tersedu sambil menutup wajah. Dengan penuh kasih sayang, Rasulullah saw. memegang lembut kepala gadis kecil.

“Anakku, mengapa kamu menangis? Bukankan ini adalah Hari Raya?” tanya Rasul

Gadis kecil itu terkejut, tetapi ia masih belum mengangkat kepala. Ia menjawab terbata-bata, “Semua anak ingin merayakan Hari Raya bersama orangtuanya. Semua anak bermain dengan riang gembira. Namun, aku teringat ayahku. Itu sebabnya aku menangis. Waktu itu Hari Raya terakhir bersamanya. Ayahku membelikanku gaun berwarna hjau dan sepatu baru. Suatu hari ayahku pergi berperang bersama Rasulullah hingga ia terbunuh. Kini, ayahku telah tiada. Aku telah menjadi yatim. Jika aku tidak menangis untuknya, untuk siapa lagi?

Mendengar penuturan gadis kecil itu, Rasulullah saw. turut bersedih. Dengan penuh kasih sayang, beliau membelai kepala gadis kecil itu seraya berkata,

“Anakku, hapuslah air matamu. Apakah kamu ingin agar aku menjadi ayahmu? Apakah kamu ingin Fatimah menjadi kakak perempuanmu dan Aisyah menjadi Ibumu? Bagaimana anakku?

Mendengar rentetan kalimat tersebut, gadis kecil itu berhenti menangis. Ia mengangkat kepala dan memandang laki-laki yang membelai kepalanya dengan lembut. Ia seolah tak percaya pada penglihatannya. Masya Allah! Benar, laki-laki ini adalah Rasulullah saw. Gadis kecil itu mengangguk setuju.

Lalu, mereka pun bergandengan tangan menuju rumah Rasulullah saw. Hati gadis kecil itu diliputi jutaan bahagia yang sulit dilukiskan. Ia berjalan sembari mengenggam erat tangan Rasulullah saw. yang lembut bagai sutra.

Sesampai di rumah, wajah dan kedua tangan gadis kecil itu dibersihkan dan rambutnya disisir. Ia pun dipakaikan gaun yang indah serta diberi makanan dan uang saku berhari raya. Kemudian ia diantar keluar untuk bermain dengan anak-anak lainnya.

Tentu saja anak-anak lain dan para orang tua merasa heran melihat perubahan yang terjadi pada gadis kecil itu. Mereka bertanya, “Hai, gadis kecil, apa yang terjadi? Mengapa kamu menjadi sangat gembira.

Sambil menunjukkan gaun dan uang sakunya, gadis kecil itu menjawab, “Akhirnya aku memiliki ayah. Di dunia ini, tidak ada yang bisa menandinginya. Siapa yang tidak bahagia memiliki ayah Rasulullah? Aku juga mempunyai kakak perempuan bernama Fatimah. Ia menyisir rambutku dan mengenakan gaun yang indah ini. Aku merasa sangat bahagia. Ingin rasanya aku memeluk seluruh dunia beserta isinya.”

Dalam kisah di atas sudah jelas sikap yang dilakukan oleh Rasulullah SAW. Dalam sekejap, di hari yang penuh dengan kemenangan Rasulullah membuat senyum anak yatim tersebut dengan menawarkan diri untuk menjadi bapak dari anak tersebut. Tak hanya beliau yang dianggap sebagai bapak, seleuruh keluarganya pun boleh diangap anak tersebut sebagai ibu dan kakak.  Sikap menyantuni, menghormati, dan membuat senyum pada anak yatim pun telah diajarkan dan diwariskan pada kita ummat Islam dengan bukti nyata.

Lalu, sikap yang seperti apa pula yang bisa kita lakukan untuk membuat anak yatim tersenyum? Saudaraku, tentunya tak semua anak yatim atau anak yang ditinggal ayahnya diliputi dalam keadaan miskin. Ada pula di dunia ini anak yatim yang memang memiliki harta yang berlebih. Oleh karena itu, ada beberapa hal yang harus kita lakukan seperti di bawah ini:

  1. Cara Memuliakan Anak Yatim Fakir

Menyantuni, mengasuhnya, dan mencukupi kebutuhannya. Adapun balasan yang dapat diterima oleh para penyantun anak yatim tersebut adalah sesuai dengan Sabda Rasulullah SAW:

 

“sebaik-baik rumah kaum muslimin adalah rumah yang di dalamnya ada anak yatim dan diasuh dengan baik. Dan seburuk-buruk rumah kaum muslimin adalah rumah yang di dalamnya ada anak yatim, namun diasuh dengan buruk. Kemudian beliau menunjukkan dengan jari tengah dan telunjuknya sambil bersabda; “aku dan pengasuh anak yatim seperti ini di surga”. (HR. Abu Daud)

