Tag: yatim dhuafa

Tag: yatim dhuafa

Rumah Tahfiz Gratis Hadirkan Layanan Terbaik Bagi Santri Dhuafa

|”Mushaf Al Qur’an sudah punya, versi aplikasi sudah terinstal di gawai, tapi masih suka malas baca Al Qur’an? Padalah di belahan bumi lainnya, ada adik-adik kita yang bersemangat menghafal Al Qur’an namun terkendala banyak hal”

 

Harapanamalmulia.orgDengan kemajuan teknologi yang semakin canggih, ketinggalan membawa mushaf Al Qur’an seharusnya bukan halangan untuk tidak bisa tilawah. Namun rasa malas kerap kali datang menghampiri. Padahal di belahan bumi lainnya banyak anak –anak yatim dhuafa yang memimpikan dapat memiliki mushaf Al Qur’an untuk menghafal tiap ayat-ayat suci-Nya.

Beranjak dari simpati melihat anak-anak yatim dan dhuafa yang memiliki potensi besar namun terkendala keterbatasan, Harapan Amal Mulia mencetuskan sebuah program bernama Rumah Tahfiz Nusantara

 

Lewat Program Rumah Tahfiz, Yatim Dhuafa Penghafal  Qur’an Dapat Terfasilitasi

Rumah Tahfiz Nusantara menghadirkan ragam program bantuan berupa sarana dan fasilitas untuk memudahkan proses hafalan Qur’an di berbagai pesantren, madrasah, dan rumah tahfiz yang membutuhkan di seluruh Nusantara. Sasaran dari program ini adalah untuk membantu memfasilitasi anak-anak yatim dan dhuafa agar dapat mewujudkan mimpinya menjadi seorang penghafal Al Qur’an.

(Keterangan: Proses menyetorkan hafalan di Ma’had Tahfiz dan Ilmu Qur’an Bunyanun Marshush/foto: Harapan Amal Mulia)

Selain memberdayakan dari sisi individu, program Rumah Tahfiz Nusantara ini juga turut membantu rumah-rumah Qur’an di berbagai wilayah Indonesia agar mampu menghadirkan fasilitas terbaik bagi para penghafal Al Qur’an.

Baca Juga: Bantu Rumah Tahfiz Qur’an Yatim Dhuafa di Nusantara

 

Bunyanun Marshush, Rumah Tahfiz Gratis Untuk Anak-anak Dhuafa

Program Rumah Tahfiz Nusantara dalam membantu memfasilitasi anak-anak yatim dhuafa untuk menghafal Al Qur’an, ternyata memiliki visi yang sama dengan Ma’had Tahfiz dan Ilmu Qur’an Bunyanun Marshush.

(Keterangan: Ustaz Gaos Abdul Hamid, pendiri Ma’had Tahfiz dan Ilmu Qur’an Bunyanun Marshush/ foto: Harapan Amal Mulia )

Ma’had Tahfiz dan Ilmu Al-Qur’an  yang didirikan oleh Ustaz Gaos Abdul Hamid ini, sejak didirikannya pada tahun 2018, memiliki tujuan sebagai sarana untuk menciptakan generasi-generasi penghafal Al Qur’an yang mampu menghafal secara mutqin (benar dan kuat).

Dengan metode tersebut, santri-santri mukim Bunyanun Marshush  yang beralamat di Jl. Ciguruwik Komp. Griya Cinunuk Indah Bandung ini mampu menghafal 2 juz Al-Qur’an perbulan, dan dalam waktu tiga tahun diproyeksikan untuk dapat hafal 30 juz secara mutqin.

Komitmen Ustaz Gaos dan istri untuk membina santri dhuafa begitu serius. Meski bangunan rumah tahfiz ini masih berstatus sewa, para santri Bunyanun Marshush yang datang dari berbagai daerah ini tidak dibebankan biaya sepeserpun. Hanya kebaikan para dermawanlah yang menjadi andalan mereka untuk memenuhi kebutuhan operasional sehari-hari di asrama.⁣

 

Bantu Rumah Tahfiz Yatim Dhuafa Hadirkan Layanan Terbaik

(Keterangan: Ustaz Gaos (keempat dari kiri) bersama seluruh santri Ma’had Tahfiz dan Ilmu Qur’an Bunyanun Marshush/foto:Harapan Amal Mulia)

Sepenggal kisah Ma’had Tahfiz dan Ilmu Qur’an Bunyanun Marshush hanya salah satu dari sekian banyaknya kisah serupa di Nusantara. Kebaikan Sahabat Amal dan para dermawan lainnya akan sangat berarti dalam membantu menghasilkan generasi-generasi santri penghafal Al-Qur’an di Ma’had Tahfiz dan Ilmu Qur’an Bunyanun Marshush serta di tempat lainnya.