 

  1. Cara Memuliakan Anak Yatim Kaya

Tentunya bila kita harus menghadapi anak yatim yang kaya tau kondisinya berlebih. Maka cara memuliakannya adalah dengan merawatnya dengan baik, mengurus, dan menyimpan harta atau usahanya dengan amanah, jujur, kasih sayang, dan tanggung jawab. Bila anak tersebut telah mencapai akil baligh maka apa yang telah kita urus dan simpan harus diberikan kepadanya. Janganlah sesekali mengambil atau memakan harta anak yatim tersebut. sesuai dengan firmanNya:

Dan ujilah anak yatim itu sampai mereka cukup umur untuk menikah. Kemudian jika menurut pendapatmu mereka telah cerdas (pandai memelihara harta), maka serahkanlah kepada mereka harta-hartanya. Dan janganlah kamu makan harta anak yatim lebih dari batas kepatutan dan (janganlah kamu) tergesa-gesa (membelanjakannya) sebelum mereka dewasa. Barang siapa (di antara pemelihara itu) mampu, maka hendaklah ia menahan diri (dari memakan harta anak yatim itu) dan barangsiapa yang miskin, maka bolehlah ia makan harta itu menurut yang patut. Kemudian apabila kamu menyerahkan harta kepada mereka, maka hendaklah kamu adakan saksi-saksi (tentang penyerahan itu) bagi mereka. Dan cukuplah Allah sebagai Pengawas (atas persaksian itu). (Q.S. An-Nisa ayat : 6)

Lalu, alasan apalagi yang hendak kita ingkari. Jika Allah dan Rasul saja sudah mencontohkannya dan tertulis dalam Forman dan sabdaNya yang jelas dan nyata.

Siapkah Anda untuk membuat senyum mereka? Infakan dan sedekahkan harta dimiliki untuk mereka yang membutuhkan melalui Yayasan Harapan Amal Mulia di nomor rekening Bank Syariah Mandiri 2017.00. 4018. Info lebih lanjut tentang Yayasan yang bergerak di bidang sosial ini bisa menghubungi di nomor contact person 0812 2477 4448. Sedikit harta yang Anda gunakan di jalan kebaikan, akan bermakna untuk orang-orang yang membutuhkan. (Izzah Safiera)

Back to Masjid

Di Indonesia mayoritas penduduknya beragama islam yang jika dipresentasikan mencapai angka 90 %. Dengan kondisi seperti ini otomatis di tiap kota, daerah, bahkan provinsi terdapat sebuah mesjid yang kadang pula dijadikan sebagai ikon mesjid besar dari kota atau provinsi tersebut. Jangankan di tiap kota, di tiap gang dan komplek pun mudah sekali ditemukannya sebuah bangunan mesjid. Namun, saya dengan banyaknya penduduk yang mayoritas beragama Islam dan tersedianya fasilitas mesjid dengan mudah malah menyurutkan semangat para warga untuk datang ke mesjid tersebut. Dengan kata lain, mesjid yang ada saat ini seperti rumah yang jarang dikunjungi penghuninya. Melihat fenomena seperti ini tentunya banyak alim ulama, tokoh masyarakat, atau bahkan sebagain pemuda-pemuda sekitar yang saat ini sudah bergerilya untuk memakmurkan mesjid sendiri. Lalu langkah seperti apakah yang bisa mereka lakukan agar warganya bisa “Back to Mesjid”? Berikut pemapaannya!

Apa itu Mesjid?

Pertanyaan di sub judul di atas pastinya akan membuat Anda heran dan mungkin juga mengernyitkan dahi. Mesjid bagi penduduk di Indonesia bahkan dunia yang memeluk agama Islam adalah rumah Ibadah untuk umat Islam. Namun, dibalik pernyataan itu tersimpan sebuah makna dan juga dalil lain yang mungkin saja sampai hari ini segelintir orang belum mengetahui mengapa harus pergi ke mesjid? Apakah keuntungannya bila berada di mesjid? Dan pertanyaan lainnya yang tersembunyi namun gengsi untuk diungkapkan.

Pengertian mesjid secara terminologis sendiri adalah tempat ibadahnya ummat islam. Tentu saja ibadah yang dimaksud adalah meneggakkan dan melaksanakan shalat secara berjamaah. Nama kata lain mesjid sering pula diucapkan dengan rumah Allah atau Baitullah.

Allah Berfirman dalam surat At Taubah ayat 108:

Hanyalah yang memakmurkan Masjid-Masjid Allah ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian, serta tetap mendirikan shalat, menunaikan zakat dan tidak takut (kepada siapapun) selain kepada Allah, maka merekalah orang-orang yang diharapkan termasuk golongan orang-orang yang mendapat petunjuk. (QS 9:18, At Taubah)

Ayat tersebut turun ketika Rasulullah SAW bersama sahabatnya Abu Bakar melewati daerah Quba kemudian rasulullah mendirikan mesjid pertama semasa kenabiannya dan masjid tersebut diberi nama Mesjid Quba. Setelah Rasulullah kembali ke Madinah pun beliau mendirikan Mesjid Nabawi yang sampai hari ini pun mesjid tersebut tak pernah sepi dari jamaah yang ingin datang ke tempat tersebut.

Perkara memakmurkan mesjid sekiranya sudah dicontohkan Rasulullah SAW. Di mesjid yang dibangun tersebut Rasul menyerukan pada sahabat-sahabtanya untuk senantiasa shalat berjamaah, sebagai pusat dakwah, pusat kaderisasi, mengadakan majelis dan kajian ilmu lainnya.

Rasulullah SAW sedari dulu sudah mengajarkan ummatnya untuk memakmurkan mesjid. Siapapun dalam keadaan bagaimana pun mesjid harus tetapi dimakmurkan. Seperti dalam hadits berikut ini.

“Ya Rasulullah adakah rukshah (keringanan) bagi saya untuk tidak melakukan shalat jamaah di masjid.” Rasul menjawab: “Apakah engkau masih mendengar azan?” Umi Maktum menjawab: “Masih.” “Maka wajib bagimu untuk mendatangi masjid itu,”

Hadits di atas adalah percakapan antara Rasulullah SAW dengan Umi Maktum sahabatnya yang buta. Hal ini menandakan bagaimanapun kondisi Anda, tetaplah memakmurkan mesjid adalah sebuah keharusan.

Tips Memakmurkan Mesjid

Untuk bisa membuat mesjid “lebih hidup” kembali tentunya harus memiliki struktur serta startegi terbaik. Hal ini sah-sah saja dilakukan karena memang tujuannya untuk memakmurkan mesjid dan merupakan visi untuk mewujudkan kebaikan dunia akhirat. Adapun cara dan tips untuk memakmurkan mesjid agar orang bisa “back to mesjid” adalah sebagai berikut:

  • Adakah pelatihan manajemen mesjid

Boleh jadi tak terurusnya mesjid ini karena memang manejemen mesjidnya yang kurang baik. Pengurus mesjid atau pun tokoh masyarakt sekitar bisa mengundag para pakar yang mengerti dalam hal manajemen. Setidaknya dengan mengetahui dasar-dasar manajemn maka kan berpengaruh pada struktur organisasi mesjid itu sendiri.

  • Libatkan Pemuda untuk Memakmurkan Mesjid

Pemuda adalah sebagai generasi penerus untuk nanti mereka bisa memakmurkan mesjid. Dengan melibatkan pemuda pun secara tidak langsung mekader sebuah generasi yang baik dan juga positif serta terhindar dari kerusakan moral dan hal yang negatif yang dilakukan oleh pemuda.

  • Buat Kajian, Majelis Talim, dan kegiatan lainnya

Setelah manajemn mesjid terbentuk dan struktur organisasi rapih untuk dibuat maka tugas berikutnya para pengurus mesjid membuat sebuah kegiatan yang emmang positif dengan sasaran yang sesuai usia untuk anak-anak, remaja, ibu-ibu, maupun bapak-bapak.

“Barang siapa yang membangun rumah Allah (masjid) di dunia, maka Allah akan membangunkannya rumah di surga.” (HR.Muslim) Kata membangun di atas bukan saja merujuk pada arti sebenarnya. Kata tersebut berarti pula pada kata memakmurkan mesjid. Jadi, tak inginkah “back to mesjid” dan mendapatkan balasan yang terbaik dari Allah SWT?

Infakan dan sedekahkan harta yang kita miliki melalui Yayasan Harapan Amal Mulia di nomor rekening Bank Syariah Mandiri 2017.00. 4018. Info lebih lanjut tentang Yayasan yang bergerak di bidang sosial ini bisa menghubungi di nomor contact person 0812 2477 4448. Sedikit harta yang Anda gunakan di jalan kebaikan, akan bermakan untuk orang-orang yang membutuhkan. (Izzah Safiera)