Bersama Harapan Amal Mulia, mari kita bantu program Rumah Tahfiz Nusantara agar kebermanfaatan program ini semakin dirasakan masyarakat luas. (itari/harapanamalmulia)

 

Sahabat Amal Mulia, dapat turut menyalurkan dukungan dengan memberikan donasi terbaik melalui pilihan rekening donasi di bawah ini:

BCA 0083 6858 72
Mandiri 132 003 321 2342
BSM 717 313 414 7
a.n. Yayasan Harapan Amal Mulia

Untuk informasi lebih lanjut dapat menghubungi nomor : 081 1234 1400 (SMS/Whatsapp)

Mulia dengan Amal Terbaik

 

 

Berbagi Makanan Bergizi Untuk Santri Yatim-Dhuafa

“Masih ingat kisah menu makan sederhana di Pesantren Nurul Masakin Sumedang? Berkat bantuan Sahabat, Alhamdulillah, kini sedekah makanan bergizi telah tersampaikan”

 

Harapanamalmulia.orgDengan bermodal uang Rp 40.000 setiap harinya, belasan santri yatim dan dhuafa di Pesantren Nurul Masakin, Sumedang harus berbagi porsi makan setiap pagi dan sore dengan menu sederhana. Terbatasnya jatah uang belanja yang diberikan membuat menu yang disajikan itu-itu saja.

Tahu menjadi menu andalan karena selain harganya murah, pedagang pasar kerap kali memberikan bahan masakan olahan itu sebagai sedekah yatim dhuafa. Soal gizi adalah nomor kedua, sebab yang pertama adalah tentang mensyukuri setiap makanan yang ada.

 

Ikhtiar Bersama Hadirkan Sajian Menu Penuh Gizi

Harapan Amal Mulia terus berupaya untuk membantu memenuhi kebutuhan gizi santri yatim dan dhuafa sebagai bagian dari komitmen bersama Sahabat Amal. Dengan dorongan semangat tersebut Harapan Amal Mulia menghimpun donasi untuk membantu memperbaiki gizi para santri.

(Keterangan: Kebersamaan makan bersama santri yatim dhuafa Pesantren Nurul Masakin/foto: Harapan Amal Mulia)

 

Alhamduillah berkat kepercayaan donatur, tim Harapan Amal Mulia telah berhasil menyalurkan sedekah makanan bergizi untuk santri yatim dan dhuafa penerima manfaat di Pesantren Nurul Masakin, Sumedang.

Sajian menu hewani berprotein tinggi, kalsium yang diperoleh dari susu, buah-buahan sebagai suplai vitamin, serta tidak lupa karbohidat dari nasi menjadi asupan seimbang untuk memenuhi kebutuhan para santri untuk menunjang proses pertumbuhan dan perkembangan mereka.

(Keterangan: Sebentuk raut bahagia Fina (ketiga dari kiri) beserta santri Pesantren Nurul Masakin lainnya saat menyantap hidangan/foto: Harapan Amal Mulia)

 

Raut wajah sumringah terlihat dari para santri yang sudah begitu lama tidak merasakan makanan yang enak nan bergizi tinggi. Fina (11 tahun) yang merupakan santri Pesantren Nurul Masakin mengungkapkan rasa bahagianya. Dirinya yang terbiasa menyantap mie dan olahan telur di Pesantren, terheran-heran melihat nasi ‘dihias’ dengan lauk yang beragam dengan rasa yang tak kalah memanjakan lidah.

“Terakhir minum susu 2 tahun yang lalu, buah-buahan dan daging juga jarang dikonsumsi. Terakhir makan 5 bulan yang lalu.”, ujar Fina dengan senyum lebar terpancar.

Fina juga mengungkapkan harapannya ingin bisa memperoleh makanan yang bergizi setiap hari, agar dapat menjadi siswa yang pintar.

Baca juga: Menu Makan Sederhana Di Pesantren Yatim Dhuafa

 

Bersama Harapan Amal Mulia, Mari Penuhi Gizi Santri Di Pelosok Negeri

(Keterangan: Santri memanjatkan doa terlebih dahulu sebelum menyantap makanan /foto: Harapan Amal Mulia)

 

Kondisi keterbatasan gizi yang dialami para santri yatim dan dhuafa Pesantren Nurul Masakin sejatinya hanyalah salah satu potret dari sekian banyak kisah dengan kondisi yang hampir serupa. Oleh karenanya, mari bersama Harapan Amal Mulia, kita bergandengan tangan untuk membantu hadirkan sajian makanan penuh gizi kepada para santri yatim dan dhuafa di pelosok negeri lainnya. (itari/harapanamalmulia)

 

Sahabat Amal Mulia, dapat turut mendukung Program Food For Yatim dengan memberikan donasi terbaik melalui pilihan rekening donasi di bawah ini:

BCA 0083 6858 72
Mandiri 132 003 321 2342
BSM 717 313 414 7
a.n. Yayasan Harapan Amal Mulia

Sahabat Amal Mulia juga dapat berpartisipasi melalui: kitabisa.com/food4yatim

Untuk informasi lebih lanjut dapat menghubungi nomor : 081 1234 1400 (SMS/Whatsapp)

Mulia dengan Amal Terbaik

 

 

Patungan Peralatan Sekolah untuk Yatim Dhuafa

Tanpa kita sadari, ada ratusan anak yatim dhuafa di Indonesia yang tak mampu membeli peralatan sekolah akibat keterbatasan finansial keluarga.

 

harapanamalmulia.orgDengan jatah uang lima ribu rupiah sehari, Deva Saputra (11 tahun) sudah bisa mengatur agar bekalnya itu cukup untuk sarapan, beli makan di sekolah, hingga bekal mengaji sampai sore. Namun, tidak pernah cukup untuk membeli peralatan sekolah yang baru. 

Orang yang memberi uang jajan tersebut adalah Nek Imih (66 tahun), neneknya yang merupakan tukang kebun dan kerap kali Deva panggil dengan julukan “mamah”.

Deva dan Nenek Imih (Dok, Harapan Amal Mulia)

Sebentuk cinta Deva untuk neneknya selalu ia tunjukkan dengan cara yang sederhana. Deva rutin membantu neneknya mengangkat air untuk mandi setiap pagi, serta membantu pekerjaan lainnya di rumah.

 

Baca juga: Perjuangan Anak Penjual Gorengan untuk Bantu Kebutuhan Harian

 

Sampai detik ini, hanya Nek Imih yang menanggung biaya sekolah Deva. Upah 30.000 sehari sebagai imbalan Nek Imih dari hasil membersihkan rumput liar di kebun teh kaki Gunung Mandalawangi – Bandung, kerap kali dibayarkan tak tepat waktu. Padahal, upah tersebut digunakan untuk kebutuhan sehari-hari, termasuk keperluan sekolah Deva.

 

Meski hidup bersama nenek dalam keterbatasan, Deva selalu berusaha untuk menunjukkan bakti kepada Nek Imih lewat semangatnya meraih cita-cita besarnya di masa depan.

Aktivitas Deva di madrasah (Dok, Harapan Amal Mulia)

Kebersamaan Deva dan Nenek di rumah (Dok, Harapan Amal Mulia)

Deva hanyalah satu di antara ratusan yatim-dhuafa lainnya yang memerlukan uluran tangan kita untuk memenuhi keperluan sekolah.

 

Kalau ada rezeki lebih, anak-anak yatim dhuafa seperti Deva berharap bisa membeli peralatan sekolahnya sendiri agar tetap semangat meraih cita-citanya di masa depan.

Untuk itu, melalui program Paket Harapan Yatim Dhuafa dari Yayasan Harapan Amal Mulia, kami ajak kamu untuk ikut patungan alat sekolah bagi ratusan anak yatim dhuafa di berbagai wilayah Indonesia.

Kamu bisa ikut patungan cengan cara:

Transfer ke Rekening Donasi di bawah ini:

BCA 0083 6858 72
Mandiri 132 003 321 2342
BSM 717 313 414 7
a.n. Yayasan Harapan Amal Mulia

Atau juga bisa melalui tautan Kitabisa: kitabisa.com/harapanyatim

Informasi lebih lanjut, bisa menghubungi : 081 1234 1400 (SMS/Whatsapp)

Muliakan Anak Yatim, Tumbuhkan Kekayaan Jiwa

”Sebagai mahluk sosial, manusia tidak bisa melepaskan diri dari ketergantungan terhadap manusia lainnya. Jalinan hubungan sosial menjadi sebuah keniscayaan yang tidak dapat dihindarkan. Begitupun interaksi dengan anak yatim dan dhuafa sebagai suatu entitas masyarakat, seharusnya semakin erat terjalin atas nama kemanusiaan”

 

Harapanamalmulia.orgSebagaimana sabda Nabi Muhammad SAW, bahwasanya barang siapa yang memuliakan anak yatim, maka kelak dirinya akan menjadi tetangga beliau di Surga, sebagaimana dekatnya antara jari telunjuk dan jari tengah, beliau mencontohkan.

Siapa yang tidak mau bertetangga dengan manusia paling mulia yang pernah ada? Tentunya semua orang menginginkannya. Oleh karena itu, mari kita berikhtiar untuk terus memuliakan anak yatim dan dhuafa dengan cara yang kita bisa, karena keutamaan yang begitu besar dilengkapi ganjaran pahala yang luar biasa.

Simak penjelasan mengenai kebaikan yang didapatkan bagi orang yang memuliakan anak yatim dan dhuafa, di laman Harapan Amal Mulia berikut ini.

 

Menumbuhkan Kekayaan Jiwa

(Keterangan: Salah satu program pembinaan untuk anak yatim dan  dhuafa dari Harapan Amal Mulia/foto:Harapan Amal Mulia)

Perlu kelapangan hati untuk dapat berbagi kepada orang lain dalam hal apapun, mengingat pada dasarnya manusia punya rasa memiliki yang begitu besar. Namun Allah mencipta manusia telah satu paket dengan segala potensinya. Termasuk potensi yang baik dan juga potensi untuk berbuat buruk.

Patut kita syukuri bersama, kita semua telah punya pedoman hidup yang dapat dijadikan acuan sejak empat belas abad lamanya, yakni Al Qur’an dan Sunah yang telah dicontohkan oleh Nabi Muhammad SAW.

Menolong anak yatim dan dhuafa adalah salah satu bentuk ibadah berpahala luar biasa yang tersurat dalam Al Qur’an dan jelas telah dicontohkan sang banginda Nabi. Selain mendapatkan tabungan pahala yang begitu dahsyat, amalan ini dapat menjadi salah satu jalan untuk menambah kekayaan jiwa, kelapangan hati, serta menjadikan pribadi semakin mawas diri terhadap keadaan sekitar yang membutuhkan uluran tangan. Perintah untuk berbagi dengan anak yatim ini juga tersurat dengan begitu jelas di dalam Qs: Al Baqarah: 177

“Kebajikan itu bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan ke arah barat, tetapi kebajikan itu ialah (kebajikan) orang yang beriman kepada Allah, hari Akhir, malaikat-malaikat, kitab-kitab, dan nabi-nabi dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabat, anak yatim, orang-orang miskin, orang-orang yang dalam perjalanan (musafir), peminta-minta, dan untuk memerdekakan hamba sahaya, yang melaksanakan salat dan menunaikan zakat, orang-orang yang menepati janji apabila berjanji, dan orang yang sabar dalam kemelaratan, penderitaan dan pada masa peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar, dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa” (Qs: Al Baqarah:177)

Dengan sering berbagi bersama anak yatim dan dhuafa serta lebih membuka mata pada lingkungan sekitar, akan melatih kekayaan dalam jiwa kita untuk senantiasa tidak mencintai harta yang dipunya dengan berlebih-lebihan. Belajar untuk semakin lapang dalam tolong menolong dan membantu sesama yang sedang membutuhkan.

 

Baca Juga: Terlahir Sebagai Yatim, Bagaimana Perjuangan Rasulullah Sewaktu Kecil?

 

Meningkatkan Kasih Sayang Allah SWT Kepada HambaNya

(Keterangan: Salah satu potret bahagia anak yatim dan dhuafa yang dikelola oleh Harapan Amal Mulia bekerja sama dengan donatur /foto:Harapan Amal Mulia)

Keutamaan memuliakan anak yatim dan dhuafa seakan tidak akan ada habisnya untuk dikupas.Sebagaimana Rasulullah SAW bersabda: “Orang-orang yang pengasih, akan dikasihi oleh Ar Rahman (Yang Maha Pengasih) tabaaroka wa ta’ala. Kasihilah siapa yang ada di bumi, niscaya engkau akan dikasihi oleh yang ada di langit” (HR. Abu Dawud, Tirmidzi, dan lain lain. As-Silsilatu shohihah:925)

Sejatinya apabila manusia menanam kebaikan niscaya akan berbuah kebaikan, pun sebaliknya. Sama halnya dengan menyayangi anak-anak yatim dan dhuafa, kelak akan mendatangkan kebaikan dari sisi yang lainnya.

Semoga kita senantiasa dapat mengamalkan setiap perintah kebaikan untuk memuliakan anak yatim dan dhuafa, tidak untuk mengharap pahala semata, namun sebagai jalan ikhtiar untuk mendapatkan ridhoNya.(itari/harapanamalmulia)

(Sumber: Slide Share)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Meningkatkan Kasih Sayang Allah SWT Kepada HambaNya

(Keterangan: Salah satu potret bahagia anak yatim dan dhuafa yang dikelola oleh Harapan Amal Mulia bekerja sama dengan donatur /foto:Harapan Amal Mulia)

 

Keutamaan memuliakan anak yatim dan dhuafa seakan tidak akan ada habisnya untuk dikupas.Sebagaimana Rasulullah SAW bersabda: “Orang-orang yang pengasih, akan dikasihi oleh Ar Rahman (Yang Maha Pengasih) tabaaroka wa ta’ala. Kasihilah siapa yang ada di bumi, niscaya engkau akan dikasihi oleh yang ada di langit” (HR. Abu Dawud, Tirmidzi, dan lain lain. As-Silsilatu shohihah:925)

Sejatinya apabila manusia menanam kebaikan niscaya akan berbuah kebaikan, pun sebaliknya. Sama halnya dengan menyayangi anak-anak yatim dan dhuafa, kelak akan mendatangkan kebaikan dari sisi yang lainnya.

Semoga kita senantiasa dapat mengamalkan setiap perintah kebaikan untuk memuliakan anak yatim dan dhuafa, tidak untuk mengharap pahala semata, namun sebagai jalan ikhtiar untuk mendapatkan ridhoNya.(itari/harapanamalmulia)

(Sumber: Slide Share)

Menu Makan Sederhana di Pesantren Yatim-Dhuafa

“Nikmatnya hidup menjadi santri. Sudah dilatih jadi mandiri, di didik pula untuk banyak bersyukur atas segala hal yang dimiliki, termasuk makanan sederhana yang disantap setiap hari”

harapanamalmulia.orgPernah membayangkan apa saja menu makan harian anak-anak pesantren? Kalau di pesantren besar, makanan-makanannya mungkin lebih banyak varian, enak dan terjamin nilai gizinya. Lalu bagaimana dengan pesantren-pesantren yatim dhuafa? Tentu lain lagi ceritanya, sebab menu makanan yang sederhana adalah santapan kesehariannya.

Pesantren Nurul Masakin adalah salah satunya. Santri-santri  di pesantren yatim dan dhuafa ini terbiasa makan alakadarnya, soal gizi adalah nomor dua bagi mereka, sebab menyantap makanan hari ini adalah bentuk kesyukuran kepada Allah SWT.

Simak sajian kisah perjuangan Pesantren Nurul Masakin yang mengetuk hati oleh Harapan Amal Mulia berikut ini.

 

Belajar Dari Pengalaman Pahit, Pesantren Nurul Masakin Lahir.

(Keterangan: Potret Ibu Ibad /foto:Harapan Amal Mulia)

Menjadi yatim sejak berusia 7 tahun telah memberikan banyak pelajaran hidup yang besar bagi Ibu Ibad Badriah, sang pelopor pesantren Nurul Masakin. Beliau dapat memahami betul pahit manis yang dirasakan saat menjadi seorang anak yatim dan dhuafa. Berbekal pengalaman tersebut, serta atas kegigihannya menjalani kehidupan selama ini, Ibu Ibad beserta Pak Aripin Jaenal Mustopa terketuk hatinya untuk membuat yayasan yang dapat menaungi anak yatim dan dhuafa yang berada di lingkungan sekitar rumahnya.

Lambat laun, Pesantren Nurul Masakin itu kini telah menjelma menjadi semakin besar dan telah memiliki 70 orang anak yatim dhuafa yang menjadi binaan. Jumlah ini tentu sangat memungkinkan untuk terus bertambah seiring dengan bertambahnya juga kepercayaan masyarakat  terhadap Nurul Masakin.

 

Dapatkan Informasi Lainnya: Bu Ibad, Guru Agama Yang Dicintai Anak Yatim Dhuafa

 

Melawan Keterbatasan, Santri Memilih Untuk Berdikari

(Keterangan: Ai Siti dan Umay, santri Nurul Masakin yang bertugas mengelola kebutuhan makan santri sehari-hari/foto:Harapan Amal Mulia)

Bertambahnya santri tentu menambah biaya operasional pesantren sehari-hari. Dengan dana yang tebatas Rp 40.000 setiap harinya, para santri harus pintar mengatur uang yang keluar untuk operasional makan pagi dan sore 18 orang santri. Hingga sajian makanan dengan menu sederhana pun sudah tidak asing lagi. Beruntungnya ketika berbelanja ke pasar, ada saja pedagang yang bersimpati dengan memberikan bahan makanan olahan seperti tahu sebagai tambahan.

Tahu hasil sedekah yatim dhuafa itu menjadi bahan makanan andalan. “Saking seringnya menjadi menu, ada yang komplen menunya tahu lagi, tahu lagi” ujar Sumi, santri yang menjadi juru masak setiap hari. Meski begitu, mereka tetap bersyukur karena tidak mau membebani pembina pesantren.

Keterbatasan tersebut tidak lantas menjadikan para santri dan pengurus mengangkat bendera putih tanda perjuangan ingin disudahi. Justru ini adalah momentum yang dimanfaatkan para santri untuk belajar berdikari dengan melakukan segala upaya yang mereka bisa untuk menyambung hidup esok hari. Maka tak jarang akan sahabat jumpai santri yang nyambi pekerjaan setengah hari.

(Keterangan: Santri Nurul Masakin tengah menyantap sajian makanan/foto:Harapan Amal Mulia)

Ibu Ibad beserta pengurus lainnya memiliki harapan besar bahwa suatu hari nanti pesantren ini menjadi semakin besar agar mampu meluaskan manfaat seluas-luasnya. Segala ikhtiar dilakukan agar para santri yatim dhuafa tetap ternaungi baik secara jasmani, ruhani dan juga kebutuhan gizi.

 

Bersama Harapan Amal Mulia, Bantu Penuhi Gizi Santri

Kisah Pesantren Nurul Masakin adalah salah satu dari banyaknya potret perjuangan pengurus pesantren dan para santri di Indonesia yang terus berjuang dalam keterbatasan, namun tidak menjadikannya sebuah halangan.

Bersama Harapan Amal Mulia, mari kita bantu perjuangan para santri lewat program Food For Yatim, sebagai bentuk ikhtiar untuk memenuhi kebutuhan gizi para santri.

(itari/harapanamalmulia)

 

Sahabat Amal Mulia, dapat turut mendukung Program Food For Yatim dengan memberikan donasi terbaik melalui pilihan rekening donasi di bawah ini:

BCA 0083 6858 72
Mandiri 132 003 321 2342
BSM 717 313 414 7
a.n. Yayasan Harapan Amal Mulia

Sahabat Amal Mulia juga dapat berpartisipasi melalui: kitabisa.com/food4yatim

Untuk informasi lebih lanjut dapat menghubungi nomor : 081 1234 1400 (SMS/Whatsapp)

Mulia dengan Amal Terbaik